Pages

Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 April 2009

Kekerasan Atas Nama Agama

Senin, 13 April 2009
Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Pusat Studi al-Qur’an [PSQ]
Hingga kini masih banyak pakar yang menilai Islam sebagai ajaran yang sulit untuk dipahami. Di satu sisi, Islam menekankan bahwa kehadirannya merupakan rahmat bagi semesta alam [rahmatan lil ’alamîn], namun di sisi lain, pelaku bom bunuh diri dan aksi-aksi terorisme yang terjadi beberapa kali menyatakan, aksinya itu didasarkan pada ajaran Islam.

Terorisme didefinisikan sebagai perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Dalam bahasa Arab, terorisme disebut dengan istilah al-irhâb, dan pelakunya disebut al-irhâbî. Al-irhâb diartikan sebagai sifat yang dimiliki oleh mereka yang menempuh kekerasan dan menebar kecemasan untuk mewujudkan tujuan-tujuan politik. Kata al-irhâb dengan pengertian di atas tak ditemukan dalam al-Qur’an.

Para pelaku terorisme kerap menggunakan istilah jihad. Mereka menyebutkan bahwa jihad memunyai makna perjuangan, perang, terhadap orang lain yang berbeda keyakinan. Jihad menjadi pengobar semangat bagi mereka. Padahal, memahami jihad dengan arti hanya perjuangan fisik atau perlawanan bersenjata adalah keliru. Sejarah turunnya ayat-ayat al-Qur’an membuktikan bahwa Rasulullah Saw telah diperintahkan untuk berjihad sejak beliau masih berada di Mekah, dan jauh sebelum adanya izin mengangkat senjata untuk membela diri dan agama.

Kesalahpahaman dan kekeliruan memahami konsep-konsep tertentu dalam ajaran Islam, terutama konsep tentang perang dan jihad, menimbulkan keprihatinan yang mendalam bagi sekian banyak pihak, termasuk Departemen Agama. Buku "Kekerasan Atas Nama Agama" yang disusun tim dari Pusat Studi al-Qur’an [PSQ] menjadi jawaban atas keprihatinan tersebut. Banyak tema yang dibahas secara detail menyangkut dua konsep tersebut [perang dan jihad].

Selain untuk meluruskan kesalahpahaman seputar perang dan jihad, buku ini juga mengurai bagaimana konsep ajaran Islam menyangkut hubungan inter dan antarpemeluk agama yang berlainan, relasi Muslim dan non-Muslim dalam konteks sosiologi, dan yang lebih menarik lagi pembahasan tentang mengangkat non-Muslim sebagai pemimpin.

Rabu, 18 Februari 2009

Ibu Orang-orang Miskin

Rabu, 18 Februari 2009

Zainab binti Khuzaimah sangat menyayangi orang-orang miskin, selalu menyantuni dan bermurah hati kepada mereka. Sifat kedermawanannya melebihi kepentingan terhadap dirinya sendiri. Masyarakat pun menyebutnya sebagai “ibu orang-orang miskin” [Ummul Masâkin]. Ia termasuk golongan wanita-wanita pertama yang mengakui kebenaran Muhammad Saw.

Sebelum menjadi istri Rasulullah Saw, kehidupannya sungguh memprihatinkan. Bersama Thufail bin Harits bin Abdul-Muththalib, suami pertamanya, ia mengikuti Rasulullah Saw hijrah ke Madinah. Namun segera setelah itu, ia diceraikan karena tidak bisa mendatangkan keturunan.

Terdapat banyak riwayat yang berbeda-beda mengenai siapa yang menikahinya setelah perceraiannya itu. Ada yang mengatakan Ubaidah bin Harits yang menjadi suaminya. Riwayat yang lain mengatakan Abdullah bin Jahsy. Namun yang paling banyak dipercaya oleh para ulama adalah riwayat yang mengatakan, setelah bercerai dengan Thufail, Ubaidah bin Harits, yang juga saudara laki-laki Thufail, ingin menjaga kemuliaan Zainab dengan menikahinya.

Kesedihan kembali melingkupi Zainab setelah Ubaidah gugur dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah Saw. Ubaidah terkenal sebagai salah seorang prajurit penunggang kuda paling perkasa setelah Hamzah bin Abdul-Muththalib dan Ali bin Abi Thalib. Mereka bertiga menjadi prajurit andalan dalam setiap peperangan melawan orang-orang Quraisy.

