Pages

Kamis, 11 Desember 2008

Pohon Pusing

Kamis, 11 Desember 2008
Itu sebutan anakku untuk Pohon Natal. Ya, awalnya aku sendiri juga bingung, mengapa ia menyebutnya begitu.

Ceritanya, pada suatu Minggu kami jalan-jalan ke toko buku. Kebetulan toko itu berada di sebuah mall. Tau sendiri kan, kalo bulan Desember seperti sekarang ini banyak Pohon Natal terpajang di mall-mall. Saat itu anakku bertanya, "Yah, kenapa disini banyak pohon pusing?"

Aku celingukan mencari pohon apa yang dimaksud. Kemudian ia mengarahkan telunjuknya ke arah Pohon Natal. "Itu Pohon Natal," kataku. "Mengapa Azif bilang itu pohon pusing?"

Dia bilang, "kan ada bintang-bintangnya."

Aku dan istriku sontak tertawa. "Anak kita kartun banget ya," kataku pada istri.

Memang Azif sering sekali melihat film kartun di televisi. Tau kan gambaran orang pusing di kartun itu bagaimana. Karena itu, ketika melihat pohon yang disekitarnya ada banyak bintangnya ia langsung berfikir pohon itu sedang pusing.

Aku kira setiap anak cenderung mempunyai pikiran yang sama dengan Azif. Berfikir bebas tanpa ada frame yang membatasinya, sebelum orang dewasa seperti kita ini memberi batasan-batasan tertentu. Pikirannya sering keluar dari kotak-kotak yang dimiliki orang dewasa. Sebenarnya pikiran yang semacam itu sangat diperlukan untuk mengembangkan kreatifitasnya.

Woody Norris dari American Technologi Corporation, sebuah perusahaan pencipta produk baru, pernah berfikir bagaimana menciptakan suara yang hanya didengar oleh orang tertentu saja. Misalnya, suara musik dalam mobil hanya bisa didengar oleh orang yang duduk di depan saja sehingga orang yang di belakang bisa mendengar musik yang lain tanpa menggunakan headphone.

Bagi kebanyakan orang, pikirannya itu tidak akan mungkin diwujudkan karena biasanya suara yang terpancar ke udara yang didengar oleh satu orang, pasti akan didengar juga oleh orang lain.

Tapi ia menemukan jawabannya. Ia belajar dari pemancaran sinar laser. Sinar laser bisa memfokuskan sinarnya karena intensitas cahaya yang dipancarkan sangat tinggi. Suara pun jika frekuensi gelombangnya semakin tinggi akan semakin terarah dan fokus.

Nah, setiap anak mempunyai potensi yang besar untuk berfikir kreatif. Tapi jika terlalu dipaksakan dengan batasan-batasan tertentu sehingga anak jadi takut untuk berpikir lagi, daya kreatifnya akan menurun, bahkan bisa hilang.

Gambar minjam dari ClipartGuide

Senin, 08 Desember 2008

Haji Muda

Senin, 08 Desember 2008
Baru kali ini aku menulis tanpa ada bayangan apapun di kepala. Mengira-ira pun tidak bisa. ALiF edisi 12 berbicara tentang pergi haji saat muda. Bagaimana aku bisa menulis sedangkan aku sendiri belum berhaji? Satu-satunya jalan adalah bertanya pada orang yang sudah pergi memenuhi panggilan-Nya itu. Ada syaratnya lagi, ia masih muda.

Dengan bantuan teman-teman redaksi akhirnya tersaji cerita dua orang yang berhaji saat masih muda. Berikut ceritanya :

Widhi [37],pekerja media, asal Bandung
Pergi haji tahun 2006, saat itu usianya 35 tahun. Sewaktu keluarganya mengajaknya berhaji, ia langsung menerima tanpa kuatir sedikitpun. Ia berfikir, kesempatan berhaji harus segera diterima dan dilaksanakan karena belum tentu kesempatan itu datang di waktu mendatang. Tidak semua orang mendapat kesempatan itu. Dari sekian banyak Muslim Indonesia, hanya sebagian saja yang punya peluang itu. Jadi ketika ada kesemapatan, berarti Allah telah menunjuk dan memilihnya.

