Pages

Sabtu, 16 Mei 2009

Untuk Apa Menjadi Tua?

Sabtu, 16 Mei 2009
Negara kita menjadi negara dengan penduduk tua terbesar keempat di dunia. Penduduk tua yang dimaksud adalah penduduk yang berusia diatas 60 tahun. Sebenarnya ini menjadi kabar yang harus diterima dengan gembira karena pada umumnya, jumlah penduduk berusia tua menandakan tingkat harapan hidupnya suatu negara tinggi. Artinya, usia penduduk relatif lebih panjang.

Namun, banyaknya penduduk usia tua juga dinilai rentan terhadap masalah-masalah sosial. Salah satunya karena mereka bukan lagi termasuk kelompok penduduk yang produktif. Karena itu, mereka berpotensi tidak mendapatkan kualitas hidup yang layak. Untuk bisa bertahan hidup, sebagian besar tergantung pada orang lain.

Kenyataan demikian menimbulkan pertanyaan, mengapa manusia mempunyai takdir menjadi tua jika memang tak mempunyai kontribusi (bermanfaat) dalam kehidupan masyarakat dan justru menjadi beban?

Dalam sebuah talkshow, Gede Prama mengatakan, ada dua macam ilmu yang berbeda yang seharusnya dikejar oleh dua kelompok penduduk, muda dan tua. Bagi kelompok muda, ilmu yang dikejar adalah ilmu yang bermanfaat untuk menunjang hidupnya. Keahlian mereka diperlukan untuk mengolah sumber daya alam sehingga bisa dimanfaatkan misalnya untuk makan, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya.

Namun seiring dengan bertambahnya usia, menuju kelompok usia tua, manusia harus mulai mengejar ilmu kebijaksanaan sehingga saat masanya nanti ia menjadi orang yang selalu memberi petuah, menjaga keseimbangan hidup, dan menjadi panutan bagi yang muda. Ilmu ini yang berperan sebagai pemberi arah karena berisi ajaran moral, etika dan agama.

Kedua ilmu itu sangat bermanfaat dalam membangun masyarakat. Tak mungkin masyarakat bisa berkembang tanpa ada kelompok yang mengolah sumber daya alamnya dan tak kan seimbang jika masyarakat mengabaikan ilmu tentang kebijaksanaan.

Jika konsep ini bisa dipahami, mungkin tak ada lagi peminggiran terhadap penduduk usia tua. Memang secara fisik mereka perlu untuk dibantu, namun bantuan yang diberikan menjadi hak mereka karena mereka pun mempunyai kontribusi yang tak bisa disebut kecil dalam membangun masyarakat atau keluarga.

Takdir menjadi tua bukanlah sesuatu yang harus dipandang sebelah mata sebagai beban, tetapi menjadi saat yang ditunggu karena dari orang tua akan mengalir petuah dan nasehat bijak yang sangat berguna. Seperti juga saat mendapat seorang anak. Kita bahagia punya seorang anak karena meraka menjadi tumpuan masa depan kita, sehingga dengan sepenuh hati kita merawatnya. Kita pun selayaknya begitu pada orang tua.<<

Gambar diolah dari http://www.jakartaphotoclub.com/

Rabu, 13 Mei 2009

Mengikis Kesenjangan

Rabu, 13 Mei 2009
Rumah Reyot Itu Kini Jadi Bagus

Saya sangat senang membaca berita di Kompas.com hari ini. Rumah Mulyadi, warga Kelurahan Cikaret, Bogor Selatan tak jadi roboh setelah di renovasi. Rumah Mulyadi terkena target operasi program Renovasi Rumah Tak Layak Huni yang diadakan Kelurahan dan Korem setempat.

Saya mengacungkan dua jempol tangan saya untuk Kelurahan dan Korem yang melaksanakan program itu. Inilah model aparat pemerintah yang ideal, peduli pada ketidakmampuan rakyatnya. Kabarnya program ini sudah dijalankan sejak 2005 yang lalu dan sudah 152 rumah yang direnovasi.

Meski sebagian besar dana renovasi berasal dari swadaya masyarakat, namun kecerdikan aparat kelurahan menyerap dana APBD dan APBN melalui PNPM adalah hal lain yang juga patut dipuji.

Kini Mulyadi dan warga Cikaret bisa hidup tenang di rumahnya yang baru tanpa ada rasa was-was rumahnya akan roboh. Tak terbayang di benak Mulyadi untuk merenovasi rumahnya dengan biaya sendiri. Jangankan untuk itu, untuk makan sehari-hari saja pas-pasan.