Tak banyak riwayat yang menceritakan kisah hidup Zainab setelah Ubaidah gugur sampai Rasulullah Saw menikahinya. Rasulullah Saw menjadikannya istri karena, hati beliau trenyuh melihat Zainab hidup menjanda, tanpa ada yang memperhatikan dan menyayanginya. Sementara sejak kecil ia menjadi pelindung dan penyayang bagi orang-orang miskin. Wajahnya memang tidak cantik sehingga tidak seorang pun dari kalangan sahabat yang bersedia menikahinya.

Rasulullah Saw sangat menghormatinya. Gelar Ummul Masâkin yang sudah disandangnya sejak jaman jahiliyah tidak diingkari oleh Rasulullah Saw, padahal beliau banyak tidak menyukai nama atau julukan yang dikenal di masa jahiliyah.

Kehidupan bersama Rasulullah Saw dilaluinya dengan sangat singkat karena ia meninggal dunia di usia yang masih muda. Sebuah riwayat mengatakan, ia menjadi bagian keluarga Rasulullah Saw selama tiga bulan. Ada juga riwayat lain yang mengatakan delapan bulan. Tetapi tak ada riwayat yang menjelaskan sebab-sebab ia meninggal. Karena kemuliaan dan keagungannya, tangan Rasulullah Saw sendiri yang mengurus jenazahnya.

Rabu, 26 November 2008

Menjadi Bagian dari Solusi

Rabu, 26 November 2008

Seorang warga Amerika Serikat Peter Miller menyewa konsultan untuk melakukan diet energi di rumahnya. Penggunaan energinya di audit. Kemudian dianalisa. Lalu ditentukan formasi alat rumah tangga yang tepat agar penggunaan energi listriknya optimal.

Miller perlu melakukan itu karena ingin berperan menekan laju kerusakan iklim akibat pemborosan energi. Ia mengatakan, "Perubahan iklim bukan sekedar tentang cerobong asap dan gletser yang mencair. Perubahan iklim juga tentang individu seperti kita. Karena kita memainkan peran yang lebih besar dalam mengubah iklim Bumi daripada yang mungkin kita pikirkan. Namun kita juga dapat menjadi bagian dari solusi."

Di pinggiran Depok, Eddy Djamaludin juga mempunyai kesadaran yang sama. Ia merasa, manusia sekarang sedang menghadapi masalah iklim dan lingkungan. Udara semakin panas, banjir, polusi, sampah dan lain-lain. Jika masalah itu tidak segera diselesaikan akan berakibat tidak baik pada kelangsungan hidup manusia.

Eddy juga menengok pada ajaran agama yang dianutnya. Ia yakin solusi tidak akan diperoleh jika bukan manusia sendiri yang mengusahakannya. Ia juga percaya bahwa setiap manusia mempunyai tanggung jawab terhadap lingkungan karena manusia adalah khalifah di bumi.

Bersama keluarga dan kerabatnya, Eddy bertekad menciptakan tempat tinggal yang ramah lingkungan.

Suatu saat ada sekolah TK yang tertarik untuk mengadakan kegiatan menanam pohon di tempat itu. Seratus anak direncanakan datang, masing-masing membawa satu bibit tanaman. Namun, pada hari pelaksanaan satu anak tidak bisa ikut karena sakit sehingga hanya 99 bibit yang ditanam. Jadilah tempat itu dinamakan Kampung 99 Pepohonan.

Sekarang kampung itu sudah rimbun, banyak pohon tumbuh di sekitar rumah-rumah mereka, udara sejuk yang langka itu bisa dinikmati dengan mudah. Yang lebih membahagiakan bagi Eddy adalah ternyata banyak burung dan hewan lain yang datang. "Lihat tuh tupai pun senang berada disini," katanya sambil menunjuk pada sepasang tupai yang berkejaran di ranting pohon.

Tidak hanya hewan, manusia pun banyak yang ingin merasakan kenikmatan berada di kampung itu. Sesekali, keluarga Eddy harus mengalah tidur di rumah saudaranya yang lain karena rumahnya dipinjam pengunjung. Kampung 99 Pepohonan telah menjadi alternatif wisata bagi keluarga.