Yang paling berkesan adalah saat wukuf di Arafah. Di padang itu ia merasakan seperti berhubungan langsung dengan Allah. Pintu langit terbuka dan Dia mendengar semua doa manusia. Ia pun membaca doa untuk dirinya sendiri, keluarganya, dan para sahabat yang menitip doa kepadanya. Ia sempat menangis karena teringat dosa-dosanya di masa lalu, dengan kepasrahan yang mendalam, ia meminta ampun kepada-Nya.

Ada kesadaran baru yang ia peroleh selama berhaji, bahwa tidak boleh merendahkan dan meremehkan orang lain. Kesadaran itu ia peroleh setelah mengalami peristiwa di suatu siang setelah shalat Jum’at. Ia melihat seorang tua duduk agak jauh di depannya, mungkin karena sudah tua, tak terasa orang itu buang air kecil di tempatnya duduk.

Ia merasa jijik. Dalam hati ia memperolok orang tua itu. Tak lama berselang, ada orang menginjak najis itu dan kemudian melintasi sajadahnya yang berlum sempat dirapikan. Kakaknya kontan tertawa. Tak lama setelah itu ada orang lain lagi yang menginjak najis tadi dan kemudian menginjak kaki kakaknya.

Baginya, berhaji di usia muda tak menjadi masalah, malah akan lebih mempermudah pelaksanaannya, karena kondisi fisik masih sempurna dan tenaga masih kuat. Banyak kegiatan ibadah yang menguras tenaga dan butuh ketahanan fisik yang prima. Tentang ketidaksiapan anak muda untuk berhaji karena masih banyak dosa, ia berpendapat justru berhaji merupakan kesempatan untuk bertobat dan meminta ampun.

Dewi Handajani [38], wartawan
Dewi berangkat haji tahun 2002 ketika usianya 32 tahun. Saat itu ia baru tiga tahun menikah. Sebetulnya niat untuk berhaji sudah muncul sejak lama, saat mendengar cerita orang-orang yang pernah berhaji. Sejak ia bekerja sekitar tahun 1994, ia mulai menabung. Namun ia masih bimbang akan pergi dengan siapa. Sementara keluarganya belum ada yang berhaji.

Setelah menikah, ia mengutarakan keinginannya untuk berhaji kepada suaminya. Namun ia keburu hamil dan melahirkan anaknya yang pertama. Keinginan itu pun tertunda.

Tahun 2001, ibunya berhaji, keinginannya menguat kembali. Ia berunding dengan suaminya. Akhirnya, sang suami mau diajak berhaji asalkan anaknya sudah bisa ditinggal dan ia belum hamil kembali. Kemudian mereka menetapkan untuk berhaji tahun depan [2002] saat putrinya sudah memasuki usia dua tahun dan sudah disapih dari ASI.

Di Tanah Suci ia merasa sangat excited, muncul kegairahan yang sangat dalam hatinya, begitu pun dengan sang suami. Memang, karena masih muda, ada sedikit ribut-ribut kecil di antara mereka, namun hal itu tidak mengalahkan kebahagiaannya. Sempat juga mereka berdua merayakan ulangtahun pernikahan yang ketiga di resto cepat saji. Sayangnya ia terserang cacar air sehingga ada beberapa hal yang tak bisa ia tunaikan. Karena itu, sekarang ia ingin kembali menunaikan haji.

Tantangan yang ia rasakan untuk berhaji sewaktu masih muda adalah memilih waktu yang tepat, terutama disesuaikan dengan kesiapan anak-anak. Menurut pendapatnya, kalau menunggu anak agak besar, tantangannya akan berbeda dengan meninggalkan saat mereka masih kecil. Namun tentu saja hal tersebut sangatlah individual, tergantung kesiapan dan kesempatan yang ada, tidak hanya kemampuan finansial saja.

Semoga kedua cerita itu bisa menghapus keraguan mereka yang enggan untuk berhaji atau menunggu setelah tua.

