Pages

Minggu, 09 November 2008

Ekspresi Iman

Minggu, 09 November 2008

Apakah iman itu butuh ekspresi? Aku pikir iya. Sebab iman tanpa ekspresi seperti sayur tanpa garam. Ekspresi itu membuat iman seperti rumah yang berhias taman yang indah. Seperti kayu polos yang berubah menjadi bernilai karena dihias ukiran. Seperti juga pagi hari yang sejuk bertambah riang dengan kicauan burung.

Menengadahkan tangan dan dengan khidmad mengucap "alhamdulillah" setelah menerima gaji pertama, itu bentuk ekspresi. Indah bukan? Atau saat tesandung batu di jalan kemudian kita melihat ke arah langit sambil berucap, "Astaghfirullah. Engkau mengingatkanku dengan hal yang kecil sebelum hal yang besar menimpaku."

Sesimpel itukah? Iya. Tapi ada juga yang mahal. Bahkan sangat mahal, seperti membangun masjid yang berkubahkan emas. Ada juga yang unik, dengan menanam pohon dan hidup bersama alam. Aku akan cerita keduanya.

Bersama seorang kawan, aku hendak berkunjung ke Kampung 99 Pepohonan di daerah Cinere. Sebuah kampung yang unik, seunik orang-orang yang tinggal di dalamnya. Unik karena pemikiran mereka berbeda dengan kebanyakan orang.

Waktu sudah hampir masuk 'Asyar. Kebetulan jalan ke Kampung 99 searah dan dekat dengan Masjid Kubah Emas, masjid yang terkenal itu. Aku bilang pada kawanku, "shalat 'Asyar di Masjid Kubah Emas yuk!" Syukurlah kawanku mau.

Kami harus memarkir motor di luar area masjid yang luasnya minta ampun. Jarak tempat parkir ke masjid kira-kira 200 meter. Sambil berjalan, aku memandangi masjid yang tampak seperti berada di lembah. Baru kali ini aku berkunjung ke sini. Aku pun langsung kagum pada keindahannya. Sangat megah dilihat dari kejauhan.

"Kenapa ya Mam," kawanku bicara, "uang untuk membangun masjid itu tidak dipakai untuk beramal saja?"

"Maksudmu apa," aku balik tanya.

"Coba bayangkan jika uang sebanyak itu dibagikan ke fakir miskin, atau untuk biaya anak sekolah yang kurang mampu. Betapa banyak yang bisa dibantu."

"Nggak tau ya. Tapi coba lihat, disekitar tempat parkir tadi banyak orang yang jualan. Mereka bisa jualan karena ada masjid ini. Tukang parkir tadi juga dapat penghasilan kan?"

"Hmmmmm..." dahi kawanku berkerut.

"Tuh, lihat juga," aku lanjutkan tanpa menunggu kawanku menjawab, "masjid ini juga menyerap banyak tenaga kerja. Ada tukang kebon, satpam, penjaga toilet, petugas kebersihan, pengurus masjid. Ternyata banyak juga kan yang tertolong hidupnya setelah masjid ini berdiri?"

Dahi kawanku tidak berkerut lagi, tapi tetap tidak menjawab. Kami sampai ke pelataran masjid. Adzan yang indah berkumandang. Bergegaslah aku dan kawanku mencari tempat wudu. Kemudian kami shalat. Banyak juga pengunjung masjid sore ini, meski bukan hari libur. Penjual air mineral di tempat parkir tadi bilang, kalau hari sabtu dan minggu, atau hari libur, pengunjungnya ramai sekali. Banyak juga yang datang dari jauh. Rupanya tempat ini sudah menjadi tujuan wisata.

Selesai shalat aku dan kawanku menuju tempat parkir. Eh ada orang bawa kamera menghadang kami. "Mas mau dipotret untuk kenang-kenangan? Bisa berlatarbelakang masjid, bagus mas, nih contohnya."

"Kami sedang buru-buru Pak, lain kali aja kalau kemari lagi. Terima kasih." Setelah aku berkata demikian, orang itu berlalu dengan menganggukkan kepalanya pada kami.