Akhirnya ketidakmampuan itu hilang dengan kepedulian masyarakat sekitar. Saya teringat waktu saya kecil. Bapak mengajak saya ikut cawe-cawe membangunkan rumah untuk tetangga saya yang pulang kampung. Puluhan tahun yang lalu, tetanggaku itu merantau ke Jakarta. Rupanya, waktu selama itu tak merubah nasibnya.

Kali ini ia pulang, tapi bingung mau tinggal dimana. Untuk sementara, ia tinggal  bersama adiknya. Tapi tak baik terus bergantung begitu. Adiknya itu sudah punya kehidupn sendiri, dan tak termasuk keluarga berpunya juga.

Setelah berembuk antar warga se-RT, dicapailah kesepakatan untuk membangunkan sebuah rumah untuknya. Tanahnya pinjam, bahan-bahannya sumbangan, dan tenaganya gotong royong seluruh warga. Jadilah sebuah rumah sederhana untuknya. Untuk hidup sehari-hari, ia menganyam bambu.

Begitulah. Dalam kehidupan ini pasti ada orang-orang yang mampu dan tak mampu. Perbedaan keduanya bisa menjadi masalah yang serius jika sudah terjadi kesenjangan, ada perbedaannya yang terlalu besar antar keduanya. Disitulah masing-masing dituntut untuk melaksanakan perannya masing-masing agar kesenjangan itu bisa diatasi.

Bagi yang mampu, celingak-celinguk melihat lingkungan sekitarnya, adakah saudaranya yang tak mampu? Kalau ada, segera dibantu. Bagi yang tak mampu bukan lantas meratapi nasib sambil menunggu belas kasih dari saudaranya yang mampu. Seperti Mulyadi yang menjadi tukang parkir, mereka tetap harus berusaha mengatasi ketidakmampuannya, malu kalau harus meminta-minta

Gambar pinjam dari http://www.boudewynvanoort.com/

Selasa, 12 Mei 2009

ISBN, Teknologi, dan Pelayanan

Selasa, 12 Mei 2009
Seorang kawan lama meminta bantuan mengurus ISBN di Perpustakaan Nasional. Saya langsung mengiyakan meski belum tahu bagaimana cara mengurusnya. Saya banyak berhutang budi pada kawan saya itu. Saat di Surabaya, dia banyak membantu saya. Dan juga, di kantorku sekarang ada divisi penerbitan yang sering mengurus ISBN. "Gampang, nanti bisa tanya-tanya," pikirku.

Bener, kata teman di divisi penerbitan, mengurus ISBN tidak rumit, asal syarat-syarat lengkap langsung bisa ditunggu hasilnya. Teman saya itu pun menjelaskan dengan detail rute menuju Perpustakaan Nasional. Maklum saya belum paham seluk-beluk Jakarta.

Beberapa hari kemudian, kawan saya dari Surabaya mengirim syarat-syarat yang diminta. Alhamdulillah, berbekal peta Jakarta di laptop, saya pun sudah mengerti rute jalan yang harus saya lewati.

Ternyata, setelah sampai di meja petugas ISBN, syarat yang dikirim kawan saya masih kurang. Halaman cover harus tercantum nama penerbit, cover yang dikirim belum ada nama penerbitnya. Kawan saya juga lupa mencantumkan halaman informasi buku di belakangan halaman cover. "Baik Pak, terima kasih, saya akan melengkapi persyaratan yang kurang," kata saya pada petugas.

Saya langsung menghubungi kawan saya, "Mas, bisa di email ke saya syarat-syarat yang kurang." Kawan saya menyanggupi. Sekarang, saya harus mencari warnet terdekat. Alhamdulillah, setelah berkeliling agak jauh, saya menemukan warnet yang bisa cek email sekaligus print.

OK, persyaratan sudah lengkap. Saya kembali ke ruang petugas ISBN. Tapi saya lupa, saat saya datang, ternyata sudah waktunya istirahat. Baiklah, saya akan menunggu, sekalian cari makan. Jam satu lebih sedikit, saya kembali lagi. Dan, tak lebih dari satu jam, ISBN pun jadi. "Terima kasih Pak," kata saya pada petugas.