Gambar pinjam dari ALiF

Minggu, 09 November 2008

Ekspresi Iman

Minggu, 09 November 2008

Apakah iman itu butuh ekspresi? Aku pikir iya. Sebab iman tanpa ekspresi seperti sayur tanpa garam. Ekspresi itu membuat iman seperti rumah yang berhias taman yang indah. Seperti kayu polos yang berubah menjadi bernilai karena dihias ukiran. Seperti juga pagi hari yang sejuk bertambah riang dengan kicauan burung.

Menengadahkan tangan dan dengan khidmad mengucap "alhamdulillah" setelah menerima gaji pertama, itu bentuk ekspresi. Indah bukan? Atau saat tesandung batu di jalan kemudian kita melihat ke arah langit sambil berucap, "Astaghfirullah. Engkau mengingatkanku dengan hal yang kecil sebelum hal yang besar menimpaku."

Sesimpel itukah? Iya. Tapi ada juga yang mahal. Bahkan sangat mahal, seperti membangun masjid yang berkubahkan emas. Ada juga yang unik, dengan menanam pohon dan hidup bersama alam. Aku akan cerita keduanya.

Bersama seorang kawan, aku hendak berkunjung ke Kampung 99 Pepohonan di daerah Cinere. Sebuah kampung yang unik, seunik orang-orang yang tinggal di dalamnya. Unik karena pemikiran mereka berbeda dengan kebanyakan orang.

Waktu sudah hampir masuk 'Asyar. Kebetulan jalan ke Kampung 99 searah dan dekat dengan Masjid Kubah Emas, masjid yang terkenal itu. Aku bilang pada kawanku, "shalat 'Asyar di Masjid Kubah Emas yuk!" Syukurlah kawanku mau.

Kami harus memarkir motor di luar area masjid yang luasnya minta ampun. Jarak tempat parkir ke masjid kira-kira 200 meter. Sambil berjalan, aku memandangi masjid yang tampak seperti berada di lembah. Baru kali ini aku berkunjung ke sini. Aku pun langsung kagum pada keindahannya. Sangat megah dilihat dari kejauhan.

"Kenapa ya Mam," kawanku bicara, "uang untuk membangun masjid itu tidak dipakai untuk beramal saja?"

"Maksudmu apa," aku balik tanya.

"Coba bayangkan jika uang sebanyak itu dibagikan ke fakir miskin, atau untuk biaya anak sekolah yang kurang mampu. Betapa banyak yang bisa dibantu."

"Nggak tau ya. Tapi coba lihat, disekitar tempat parkir tadi banyak orang yang jualan. Mereka bisa jualan karena ada masjid ini. Tukang parkir tadi juga dapat penghasilan kan?"

"Hmmmmm..." dahi kawanku berkerut.

"Tuh, lihat juga," aku lanjutkan tanpa menunggu kawanku menjawab, "masjid ini juga menyerap banyak tenaga kerja. Ada tukang kebon, satpam, penjaga toilet, petugas kebersihan, pengurus masjid. Ternyata banyak juga kan yang tertolong hidupnya setelah masjid ini berdiri?"

Dahi kawanku tidak berkerut lagi, tapi tetap tidak menjawab. Kami sampai ke pelataran masjid. Adzan yang indah berkumandang. Bergegaslah aku dan kawanku mencari tempat wudu. Kemudian kami shalat. Banyak juga pengunjung masjid sore ini, meski bukan hari libur. Penjual air mineral di tempat parkir tadi bilang, kalau hari sabtu dan minggu, atau hari libur, pengunjungnya ramai sekali. Banyak juga yang datang dari jauh. Rupanya tempat ini sudah menjadi tujuan wisata.

Selesai shalat aku dan kawanku menuju tempat parkir. Eh ada orang bawa kamera menghadang kami. "Mas mau dipotret untuk kenang-kenangan? Bisa berlatarbelakang masjid, bagus mas, nih contohnya."

"Kami sedang buru-buru Pak, lain kali aja kalau kemari lagi. Terima kasih." Setelah aku berkata demikian, orang itu berlalu dengan menganggukkan kepalanya pada kami.

"Tuh kan, tukang potret tadi juga dapat ladang pekerjaannya." kataku sambil menepuk bahu kawanku. Ia cuma tersenyum saja.