"Tuh kan, tukang potret tadi juga dapat ladang pekerjaannya." kataku sambil menepuk bahu kawanku. Ia cuma tersenyum saja.

Semoga saja, pemilik masjid ini membangunnya bukan karena niat sombong atau pamer. Tapi karna ingin mencari indahnya iman dengan mengekspresikannya. Bentuk ekspresi inilah yang ia mampu. Menurutku, tidak ada masalah dengan bentuk ekspresi seperti ini, karena tidak mengganggu orang lain, bahkan mendatangkan manfaat untuk lingkungan sekitarnya.

Bersambung ya....

Kamis, 06 November 2008

[ALiF 10] Hidup Bersama Teknologi

Kamis, 06 November 2008

Aku tergelitik dengan curhat seorang bloger. Setelah telpon genggam booming, ia tidak lagi bisa menikmati kehangatan ngobrol dengan ayahnya. Sekarang, sering sekali orang tuanya sering sekali masih membicarakan pekerjaan ketika di rumah. Di mobil pun terkadang ayahnya berbicara dengan teman kerjanya. Dulu, bersama keluarga dalam mobil bisa menjadi ajang diskusi yang hangat.

Saking jengkelnya dia bilang "Telepon genggam tidak jarang memaksa manusia (secara sadar maupun tidak sadar) untuk memotong waktu pribadinya (waktu santai, waktu bersama keluarga, waktu merenung, dsb) untuk menambah waktu kerja. Jadi tidak ada penghematan waktu, yang ada adalah pengorbanan waktu untuk pekerjaan."

Trenyuh juga aku membaca penelitian di Inggris yang dikutip detikinet, "Sejumlah ABG (Anak Baru Gede) ternyata terhinggap junk sleep gadget alias tidak cukup tidur akibat kecanduan gadget. Akibatnya, kesehatan mereka pun terancam."

Manusia memang selalu berfikir bagaimana menjalani hidup dengan lebih mudah. Olah pikir manusia itu menghasilkan teknologi. Gadget, yang merupakan bagian perkembangan teknologi, berkembang terus. Hidup manusia semakin lama semakin mudah.

Namun demikian, segala macam kemudahan itu bisa "menjebak" manusia sendiri. Pernah nonton Wall-E, film animasi yang lucu sekaligus syarat makna itu? Aku paling terkesan dengan penggambaran keadaan manusia disaat perkembangan teknologi mencapai puncak. Manusia sudah sepenuhnya tergantung pada semua peralatan yang ia ciptakan sendiri. Semua aktifitas manusia dibantu teknologi, bahkan untuk sikat gigi sekalipun.

Ketergantungan itu membuat otot-otot tubuhnya melemah karena jarang dipakai. Sekali terjatuh dari kursi berjalan, susah sekali untuk bangun, apalagi berjalan.

Tentu bukan jaman seperti itu yang ingin kita tuju. Tetapi jaman dimana manusia bisa hidup bersama teknologi, artinya teknologi tetap menjadi sarana yang membuat hidup manusia lebih mudah, tetapi tidak menghilangkan sisi kemanusiaannya.

Setelah menghasilkan teknologi, sepertinya manusia sudah harus berfikir bagaimana menggunakan teknologi itu dengan bijak.

----------------------------------------------
Alhamdulillah it's Friday
"Hidup Bersama Teknologi"
Terbit, Jum'at 7 November 2008
----------------------------------------------

Minggu, 02 November 2008

Menjadi Cermin

Minggu, 02 November 2008

"Imam sudah yakin, berkarir di dunia jurnalistik?"

Pertanyaan ini selalu aku terima sejak awal bergabung dengang ALiF. Ya, wajar saja. Bahkan sangat wajar, sekalipun ada yang menyertainya dengan rasa pesimis. Memang, pada umumnya orang harus menaiki tangga dari anak tangga bawah ke anak tangga diatasnya untuk mencapai ketinggian. Anak tangga itu harus jelas biar mudah dipijak. Agar bisa jelas, harus punya kemampuan melihatnya. Kebanyakan orang masih percaya kalau kemampuan paling baik diperoleh dari pendidikan formal. Nah, aku lulusan statistik, jadi tanggaku adalah statistik.