Saya bersyukur hidup di jaman ketika teknologi informasi sudah berkembang demikian baik. Bisa dibayangkan kalau telepon selular dan internet belum semaju seperti sekarang ini. Perlu waktu beberapa hari untuk melengkapi syarat-syarat itu. Saya pun harus melobi manager saya untuk mendapat ijin keluar lagi. Wah  sangat merepotkan.

Satu lagi, saya juga bersyukur mendapatkan pelayanan yang sangat baik dari petugas Perpustakaan Nasional, khususnya di bagian ISBN. Ini yang menurut saya paling penting. Tak ada gunanya teknologi secanggih apapun ketika birokrasi masih tetap panjang dan berbelit. Apalagi jika harus ditambah dengan membayar pungutan segala. Sangat menyebalkan.

Pengalaman ini, menjadi catatan tersendiri bagi saya. Saat mengurus ISBN, sama sekali tak ada pungutan. Prosedur dan syarat-syaratnya sangat mudah. Petugasnya ramah dan informatif. Bahkan, petugas parkir dan satpam juga sangat membantu bagi pemula seperti saya ini.

Pengalaman saya ini pun menjadi bukti bahwa perilaku manusia masih tetap menjadi unsur yang utama untuk menciptkan kehidupan yang lebih baik. Teknologi, perangkat hukum, rambu-rambu, norma, agama dan sebagainya hanyalah pelengkap. Ketika manusia tidak mempunyai niat untuk merubah perilakunya untuk menjadi lebih baik, sehebat dan sebaik apapun perlengkapan itu tak ada gunanya, hanya sia-sia belaka.

Jumat, 01 Mei 2009

Perilaku Berkendara, Citra Pribadi Muslim

Jumat, 01 Mei 2009
Friday Readers, beberapa waktu yang lalu, ALiF menggelar jajak pendapat kecil mengenai lalu lintas Jakarta. Hasilnya, semua responden punya pendapat yang seragam, lalu lintas Jakarta sudah sedemikian macet dan semrawut, bahkan ada yang mengatakan kejam.

Memang, jika diamati, hampir tak ada jalan di Jakarta yang terbebas dari masalah-masalah tersebut [kemacetan dan kesemrawutan]. Apalagi di jam-jam sibuk, kendaraan sangat padat, hampir tak bisa bergerak. Inilah konsekuensi dari perkembangan kota besar seperti Jakarta.

Sebagai pusat bisnis dan pemerintahan yang terbesar di Indonesia, Jakarta menjadi tujuan utama para pencari kerja. Setiap tahun, selalu saja ada pendatang baru yang ingin ikut berebut lapangan kerja di Jakarta. Ada yang menetap menjadi penduduk Jakarta, ada juga yang tinggal di kota-kota sekitar Jakarta. Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi DKI Jakarta, jumlah penduduk Jakarta saat ini lebih dari 8,5 juta jiwa. Jumlah tersebut akan bertambah pada siang hari karena banyak orang yang masuk ke Jakarta untuk bekerja.

Aktivitas penduduk Jakarta yang tinggi, ditambah dengan pergerakan keluar masuknya penduduk dari kota-kota sekitar Jakarta, menyebabkan lalu lintas Jakarta menjadi sangat padat. Jalan-jalan tak pernah sepi dari lalu-lalang kendaraan. Jalan tol yang semula dimaksudkan sebagai jalan bebas hambatan, ternyata juga macet karena saking banyaknya pengguna jalan.

Masalah lalu lintas sepertinya akan terus dialami warga Jakarta. Beberapa studi mengatakan, kepadatan lalu lintas di Jakarta menunjukkan tren yang meningkat. Survei Arterial Road System Development Study [ARSDS] pada tahun 1985 mencatat, sebanyak 13 juta perjalanan [trip] dilakukan warga di Jakarta setiap hari. Pada tahun 2002 survei yang sama dilakukan oleh Study on Integrated Transportation Master Plan [SITRAMP]. Hasilnya, terjadi peningkatan 30 persen, menjadi 17 juta trip setiap hari.

Bagaimana dengan sekarang? Melihat dari pertumbuhan jumlah kendaraan di Jakarta yang mencapai angka 11 persen per tahun, sementara pertambahan infrastruktur jalan yang kurang dari 1 persen, jumlah trip sekarang akan lebih besar dari 17 juta per hari.

Tentu, apabila tak ada usaha untuk mengatasi masalah lalu lintas ini, Jakarta akan menghadapi masalah yang sangat besar di masa yang akan datang. Sebuah penelitian yang dilakukan Japan International Corporation Agency [JICA] dan The Institute for Transportaion and Development Policy [ITDP] menunjukkan gambaran itu. Jika tak ditemukan pemecahan masalah lalu lintas itu, maka lalu lintas Jakarta akan mati pada tahun 2014 nanti.