Selasa, 02 Desember 2008

Bau Kambing

Selasa, 02 Desember 2008
Hari-hari ini bau kambing sering tercium di jalan-jalan yang aku lewati. Ya. Bau khas menjelang hari raya qurban. Banyak kandang kambing dadakan di tepi-tepi jalan.

Bau itu mengingatkan aku pada sebuah cerita dari stasiun radio kegemaranku waktu SMA dulu.

Di negeri antah brantah sedang diadakan lomba masuk kandang kambing. Banyak peserta yang ikut. Namun, setelah diadakan babak penyisian, tinggal tiga orang yang masuk final. Ketiganya dipersilahkan mempersiapkan diri dengan matang karena tantangannya lebih berat dibanding babak-babak sebelumnya.

Di hari yang telah ditentukan semua orang berkumpul di lapangan yang ditengahnya terdapat kandang kambing. Peserta pertama masuk. Belum ada satu menit, ia sudah keluar dan muntah-muntah. "Wah gila, nggak kuat bauk banget," katanya. Kontan penonton bersoral, "Huuuu....."

Peserta kedua masuk. Lima menit berselang belum keluar. Penonton sudah mulai ribut. Tiba-tiba, empat petugas berpakaian seperti astronot keluar kandang menandu peserta itu. Penonton pun tertawa, dikiranya kuat, ternyata malah pingsan.

Peserta terakhir masuk. Belum 30 menit kambing-kambing pada berebut keluar. "Gila, bau banget," kata kambing-kambing itu. Peserta itu pun memenangkan perlombaan itu.

Senin, 01 Desember 2008

Tentang ibu

Senin, 01 Desember 2008
Gambar pinjam dari sini
Teman-teman semua pasti punya ibu. Kata orang, kasih ibu sepanjang masa. Selama ia masih hidup, selalu saja mengasihi dan menyayangi anak-anaknya. Kata Iwan Fals, kasihnya seperti udara yang tak mungkin kita membalasnya. 

Nah sebagai anak yang tidak durhaka tentu kita juga akan berusaha menyayangi dan mengasihinya. Bagaimana wujud kasih dan sayang kita kepada ibu sehingga ia bisa bahagia dalam hidupnya?

Kalau aku, karena ia nan jauh di sana, tidak bisa setiap hari bertemu dengannya, aku menelponnya minimal seminggu sekali untuk bertukar kabar. Yang paling ia suka adalah mendengar cerita cucunya, aku pancing-pancinglah anakku yang baru empat tahun untuk mau bicara dengan neneknya [juga akung, om dan tantenya].

Teman-teman ada yang ingin berpendapat?

Kamis, 27 November 2008

Pernikahan, Melengkapi dan Melindungi

Kamis, 27 November 2008

Keluarga sakînah, mawaddah dan rahmah, bukanlah keluarga yang tanpa gejolak. Penyatuan dua jiwa dengan sifatnya masing-masing mustahil tanpa ada benturan dan kesalahpahaman. Begitu pun juga, dari berbagai peristiwa yang mengiringi perjalanan waktu keduanya [suami dan istri] ada perkara yang menimbulkan sikap yang berbeda. Tak jarang pula perbedaan itu berakhir dengan percekcokan dan perselisihan.

Pasangan yang berharap menjadi keluarga sakînah, mawaddah dan rahmah,justru menjadikan semua gejolak itu sebagai bumbu penyedap keharmonisan hubungannya. Seperti garam yang asin itu menjadi bumbu penyedap masakan sehingga menjadi lezat. Kekurangan-kekurangan dari pasangan yang diketahui setelah sekian lama bersama tidak menimbulkan kekecewaan.

Masing-masing menyadari sepenuhnya bahwa ia terlahir memang untuk menutupi kekurangan dan menjadi pelindung kelemahan pasangannya. Allah swt memberi perumpamaan, suami atau istri menjadi penutup dan pelindung pasangannya seperti sebuah pakaian. Kalam-Nya: “Mereka [istri-istri] itu adalah pakaian bagi kamu [wahai para suami], dan kamu pun [para suami] adalah pakaian bagi mereka [para istri kamu]” [QS 2: 187].