Dalam usaha menaiki tangga statistik, aku melihat dengan samar, ternyata disamping ada tangga lain, tangga tulis-menulis. Sesekali aku meliriknya. Lama-lama menjadi tertarik. Dari sesekali menjadi berkali-kali dan akhirnya tidak hanya melirik, tapi melihat. Kemudian aku berusaha mencari-cari, apa yang diperlukan untuk bisa melihat dengan jelas. Mulailah aku belajar menulis. Berkali-kali aku coba menulis. Tapi, belum genap satu paragraf, aku merobek dan membuangnya. Hihihi....malu membacanya kembali.

Tulisan yang berhasil aku tulis secara penuh sampai paragraf akhir hanyalah surat yang aku tujukan kepada perempuan yang sekarang menjadi istriku. Itu pun setelah menghabiskan banyak kertas dan merenung cukup lama. Mungkin kalau jaman dulu sudah disebut semedi. Tapi setelah kami menikah dia bilang tulisan-tulisanku dulu garing banget. Glodak.....Wah, kalau dia dulu bilang begitu, aku sudah bunuh diri, terjun ke sumur bor. Hehehehe.... Malu banget.

Sampai suatu saat aku kenal multiply ini. Aku coba menulis kembali. Malu? Enggak. Sejak aku putuskan bergabung multiply, aku putus syaraf maluku. Tulisan garing, ah bodo amat. Yang penting aku punya jurnal. Dengan begitu aku punya sejarah. Dengan begitu anak cucuku nanti bisa baca. Dengan baca mereka akan tahu banyak tentang ayah atau kakeknya. Alhamdulillah kalau sekarang ada yang mau baca dan bisa dapat sesuatu dari situ.

Dari multiply ini juga, aku kenal Hagi. Dialah yang mengajak aku ikut dalam proyek membangun majalah. Namanya Alhamdulillah its Friday disingkat ALiF. Ternyata dia yang menjadi pimrednya dan ternyata juga penerbit Lentera Hati yang menjadi induknya. Surprise sekali menerima ajakan Hagi. Setelah membuat pertimbangan, aku mengiyakan. Aku cocok sekali dengan konsep majalahnya.

Akhirnya, kakiku benar-benar memijak anak tangga itu.

Kemudian masih ada satu pertanyaan lagi. ALiF kan majalah Islam sedangkan aku bukanlah orang yang pandai nulis tentang Islam. Sekali lagi, latar belakang pendidikanku bukan dari sekolah Islam. Belajar Islam hanya aku jalani dari membaca buku dan kadang mendengar ceramah di TV (itupun kalau aku sreg sama penceramahnya). Pernah juga sih sekolah Islam, dulu sewaktu SD sorenya aku masuk sekolah sore (madrasah diniyah), tapi cuma sampai SD saja, selanjutnya tidak sama sekali. Bisakah aku di ALiF?

Ya kalau disuruh nulis untuk mengajari pembaca tentang Islam, tentu aku tidak bisa. Nah, kalau begitu, enaknya menjadi cermin saja. Namanya cermin ya hanya memantulkan cahaya aja, dia sendiri tidak punya. Cahayanya bisa dari mana aja, dari kerlip kunang-kunang pun bisa. Syaratnya cuma satu, cerminnya harus bersih.

Jadi....mohon bantuan teman-teman untuk selalu memberi kritikan dan masukan, agar cermin ini selalu bersih, biar selalu bisa memantulkan dengan sempurnya. Mau kan.......?

Senin, 20 Oktober 2008

Tret-tet-tet Pindah ke Jakarta

Senin, 20 Oktober 2008

Akhirnya kami pindah ke Jakarta.

Sebenarnya sih bukan Jakarta, tepatnya di selatan Jakarta. Kami senang, tapi bukan karena Jakartanya, melainkan karena akhirnya kami bisa kumpul bareng. Setiap hari bisa bertemu, bisa merasakan menjadi keluarga yang sebenarnya.