Perilaku Lalu Lintas yang Buruk
Kondisi lalu lintas Jakarta yang padat diperparah dengan perilaku yang buruk dari para pengguna jalan. Jajak pendapat ALiF di atas juga merekam perilaku buruk yang ditemui para responden saat berkendara di jalan. Cukup banyak perilaku buruk itu, antara lain: ugal-ugalan saat berkendara, berpindah jalur tanpa memberi tanda, berhenti mendadak, menggunakan jalur yang tak semestinya, berhenti di tempat yang terlarang, dan masih banyak lagi.

Banyaknya perilaku buruk yang diungkapkan responden tersebut, senada dengan data dari Kepolisian Daerah Metro Jaya. Selama tahun 2008, tercatat ada 272 ribu pelanggaran lalu lintas yang terjadi di Jakarta dan kota-kota di sekitarnya.

Angka tersebut sangat menguatirkan karena pelanggaran lalu lintas bisa berujung pada kecelakaan. Dari 272 ribu pelanggaran lalu lintas itu, tercatat sebanyak 5.898 pelanggaran mengakibatkan kecelakaan. Sebagian besar kecelakaan itu melibatkan sepeda motor. Akibatnya, lebih dari seribu orang meninggal dunia, 2.567 orang luka berat, dan hampir 5.000 orang luka ringan.

Benarkah, perilaku buruk berkendara berakibat pada kecelakaan lalu lintas? Yohannes Lulie dan John Tri Hatmoko membuktikannya. Mereka adalah staf pengajar Program Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dalam penelitiannya, kedua dosen tersebut menemukan bahwa kecelakaan lalu lintas banyak terjadi pada pengguna jalan yang masuk dalam kategori perilaku buruk. Jumlah kecelakaan lebih kecil pada kategori perilaku sedang, dan terkecil pada kategori perilaku baik.

Penelitian tersebut juga mengungkapkan tiga perilaku terburuk yang mengakibatkan kecelakaan lalu lintas terbanyak. Perilaku buruk tersebut adalah tak menjaga jarak dengan kendaraan di depannya, berkendara dengan ugal-ugalan, dan memacu kendaraan dengan kecepatan maksimum.

Citra Umat Muslim
Terkait dengan banyaknya perilaku buruk berlalu-lintas, kita sering mendapat sindiran. Indonesia, sebagai negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, termasuk ke dalam kelompok negara dengan perilaku berlalu-lintas yang buruk. Seolah-olah, predikat Muslim yang melekat pada sebagian besar penduduk Indonesia itu tak punya arti sedikit pun. Padahal, sangat sering kita mengatakan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, termasuk rahmat bagi pengguna jalan yang lain.

Memang, secara khusus, tak ada ajaran Islam yang mengatur bagaimana seorang Muslim berperilaku saat berkendara. Namun, ada prinsip-prinsip dasar dalam Islam yang apabila ditaati akan menimbulkan sikap dan perilaku yang baik dalam berlalu-lintas.

Termaktub dalam al-Qur’an nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya. Nasihat-nasihat itu pada hakikatnya juga nasihat untuk seluruh umat Islam. Salah satu nasihat itu adalah “Dan janganlah engkau memalingkan pipimu dari manusia dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” [QS Luqman [31]: 18].

Perilaku ugal-ugalan saat berkendara merupakan salah satu bentuk kesombongan dan sikap tak acuh terhadap pengguna jalan yang lain. Memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi dengan tujuan agar cepat sampai ke tujuan adalah sikap mementingkan diri sendiri. Tak peduli apakah dengan perilakunya itu ia mendatangkan celaka bagi orang lain, bahkan dirinya sendiri. Perilaku-perilaku tersebut tak sesuai dengan semangat yang disampaikan dalam Surah Luqman di atas.

Padatnya lalu lintas di jalan raya menuntut pengguna jalan untuk sabar dan menaati rambu-rambu yang ada. Sabar dan tak tergesa-gesa merupakan sifat mulia yang diajarkan Rasulullah Saw. Beliau bersabda, “Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa” [HR. Bukhari dalam al-Adabul al-Mufrad no. 586. Syekh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih].