Di bawah ini ada dua kisah nyata yang menceritakan bagaimana hubungan suami-istri bisa saling melengkapi dan melindungi sehingga tergambar hubungan yang dilandasi dengan cinta sejati.

Keajaiban Cinta
Seperti setiap laki-laki yang akan menikah, Eko Priyo Pratomo berharap istrinya nanti bisa menjadi istri dan ibu yang baik dah shalehah sekaligus menjadi sahabat yang bisa saling mendukung hingga akhir hayat.

Harapan itu tidaklah berlebihan, Dian Syarif, istrinya adalah perempuan yang sangat aktif, energik, dan memunyai kondisi fisik yang prima dengan pemikiran yang cerdas. Karena kemampuannya itu ia dipercaya menjabat sebagai Corporate Communication Manager di salah satu bank swasta nasional.

Namun tiba-tiba, Dian terserang penyakit yang menurut dokter tak bisa disembuhkan. Seumur hidupnya, ia harus bergantung pada obat-obatan. Dian divonis terkena penyakit lupus. Penyakit bernama lengkap Systemic Lupus Erythematosus [SLE] yang dialami Dian menyerang darah. Karena itu ia diberi obat-obatan untuk meningkatkan trombositnya.

Terapi obat yang Dian jalani memiliki efek yang cukup berat. Selain membuat wajahnya membengkak, obatobatan tersebut mengakibatkan rusaknya saraf mata. Sekarang kemampuan penglihatan Dian hanya lima persen saja. Ia hanya bisa melihat siluet tanpa bisa mencermati detai-detail benda di depannya.

Kondisi fisik Dian melemah karena penyakit ini juga menyerang organ-organ tubuh yang lain. Kandungan Dian pun harus diangkat karena mengalami pendarahan terus-menerus. Hilanglah kesempatan Dian mengandung anak.

Melihat kondisi istrinya itu, Eko sangat takut sekali. Terlintas dalam pikiran Eko, Dian akan meninggalkannya. Karena itu Eko berjuang melawan perasaannya itu dan harus tetap memberi semangat hidup pada istrinya sambil terus berusaha mencari cara mengurangi penderitaannya.

Tak sedikit pun terlintas dalam pikiran Eko untuk berpaling dari Dian. Padahal, karena merasa hidupnya sangat merepotkan, Dian sempat meminta Eko untuk menikahi wanita lain. Tetapi Eko menolak, ia sangat mencintai Dian dan menurutnya cinta adalah kebahagiaan ketika bisa memberi dan berkorban tanpa merasa terbebani.

Ia menambahkan, “Saya juga sedang belajar mencintai sebagai ungkapan terimakasih dan syukur kita kepada Allah swt yang begitu mencintai dan menyayangi kita.” Tak cuma itu, bagi Eko, sekarang Dian bukan hanya menjadi pendamping hidup, tetapi juga sebagai ladang amal baginya dan orang lain.

Pernikahan bagi Eko tidak sekedar memenuhi hasrat manusia sebagai mahkluk biologis dan sosial yang membutuhkan pendamping dalam hidup di dunia. Namun yang jauh lebih penting, pernikahan harus menjadi bagian dari ibadah dan bertujuan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Perhatian, cinta dan kasih sayang Eko beserta seluruh keluarga menjadi pendorong Dian untuk bisa bertahan. Semua itu menjadikannya tetap bersemangat dan berkeinginan kuat untuk tetap hidup. Di saat itulah Dian merasakan keajaiban cinta. Meski dengan segala keterbatasannya, Dian tetap bisa menerapkan kemampuannya berkomunikasi, tetapi yang dikomunikasikannya berbeda. Melalui Syamsi Dhuha Foundation [SDF], yayasan yang didirikan bersama EKO, Dian berbagi dengan sesama penderita lupus [odapus] dan sahabat low vision [lovi].