Semoga saja, pemilik masjid ini membangunnya bukan karena niat sombong atau pamer. Tapi karna ingin mencari indahnya iman dengan mengekspresikannya. Bentuk ekspresi inilah yang ia mampu. Menurutku, tidak ada masalah dengan bentuk ekspresi seperti ini, karena tidak mengganggu orang lain, bahkan mendatangkan manfaat untuk lingkungan sekitarnya.

Bersambung ya....

Senin, 02 Juni 2008

Pakaian

Senin, 02 Juni 2008
Saya paling tidak suka menunggu tanpa melakukan aktifitas apa-apa. Makanya di dalam tas saya, selalu ada majalah atau buku bacaan. Jika kebetulan lupa membawanya, saya membeli koran. Nah suatu siang saya menunggu waktu tiba pukul satu untuk bertemu seseorang di kantornya. Sengaja, saya datang sebelum jam 12 dan menyempatkan shalat dzuhur di masjid dekat kantornya. Masih ada waktu sekitar 30 menit, saya duduk di serambi dan mengeluarkan buku bacaan.

Belum sempat saya membacanya, tiba-tiba seseorang di samping saya menyapa, "mas, boleh lihat judulnya?" Judul buku yang saya pegang dibacanya, "Menerobos Kegelapan".

Tampaknya ia berusaha memahami buku macam apa yang sedang ia lihat. Saya tersenyum ketika ia menebak buku ini semacam buku motivasi seperti buku motivasi kerja dan lain-lain. Karena masih tampak bingung, saya mengatakan bahwa buku ini biografi Karen Amstrong, mantan biarawati dan seorang yang percaya Tuhan tetapi tidak beragama. Ia tersenyum dan manggut-manggut.

Sebentar kemudian, kami ngobrol setengah diskusi. Ia bilang, "orang seperti itu banyak mas, banyak yang mengakui Islam itu baik, Kristen itu baik, tetapi tidak pernah masuk salah satunya. Tidak benar-benar menjalankan ajarannya. Orang seperti itu seperti orang yang belum pakai celana kemudian pergi ke toko, memilih-milih celana yang mau dibelinya. Karena semuanya bagus, ia bingung memilih yang mana, akhirnya tidak jadi beli."

Ia menambahkan, "menurut orang Betawi, agama itu ageman, pakaian". Saya mengerti apa yang ia maksud, dalam bahasa Jawa, ageman juga sama dengan pakaian. Agama itu mempunyai fungsi sebagaimana pakaian yang bisa meninggikan derajat manusia. Orang yang tidak beragama, sama seperti orang tidak berpakaian. "Mengerti kan mas, bagaimana jika orang tidak berpakaian" ia menambahkan.

Saya kagum dengan ulama-ulama terdahulu, mengajarkan agama dengan cara yang mudah dipahami oleh orang kebanyakan. Nilai-nilai agama diselaraskan dengan nilai-nilai yang sudah lama dianut masyarakat.

Malamnya saya merenung, memikirkan kembali obrolan tentang pakaian itu. Benarkah agama itu sama dengan pakaian? Kalau memang benar, saya melihat orang seperti Karen itu sebenarnya bukan tidak memakai pakaian, tetapi ia membuat pakaiannya sendiri karena kecewa dengan pakaian-pakaian yang ada sekarang. Pakaian yang ada sudah berubah fungsinya. Alih-alih meninggikan derajat pemakaianya, malah menjerumuskannya ke dalam sifat-sifat yang berlawanan dengan fungsi pakaian itu. Agama yang sebenarnya untuk menuntun manusia menuju jalan kebaikan, membantu menciptakan kehidupan yang damai dan sejahtera serta memberi pelita saat kegelapan, justru menghasilkan perilaku yang berlawanan dengan semua itu. Tidak salah juga kan, karena kekecewaan itu Karen menganut agamanya sendiri sesuai yang diyakininya.

Pakaian. Saya kembali merenungkannya. Saya merasa saat ini sedang berpakaian, saya meyakini pakaian yang saya kenakan bisa menempatkan diri saya lebih tinggi daripada derajat hewani. Dan pakaian saya masih berfungsi dengan baik, modelnya juga masih sesuai dengan jaman sekarang. Ini keyakinan saya dan tentu saja setiap orang mempunyai keyakinan masing-masing, bisa sama atau berbeda dengan keyakinan saya. Orang juga bisa menilai pakaian yang dikenakannya paling bagus, paling keren paling sesuai dengan tuntutan jaman. Menurut saya itu wajar, sudah menjadi ketentuan dari-Nya, setiap manusia mempunyai keyakinannya masing-masing.