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya aku diutus ke dunia hanyalah untuk menyempurnakan akhlak” [HR. Ahmad]. Akhlak yang sempurna mencerminkan tingginya moral dan nilai-nilai kemanusiaan, termasuk di dalamnya menghormati, menyayangi, dan menghargai orang lain, tak menindas yang lemah, mendahulukan yang lebih berkepentingan, serta berlaku sopan santun. Kekerasan, kesombongan, ketidaktertiban, ugal-ugalan, dan kezaliman, berlawanan dengan akhlak yang sempurna itu.

Friday Readers, mari kita tunjukkan bahwa sebagai seorang Muslim, kita memiliki akhlak yang baik dan sempurna. Salah satunya dengan berperilaku yang baik dan santun ketika berkendara di jalan. Semoga bermanfaat . « [imam]

-------------------------------------------------------------------
ALiF Edisi 22 : Belantara Lalu Lintas
-------------------------------------------------------------------

Kamis, 16 April 2009

Manusia Pemelihara Alam

Kamis, 16 April 2009
Salah satu penentu keberlangsungan hidup manusia di masa yang akan datang adalah persoalan lingkungan. Baik atau tidaknya kehidupan manusia, bahkan ada atau tidaknya manusia, tergantung dari bagaimana manusia bisa memecahkan masalah kerusakan lingkungan yang kian hari kian parah.

Saat ini isu kehidupan manusia yang semakin sulit karena kerusakan lingkungan bukan lagi diucapkan dengan kata ’seandainya’. Namun sudah dalam tahap menunggu, kapan dan seberapa besar bencana lingkungan itu akan terjadi. Para ahli menghitung, temperatur permukaan bumi mengalami peningkatan yang cukup signifikan selama satu abad yang lalu dan rata-rata peningkatan terbesar terjadi dalam duapuluh tahun terakhir ini. Peningkatan suhu permukaan bumi tersebut akibat dari tertahannya panas karena polusi udara atau yang biasa disebut dengan efek rumah kaca.

Meningkatnya suhu permukaan bumi [disebut juga global warming] menyebabkan lapisan es di kutub mencair. Akibatnya permukaan laut meninggi. British Antartic Survey bekerjasama dengan US. Geological Survey melakukan pengamatan terhadap lapisan es yang ada di bagian barat Antartika. Hasilnya, dalam jangka 50 tahun terakhir, lapisan es di wilayah tersebut menyusut sebesar 87 persen.

Berdasarkan laju penyusutan lapisan es itu, diperkirakan pada tahun 2100 nanti permukaan air laut secara global akan meningkat antara 19 sampai 95 cm. Padahal, peningkatan sebesar 1 meter akan menenggelamkan beberapa pulau di dunia, termasuk banyak pulau yang ada di Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan [DKP] juga melakukan pemantauan. Hasil pantauan itu menunjukkan, rata-rata kenaikan permukaan air laut di wilayah Indonesia sebesar 5 sampai 10 milimeter per tahun. Memang, peningkatan itu relatif kecil jika dilihat per tahunnya, hanya dalam satuan milimeter saja. Namun, sungguh mengerikan apabila kita membayangkan apa yang terjadi pada sepuluh, duapuluh atau limapuluh tahun mendatang. Sebenarnya, tanpa melihat laporan pengamatan atau penelitian para ahli, kita sendiri bisa merasakan adanya perubahan iklim itu. Dahulu kita bisa dengan mudah menentukan kapan musim kemarau berakhir dan penghujan datang. Bulan-bulan tertentu bisa kita sebut musim kemarau dan bulan-bulan yang lain disebut musim penghujan. Sekarang, kemarau dan penghujan semakin sulit diprediksi.

Dampak dari perubahan iklim global juga sudah kita rasakan, tanpa harus menunggu dalam jangka waktu yang lama. Bencana banjir dan tanah longsor kian sering terjadi dan dalam tingkat resiko yang lebih tinggi. Para petani sudah kesulitan menentukan waktu yang tepat untuk bercocok tanam, karena musim kian sulit diprediksi. Badai terjadi di mana-mana, bahkan di wilayah-wilayah yang dulunya aman dari badai.

Melihat gejala-gejala alam yang sudah kita rasakan itu, kemungkinan besar prediksi para ahli lingkungan itu benar. Di masa mendatang, manusia akan mengalami kesulitan dengan kondisi alam yang tak lagi bersahabat. Bisa jadi, akibat kerusakan yang sangat parah, bumi tak lagi menjadi tempat yang layak bagi manusia untuk hidup dan berkembang. Sementara, belum ditemukan tempat lain seperti bumi. Langkah yang paling bijak adalah mengupayakan agar bumi dan alam yang melingkupinya kembali menjadi tempat yang nyaman dan layak untuk hidup.