Kamu Tetap Kepala Keluarga
Cerita yang kedua ini berkisah tentang perjuangan seorang ibu bernama Tingka yang selalu menjaga semangat hidup keluarganya setelah suaminya terkena stroke. Kisahnya berawal pada Minggu sore sekitar sepuluh bulan yang lalu. Pada hari itu, Bambang–suaminya–tiba-tiba terkulai tak berdaya di ruang ICU sebuah rumah sakit. Hari itu juga tim dokter memutuskan untuk melakukan operasi.

Usaha yang dilakukan dokter ternyata tak segera membuat Bambang pulih kembali. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai wartawan itu lumpuh total dan belum bisa diajak berkomunikasi meski hanya bahasa isyarat.

Melihat kondisi suaminya seperti itu Tingka menyadari bahwa kini ia yang harus memegang kendali rumahtangga. Berusaha agar kehidupannya bersama seluruh anggota keluarga bisa terus berjalan. Menjaga tiga anak mereka agar tetap punya semangat hidup. Apalagi anaknya yang pertama sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir lulus SMA.

Ia berujar kepada ketiga anaknya, “Kalian semua harus tabah dan tetap bersikap seperti biasa. Bersekolah dan bermainlah seperti sebelum ayah sakit. Kalau hari libur ingin jalan-jalan bersama teman-teman kalian, silakan saja. Namun kalian harus lebih bisa menjaga diri kalian, sekarang ayah di rumah sakit dan ibu harus sering berada di sana.”

Setelah suaminya boleh dirawat di rumah, Tingka memperlakukannya seperti orang yang tidak sakit. Ia selalu bercerita kegiatan apa yang dilakukan hari ini, berkirim email dan bertemu dengan siapa. Padahal ia tahu kalau suaminya belum bisa merespon semua yang dibicarakannya. “Seperti monolog saja,” katanya. Ia juga meminta anak-anaknya bersikap sama seperti dirinya. Setiap pulang sekolah, mereka ngobrol dengan Bambang.

Sikap keluarga yang demikian berpengaruh positif kepada perkembangan kesehatan Bambang. Saat diajak berkomunikasi, Bambang sudah bisa merespon meski hanya dengan isyarat. Kesehatan fisiknya pun membaik, ia mulai kuat diajak jalan-jalan keluar rumah.

Pada hari ulangtahun pernikahan yang ke-duabelas, Tingka mengajak Bambang jalan-jalan ke mal. Dengan mendorong Bambang di kursi roda, Tingka membawa Bambang berkeliling ke sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Tingka tidak perduli meski pengunjung yang lain memperhatikan dengan pandangan aneh pada dirinya. Bagi Tinka, yang penting adalah berusaha membuat Bambang senang.

Ternyata, usaha Tingka tidak sia-sia. Setelah diajak jalan-jalan, kondisi Bambang semakin membaik. Sejak itu pula, setiap ada kesempatan Tingka selalu mengajak Bambang ke luar rumah. Sekedar jalan-jalan atau berkunjung ke rumah sahabat. Saat bulan puasa yang lalu, Tingka sering mengajak Bambang hadir di acara buka puasa bersama. Teman yang ingin menjenguk Bambang diajak bertemu di suatu tempat, di mal, atau justru Tingka dan Bambang yang pergi ke rumah temannya itu.

Semua yang dilakukan Tingka itu dilandasi keikhlasan dan rasa cinta. “Saya pikir bukan hanya saya saja, semua istri akan melakukan hal yang sama ketika suaminya sakit, begitu juga sebaliknya. Masak, terus ditinggal begitu saja..” katanya merendah.

Menurut Tinka, menjalankan bahtera rumahtangga pasti ada kalanya naik dan terkadang pula diuji dengan kesusahan. Ia menganggap sakitnya Bambang merupakan ujian dari Allah swt dan ia yakin Allah swt pasti memiliki rencana dengan semua peristiwa ini. Paling tidak, Tingka merasakan, saat ini ia merasa lebih dekat secara batin dengan Bambang dan anak-anaknya.

Perubahan secara spiritual juga terjadi pada Tinka. Sekarang ia berusaha untuk selalu menjaga ibadahnya. Dengan begitu Ia merasa lebih dekat dengan-Nya.