Masih ngobrol tentang pakaian. Esok harinya saya menceritakan diskusi di serambi masjid itu kepada teman saya. Ia langsung bertanya, "kalau agama itu pakaian, berarti kita bisa berganti-ganti agama seperti berganti pakaian. Kalau sudah tidak nyaman dengan pakaian yang kita kenakan sekarang bisa cari-cari pakaian yang baru. Ato tergantung musimnya, musim dingin pakai yang tebal, musim panas pakai yang tipis. Pakaian juga bisa dilepas di tempat yang tersembunyi, atau saat orang lain tidak melihatnya. Benarkah demikian?"

Saya tidak bisa menjawab, cuma bengong saja.

Jumat, 06 Juli 2007

Antara Ilmuan, Ahli Etika dan Agama

Jumat, 06 Juli 2007
Sekitar tahun 1997, terjadi perdebatan karena keberhasilan ilmuan melakukan kloning terhadap biri-biri yang kemudian diberi nama Dolly. Perdebatan semakin menghebat setelah ada berita bahwa kloning juga bisa dilakukan pada manusia. Kloning manusia dianggap sudah menyalahi kodrat manusia karena melakukan intervensi penciptaan manusia yang diyakini sepenuhnya, terutama bagi muslim, adalah hak Tuhan.

Ada kasus yang menarik tentang hubungan antara ilmu pengetahuan, etika dan agama yang terjadi di Kanada saat ini. Melanie Boivin (35 th), seorang Ibu warga negara Kanada, ingin membekukan telurnya untuk dipergunakan putrinya, Flavie, yang kemungkinan besar tidak bisa mempunyai anak karena menderita TURNER'S SYNDROME. Melanie ingin anaknya nanti bahagia karena bisa melahirkan anak.

Akhirnya Ia bertemu Profesor Seang Lin Tan, seorang peneliti dari McGill University Health Center.
(MUHC). Pembekuan dan penyuntikan telur memungkinkan untuk dilakukan. Profesor Tan dan tim risetnya berhasil mengembangkan sebuah metode pembekuan yang tidak merusak telur sehingga dapat dipergunakan oleh perempuan yang menginginkannya.

Program Melanie dan Profesor Tan juga menimbulkan perdebatan. Jika program ini dilakukan, Flavie akan mengandung anak dan sekaligus adiknya. Ada persoalan etik disitu. Profesor tan meminta nasehat dari komite etik independen. Dan komite menyetujui program dilanjutkan dengan alasan si Ibu memberikan telurnya karena kasih sayang kepada anaknya.

Tetapi tetap, keputusan ada di tangan Flavie dan pasangannya nanti apakah akan menggunakan telur itu atau tidak. Juga pertimbangan etik saat program ini dilakukan nanti, etika bisa berubah karena pergeseran waktu.

"Pertimbangan etis berubah dengan pergeseran waktu. Siapa tahu seperti apa nilai etika 20 tahun dari sekarang," kata Profesor Tan.

Perkembangan ilmu pengetahuan memang tidak bisa berdiri sendiri tanpa campur tangan etika dan agama. Ilmu pengetahuan hidup di tengah masyarakat yang mempunyai nilai-nilai etika dan agama. Inilah pentingnya, seorang ilmuan harus dekat dengan ahli etika dan hukum agama agar penerapan ilmu yang dimiliki dapat diterima dan bermanfaat.

Hubungan yang harmonis antara ilmuwan, ahli etika dan agama akan menjamin hidup manusia lebih baik di masa yang akan datang.



Gambar dan sumber berita :

Gadis Mungkin Mengandung Adiknya
Seorang Ibu Kanada membekukan telurnya untuk dipergunakan putrinya yang mungkin menjadi mandul.

Kontroversi Kloning Manusia Dalam Perspektif Syariat
Persoalan yang pertama adalah terkait dengan kontroversi adanya "intervensi penciptaan" yang dilakukan manusia terhadap "tugas penciptaan" yang semestinya dilakukan oleh Allah SWT.


12duadua © 2014