Pandangan Manusia terhadap Alam
Semakin kritisnya kondisi lingkungan hidup menimbulkan keprihatinan banyak pihak, tak hanya para ilmuwan dan pemerhati lingkungan saja, para filsuf dan agamawan pun ikut memikirkannya. Pembahasan mengerucut pada akar masalah kerusakan lingkungan yaitu manusia.

Usaha manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di satu sisi membawa manusia pada suatu era yang disebut modern, hidup manusia kian mudah, potensi yang ada di alam dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di sisi yang lain, kemampuan manusia mengolah alam menempatkan dirinya sebagai pusat alam semesta [antroposentris].

Pandangan manusia terhadap alam berubah. Sebelum manusia mengenal ilmu pengetahuan modern, manusia menganggap bahwa alam memunyai kekuatan. Dikenallah dewa-dewa sebagai wujud kekuatan itu. Ada dewa penguasa langit, penguasa bumi, dewa kesuburan, dewa api, dan sebagainya. Dewa-dewa itu dipuja dengan upacara-upacara dan sesajen agar tak menurunkan murkanya.

Setelah kemampuan manusia berkembang dan berhasil menemukan karakter dan hukum-hukum alam, manusia menemukan egonya. Dirinyalah penguasa alam. Segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah miliknya dan digunakan sepenuhnya untuk menunjang hidupnya. Sayangnya, yang muncul kemudian bukanlah kearifan memanfaatkan alam, tapi keserakahan karena nafsu.

Sebenarnya, saat itu sudah ada pemikiran untuk melestarikan alam. Salah satunya apa yang diungkapkan Immanuel Kant, filsuf asal Jerman. Dalam pandangan Kant, ada usaha manusia untuk melestarikan alam, namun usaha tersebut bukan dalam bentuk kewajiban. Bagi Kant, usaha melestarikan alam itu hanya dianggap sebagai tindakan yang indah karena bisa menimbulkan kesenangan, tanpa ada embel-embel keharusan untuk melaksanakan.

Pandangan manusia yang merasa dirinya sebagai penguasa alam membawanya pada kondisi kepanikan global karena kerusakan lingkungan. Dampak kerusakan lingkungan itu akhirnya membawa manusia pada suatu kesadaran bahwa hidup manusia tak kan lestari tanpa ada usaha melestarikan alam.

Muncullah teori-teori tentang kehidupan manusia dan kelestarian alam. Arne Naess, filsuf dari Norwegia dalam konsep yang disebutnya Ecosopy T mengatakan, ada tiga hal yang perlu manusia sadari dalam usahanya menyelamatkan alam dan lingkungan.

Pertama, manusia harus memandang alam sebagai bagian dari dirinya sehingga usaha memelihara alam berarti juga memelihara dirinya. Kedua, menyadari bahwa alam memunyai hak untuk ada dan lestari. Manusia tak memiliki wewenang sedikit pun untuk merusaknya. Ketiga, karena dua hal tersebut maka seberapa pun besarnya kebutuhan manusia untuk memanfaatkan alam, manusia harus bijak mengolahnya. Mengambil manfaat dari alam sekaligus mengupayakan kelestariannya.

Tuhan, Alam, dan Manusia
Dalam ajaran Islam, pandangan tentang Tuhan, Alam, dan Manusia memunyai keterkaitan yang sangat erat. Seorang Muslim menyakini, Allah lah pencipta alam semesta dan mengaturnya dengan keseimbangan. Keyakinan itu menciptakan kesadaran bahwa alam semesta merupakan sarana memahami keberadaan dan kebesaran Allah.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera-bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan [suburkan] bumi sesudah mati [kering]-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; [pada semua itu] sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal.” [QS al-Baqarah [2]: 164]. Sedangkan manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di bumi, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan satu khalifah di muka bumi.” [QS al-Baqarah [2]: 30].