Bagi Tinka, yang harus tetap dijaga sekarang adalah kepercayaan diri dan semangat suaminya. Ia selalu mengatakan pada suaminya, “Meski sekarang aku yang mengurus semuanya, tapi kamu tetap kepala keluarga. Aku dan anak-anak masih tetap membutuhkanmu. Kamu harus cepat sembuh.”

------------------------------
Mau baca artikel-artikel yang lain?
Silahkan kunjungi ALiF

Rabu, 26 November 2008

Menjadi Bagian dari Solusi

Rabu, 26 November 2008

Seorang warga Amerika Serikat Peter Miller menyewa konsultan untuk melakukan diet energi di rumahnya. Penggunaan energinya di audit. Kemudian dianalisa. Lalu ditentukan formasi alat rumah tangga yang tepat agar penggunaan energi listriknya optimal.

Miller perlu melakukan itu karena ingin berperan menekan laju kerusakan iklim akibat pemborosan energi. Ia mengatakan, "Perubahan iklim bukan sekedar tentang cerobong asap dan gletser yang mencair. Perubahan iklim juga tentang individu seperti kita. Karena kita memainkan peran yang lebih besar dalam mengubah iklim Bumi daripada yang mungkin kita pikirkan. Namun kita juga dapat menjadi bagian dari solusi."

Di pinggiran Depok, Eddy Djamaludin juga mempunyai kesadaran yang sama. Ia merasa, manusia sekarang sedang menghadapi masalah iklim dan lingkungan. Udara semakin panas, banjir, polusi, sampah dan lain-lain. Jika masalah itu tidak segera diselesaikan akan berakibat tidak baik pada kelangsungan hidup manusia.

Eddy juga menengok pada ajaran agama yang dianutnya. Ia yakin solusi tidak akan diperoleh jika bukan manusia sendiri yang mengusahakannya. Ia juga percaya bahwa setiap manusia mempunyai tanggung jawab terhadap lingkungan karena manusia adalah khalifah di bumi.

Bersama keluarga dan kerabatnya, Eddy bertekad menciptakan tempat tinggal yang ramah lingkungan.

Suatu saat ada sekolah TK yang tertarik untuk mengadakan kegiatan menanam pohon di tempat itu. Seratus anak direncanakan datang, masing-masing membawa satu bibit tanaman. Namun, pada hari pelaksanaan satu anak tidak bisa ikut karena sakit sehingga hanya 99 bibit yang ditanam. Jadilah tempat itu dinamakan Kampung 99 Pepohonan.

Sekarang kampung itu sudah rimbun, banyak pohon tumbuh di sekitar rumah-rumah mereka, udara sejuk yang langka itu bisa dinikmati dengan mudah. Yang lebih membahagiakan bagi Eddy adalah ternyata banyak burung dan hewan lain yang datang. "Lihat tuh tupai pun senang berada disini," katanya sambil menunjuk pada sepasang tupai yang berkejaran di ranting pohon.

Tidak hanya hewan, manusia pun banyak yang ingin merasakan kenikmatan berada di kampung itu. Sesekali, keluarga Eddy harus mengalah tidur di rumah saudaranya yang lain karena rumahnya dipinjam pengunjung. Kampung 99 Pepohonan telah menjadi alternatif wisata bagi keluarga.

Gambar pinjam dari ALiF

Minggu, 09 November 2008

Ekspresi Iman

Minggu, 09 November 2008

Apakah iman itu butuh ekspresi? Aku pikir iya. Sebab iman tanpa ekspresi seperti sayur tanpa garam. Ekspresi itu membuat iman seperti rumah yang berhias taman yang indah. Seperti kayu polos yang berubah menjadi bernilai karena dihias ukiran. Seperti juga pagi hari yang sejuk bertambah riang dengan kicauan burung.