Banyak hal baru yang kami temui yang jauh berbeda dengan lingkungan kami dulu. Seperti suatu saat sepulang kerja, istriku cerita, "Yah, orang-orang di kereta kayak robot semua." Maksudnya, segitu banyak orang di kereta sama semua. Hanya diam, pasang muka tegang dan jarang yang peduli dengan orang-orang di dekatnya. Begitu pintu kereta dibuka, semua bergegas, berebut keluar duluan. Kalo ada yang coba menyapa sudah curiga, jangan-jangan ada maksud tidak baik.

Memang, yang lebih banyak bersinggungan dengan lingkungan Jakarta adalah istriku. Kalau aku, kebetulan tempat kerjaku tidak terlalu jauh, dan tidak perlu naik angkutan umum, hanya 15 sampai 30 menit naik motor.

"Ada yang senyum-senyum Yah," kata istriku suatu hari. "Orang gila ya?" tanyaku meledek. "Yee..bukan!" Kemudian ia cerita. Tadi ia memperhatikan bapak penjualan minuman di kereta. Orang itu begitu menikmati pekerjaannya, meracik dan menata jualannya. Sesekali ngobrol dengan teman sesama penjual yang mengeluh susahnya mencari rejeki. Dengan senyum bapak itu berkata, "namanya juga jualan, kadang untung kadang juga buntung, yang penting usaha." Kalo nggak ada yang ngajak ngobrol mulutnya bersenandung, entah lagu apa yang dia hafal, kedengarannya cuma mendengung.

Dua cerita dalam kereta membuatku berfikir, mengapa bapak itu bisa menikmati hidup. Bahkan bisa membuat senang orang lain di sekitarnya (ya..paling tidak pada istriku yang melihatnya). Padahal, dilihat dari pakaian dan segala aksesoris yang menempel, status sosialnya jauh dibawah para penumpang kereta. Benar juga kata orang, bahagia itu tidak ditentukan oleh pakaian dan status sosial.

Ada juga cerita yang menggelikan. Biasanya, penumpang yang saling ngobrol itu, sudah kenal diantara mereka, entah teman satu kantor atau satu kampung. Ada sekumpulan bapak-bapak lagi ngobrol, "wah enak para istri ya, taunya nrima duit tiap bulan, nggak tau kalo kita jungkir balik, peras keringan dapatkan duit." Bapak yang lain mengiyakan.

Di hari lain, ada ibu-ibu kumpul, "jaman sekarang susah, apa-apa mahal, pusing ngatur pengeluaran, enak para bapak ya, nggak mikirin gimana ngatur belanjaan, kasih duit beres, nggak tau kalau duitnya mepet." Wah kok bisa klop gitu ya, apa mungkin bapak-bapak dan ibu-ibu itu berpasangan, maksudnya suami-istri? Hehehe.

Ada juga sih cerita yang menyedihkan dan menyeramkan, tapi nggak usahlah diceritakan disini. Biar nggak nambah sumpek dan takut.

Kami berusaha menikmati semuanya, susah dan senang sudah menjadi konsekuensi kami. Semoga saja kepindahan kami tidak menambah ruwet Ibu Kota ini.

Gambar ngambil dari http://www.chalet-park.co.uk/

Jumat, 19 September 2008

Masa depan itu?

Jumat, 19 September 2008
Menakutkan! Sama seperti memasuki lorong gelap yang semakin kita masuk, keadaan tambah gelap. Tidak tahu apa yang ada di kanan, kiri juga depan. Mungkin ada ular, lintah, kelelawar, semak berduri, atau justru buah-buahan yang enak untuk dimakan. Tidak jelas juga, seperti apa ujung lorong itu. Yang pasti, jika terus maju, menyusurinya, kita akan sampai kesana. Kapan? Nah itu yang tidak tahu. Karena menakutkan, kita mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di ujung sana. Bersusah-susah sekarang tidak apa-apa, yang penting di ujung nanti kita bahagia karena sudah siap dengan apa yang terjadi.