Khalifah diartikan sebagai ‘yang menggantikan’ atau ‘yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya’. Namun khalifah tak dipahami bahwa Allah tak mampu sehingga Dia perlu menjadikan manusia sebagai penggantinya, juga bukan menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan di muka bumi. Khalifah menunjukkan arti bahwa manusia diciptakan untuk mengemban amanah, yaitu sebagai ‘yang menggantikan’ Allah, Tuhan Pemelihara alam semesta [Rabb al-’âlamî]. Tugas manusia adalah memelihara alam semesta, sebagaimana yang diamanahkan [sesuai dengan rencana] Allah. Karena itu hubungan antara manusia dan alam bukan dalam konteks menundukkan dan ditundukkan, tapi memelihara dan dipelihara.

Mengartikan khalifah dengan pemahaman seperti itu akan jauh dari pandangan bahwa manusia adalah penguasa alam, yang punya hak eksploitasi tanpa batas dan tanpa berpikir untuk melestarikannya.

Memang benar, Allah menciptakan segala yang ada di bumi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun perlu disadari juga bahwa manusia yang dimaksud tak hanya manusia yang hidup pada zaman kita sekarang ini, anak-cucu kita yang hidup di masa yang akan datang pun juga manusia. Maka dari itu, sebagai khalifah-Nya, manusia memunyai kewajiban untuk memastikan bahwa apa yang ada di bumi juga bisa dinikmati seluruh manusia, baik yang hidup di zaman sekarang maupun di masa yang akan datang. « [imam]

----------------------------------------------------
ALif Edisi 21: Mari Sayangi Bumi
----------------------------------------------------

Senin, 13 April 2009

Bangunan Sebuah Kota

Senin, 13 April 2009
Saya pernah tinggal lama di sebuah kota, sebut saja Madangkara. Sebelum saya mulai tinggal di kota itu, dalam pikiran dan bayangan saya sudah terbangun kota yang namanya Madangkara, bagaimana perilaku masyarakatnya, lingkungan alamnya, dan cara kerja aparatur pemerintahannya. Bangunan itu saya susun menggunakan persepsi, sumbernya, kata orang yang pernah tinggal, berita di koran, juga tayangan di televisi.

Pembentukan kota Madangkara dalam pikiran dan bayangan itu saya perlukan sebagai sarana untuk berjaga-jaga, untuk mekanisme perlindungan diri agar tak salah dalam bergaul dan bersikap.

Setelah tinggal di Madangkara, bangunan kota itu lama-kelamaan runtuh, lebih tepatnya terbarui dengan kenyataan-kenyataan yang saya temui setiap hari. Tentang perilaku masyarakatnya. Saya sudah membayangkan, masyarakat kota sebesar Madangkara mempunyai sifat yang individualistik. Virus ketidakpedulian menyebar di kepala orang-orang, jangankan dengan orang yang tak pernah bertemu sebelumnya, dengan tetangga sebelah yang setiap hari bertemu saja pasang muka cuek.

Bayangan saya ternyata benar, bahkan lebih parah. Orang yang peduli dengan orang lain bukan saja disebut aneh tapi tolol. Saya pernah naik kendaraan umum. Saat itu penumpangnya penuh sesak, tapi karena saya naik dari ujung, saya masih dapat tempat duduk. Di tengah perjalanan, saya lihat ada ibu-ibu, kira-kira usianya lebih tua dari saya. Insting kelelakian saya muncul, seperti slogan iklan di televisi, "tunjukkan merahmu", saya berdiri dan tempat duduk saya berikan ke ibu itu. Tanpa ekspresi, ibu itu pun duduk, jangankan berterima kasih, untuk senyum saja tidak, dia malah memandangku seperti orang tertolol di dunia. Saya mengelus dada sambil berucap, "tempat macam apa ini?".

Ketidakpedulian semakin jelas terlihat dari perilaku pengguna jalanan. Sudah menjadi kebiasaan saling srobot, menggeber kendaraan dengan knalpot yang bersuara keras memekakkan telinga. Semua pengguna jalan seperti berada di sirkuit balap, berlomba menjadi yang terdepan, padahal fisnish-nya berbeda-beda. Sering, saya tertawa geli memikirkan itu.

Masyarakan Madangkara dalam pikiran dan bayangan saya, terkoreksi. Sikap saya juga harus dikoreksi. Saya semakin berhati-hati, tak mudah percaya dengan orang, meski saya sudah mengenalnya.

Meski kelihatan menegangkan, apalagi kalau saya cerita pengalaman di Madangkara kepada orang tua saya, bisa-bisa saya dipaksa pulang kampung, tapi saya menikmatinya. Seperti seorang arsitek, saya senang mengumpulkan dan memasang serpihan-serpihan kota Madangkara, berharap suatu saat nanti akan menjadi bangunan yang utuh dan indah.