Menengadahkan tangan dan dengan khidmad mengucap "alhamdulillah" setelah menerima gaji pertama, itu bentuk ekspresi. Indah bukan? Atau saat tesandung batu di jalan kemudian kita melihat ke arah langit sambil berucap, "Astaghfirullah. Engkau mengingatkanku dengan hal yang kecil sebelum hal yang besar menimpaku."

Sesimpel itukah? Iya. Tapi ada juga yang mahal. Bahkan sangat mahal, seperti membangun masjid yang berkubahkan emas. Ada juga yang unik, dengan menanam pohon dan hidup bersama alam. Aku akan cerita keduanya.

Bersama seorang kawan, aku hendak berkunjung ke Kampung 99 Pepohonan di daerah Cinere. Sebuah kampung yang unik, seunik orang-orang yang tinggal di dalamnya. Unik karena pemikiran mereka berbeda dengan kebanyakan orang.

Waktu sudah hampir masuk 'Asyar. Kebetulan jalan ke Kampung 99 searah dan dekat dengan Masjid Kubah Emas, masjid yang terkenal itu. Aku bilang pada kawanku, "shalat 'Asyar di Masjid Kubah Emas yuk!" Syukurlah kawanku mau.

Kami harus memarkir motor di luar area masjid yang luasnya minta ampun. Jarak tempat parkir ke masjid kira-kira 200 meter. Sambil berjalan, aku memandangi masjid yang tampak seperti berada di lembah. Baru kali ini aku berkunjung ke sini. Aku pun langsung kagum pada keindahannya. Sangat megah dilihat dari kejauhan.

"Kenapa ya Mam," kawanku bicara, "uang untuk membangun masjid itu tidak dipakai untuk beramal saja?"

"Maksudmu apa," aku balik tanya.

"Coba bayangkan jika uang sebanyak itu dibagikan ke fakir miskin, atau untuk biaya anak sekolah yang kurang mampu. Betapa banyak yang bisa dibantu."

"Nggak tau ya. Tapi coba lihat, disekitar tempat parkir tadi banyak orang yang jualan. Mereka bisa jualan karena ada masjid ini. Tukang parkir tadi juga dapat penghasilan kan?"

"Hmmmmm..." dahi kawanku berkerut.

"Tuh, lihat juga," aku lanjutkan tanpa menunggu kawanku menjawab, "masjid ini juga menyerap banyak tenaga kerja. Ada tukang kebon, satpam, penjaga toilet, petugas kebersihan, pengurus masjid. Ternyata banyak juga kan yang tertolong hidupnya setelah masjid ini berdiri?"

Dahi kawanku tidak berkerut lagi, tapi tetap tidak menjawab. Kami sampai ke pelataran masjid. Adzan yang indah berkumandang. Bergegaslah aku dan kawanku mencari tempat wudu. Kemudian kami shalat. Banyak juga pengunjung masjid sore ini, meski bukan hari libur. Penjual air mineral di tempat parkir tadi bilang, kalau hari sabtu dan minggu, atau hari libur, pengunjungnya ramai sekali. Banyak juga yang datang dari jauh. Rupanya tempat ini sudah menjadi tujuan wisata.

Selesai shalat aku dan kawanku menuju tempat parkir. Eh ada orang bawa kamera menghadang kami. "Mas mau dipotret untuk kenang-kenangan? Bisa berlatarbelakang masjid, bagus mas, nih contohnya."

"Kami sedang buru-buru Pak, lain kali aja kalau kemari lagi. Terima kasih." Setelah aku berkata demikian, orang itu berlalu dengan menganggukkan kepalanya pada kami.

"Tuh kan, tukang potret tadi juga dapat ladang pekerjaannya." kataku sambil menepuk bahu kawanku. Ia cuma tersenyum saja.

Semoga saja, pemilik masjid ini membangunnya bukan karena niat sombong atau pamer. Tapi karna ingin mencari indahnya iman dengan mengekspresikannya. Bentuk ekspresi inilah yang ia mampu. Menurutku, tidak ada masalah dengan bentuk ekspresi seperti ini, karena tidak mengganggu orang lain, bahkan mendatangkan manfaat untuk lingkungan sekitarnya.

Bersambung ya....

12duadua © 2014