Ada yang unik dan menarik, terkadang persepsi saya terlalu berlebihan, tak sadar kehati-hatian berubah menjadi ketakutan. Biasanya, kalau sudah begitu, ada peristiwa yang mengembalikan persepsi saya pada tempat yang semestinya. Ketika ketidakpercayaan pada masyarakat Madangkara sudah sedemikian akut, saya disadarkan untuk menguranginya pada takaran yang pas.

Suatu hari saya menjemput istri saya di stasiun. Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba istri saya teringat sesuatu. Astaga, tasnya tertinggal di kereta. Ia langsung lemas karena dalam tas itu ada berkas-berkas yang sangat penting. Kami berpikir bagaimana mendapatkannya kembali.

Kami pun pergi ke stasiun terakhir, berangkat dengan harapan yang hampir tak ada. Melihat perilaku masyarakat Madangkara, hanya keajaiban jika kami bisa menemukan tas itu. Bagi istri saya, isi tas itu teramat penting, tapi bagi orang lain mungkin hanya lembaran-lembaran kertas yang tak berguna, bisa-bisa kami menemukannya di tong sampah dengan kondisi setengah terbakar.

Kami mendapati stasiun sudah sepi, maklum sudah kelewat waktu orang pulang kerja. Kami dapat informasi, ada petugas pengawas 24 jam di stasiun itu. Kami menemuinya dan menanyakan apakah ada tas dengan ciri-ciri ini dalam kereta ini. Petugas itu langsung membuka lacinya dan menyerahkan tas milik istri saya dengan isi yang masih lengkap. Ternyata, masih ada orang-orang di Madangkara sebaik petugas itu.

Bangunan kota Madangkara terevisi kembali, cat yang sebelumnya saya gambar semuanya usang, saya ubah, ada bagian-bagian tertentu saya cat dengan warna cerah.

Kekerasan Atas Nama Agama

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Pusat Studi al-Qur’an [PSQ]
Hingga kini masih banyak pakar yang menilai Islam sebagai ajaran yang sulit untuk dipahami. Di satu sisi, Islam menekankan bahwa kehadirannya merupakan rahmat bagi semesta alam [rahmatan lil ’alamîn], namun di sisi lain, pelaku bom bunuh diri dan aksi-aksi terorisme yang terjadi beberapa kali menyatakan, aksinya itu didasarkan pada ajaran Islam.

Terorisme didefinisikan sebagai perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Dalam bahasa Arab, terorisme disebut dengan istilah al-irhâb, dan pelakunya disebut al-irhâbî. Al-irhâb diartikan sebagai sifat yang dimiliki oleh mereka yang menempuh kekerasan dan menebar kecemasan untuk mewujudkan tujuan-tujuan politik. Kata al-irhâb dengan pengertian di atas tak ditemukan dalam al-Qur’an.

Para pelaku terorisme kerap menggunakan istilah jihad. Mereka menyebutkan bahwa jihad memunyai makna perjuangan, perang, terhadap orang lain yang berbeda keyakinan. Jihad menjadi pengobar semangat bagi mereka. Padahal, memahami jihad dengan arti hanya perjuangan fisik atau perlawanan bersenjata adalah keliru. Sejarah turunnya ayat-ayat al-Qur’an membuktikan bahwa Rasulullah Saw telah diperintahkan untuk berjihad sejak beliau masih berada di Mekah, dan jauh sebelum adanya izin mengangkat senjata untuk membela diri dan agama.

Kesalahpahaman dan kekeliruan memahami konsep-konsep tertentu dalam ajaran Islam, terutama konsep tentang perang dan jihad, menimbulkan keprihatinan yang mendalam bagi sekian banyak pihak, termasuk Departemen Agama. Buku "Kekerasan Atas Nama Agama" yang disusun tim dari Pusat Studi al-Qur’an [PSQ] menjadi jawaban atas keprihatinan tersebut. Banyak tema yang dibahas secara detail menyangkut dua konsep tersebut [perang dan jihad].

Selain untuk meluruskan kesalahpahaman seputar perang dan jihad, buku ini juga mengurai bagaimana konsep ajaran Islam menyangkut hubungan inter dan antarpemeluk agama yang berlainan, relasi Muslim dan non-Muslim dalam konteks sosiologi, dan yang lebih menarik lagi pembahasan tentang mengangkat non-Muslim sebagai pemimpin.
12duadua © 2014