Atau seperti pemandangan yang indah yang bisa kita rasakan dari tempat kita berdiri. Meski tempat itu jauh, tapi gelombangnya bisa dirasakan dihati tanpa perlu kita pergi kesana. Kita hanya perlu menyiapkan hati untuk menerimanya. Menyelaraskan frekuensinya, agar bisa membentuk harmoni. Tak perlu kesana? Iya. Justru, saat kita berada disana, tidak ada yang bisa kita nikmati. Sama seperti memandang bulan. Dari bumi, ia begitu indah dan menawan. Tapi, apa jadinya setelah tau seperti apa rupa ia sebenarnya? Jauh dari kesan yang indah.

Atau, justru tidak kedua-duanya. Hampa. Seperti gelembung sabun yang menarik untuk dikejar. Semakin dikejar, ia semakin menjauh. Tapi setelah bisa diraih. Plup.. Meletus dan hilang. Kemudian cari lagi gelembung yang lain. Terus demikian, sampai tidak ada yang bisa mencipta gelembung itu lagi.

Ada yang bisa kasih saran?

Kamis, 18 September 2008

Homo Ayanugello

Kamis, 18 September 2008
Aku dapat kisah menarik dari blognya Dewi Lestari. Setelah digosipkan pindah ke agama Budha biar mudah untuk cerai dengan Marcell ia pun menjawab:

faktanya: Setelah bercerai, Dewi dan Marcell kini berpikir-pikir untuk menjadi penyembah Dewa Tapir. Sebuah aliran berhala zaman baru. Para penyembah Dewa Tapir ini percaya akan datangnya hari kiamat bernama The Armagedillo, di mana semua makhluk akan musnah kecuali hewan tapir dan para manusia penyembah Dewa Tapir.

Kelak, tapir dan manusia akan kawin silang dan menghasilkan spesies baru bernama Homo Ayanugello. Spesies baru ini akan menggantikan Homo Sapiens sebagai penguasa Bumi. Di bawah dominasi spesies Homo Ayanugello, kehidupan di Bumi akan berubah total. Dijamin akan ada kemudahan untuk segalanya. Baik itu kawin, cerai, tidak kawin, bikin KTP, bikin SIM, bayar pajak, dsb.

Aku yakin, ini fakta karangannya dia aja. Tapi, aku kagum pada imajinasinya yang luar biasa itu. Buku-bukunya juga suka, banyak hal yang sebelumnya tidak pernah aku banyangnya.

Bagaimana ya caranya biar bisa punya segudang imajinasi itu? Sering meditasi kayak dia kali.

Selasa, 16 September 2008

Apa yang bisa kita buat?

Selasa, 16 September 2008
Sumbangan kecil ini hanya akan berarti jika anda menanam dan merawatnya
(tag pada souvenir itu)

Sudah kali kedua, aku menerima souvenir berupa tanaman hidup. Yang pertama saat temenku menikah, dan kali ini aku terima saat acara Eagle Award, Gala Premiere.

Ada temen media yang heran, "Ini tamanam sungguhan," katanya. Wajar saja, saat pertama kali menerima souvenir semacam ini, aku juga surprise banget. Secara tujuan, souvenir ini sangat mengena. Souvenir kan tujuannya agar selalu dikenang. Kalau benda mati, mungkin setelah diterima langsung ditaruh, lalau dibiarkan. Yang ini, harus ditanam dan dirawat. Masih ada interaksi secara rutin. Pas kebetulan yang ngasih berkunjung, bisa dilihat sama-sama bagaimana perkembangannya.

Oh ya. Kedua souvenir hidup yang aku terima sama adalah bibit Adenium. Dilihat dari bentuk dan daunnya, kayaknya satu jenis (kayaknya? soalnya nggak ngerti dunia tanaman).

Tas, wadah souvenir itu juga punya semangat yang sama, USE ecofriendly bags. Kalau tas semacam ini, banyak disebar, akan menghemat tas plastik, atau, bahkan bisa menghapus tas pencemar lingkungan itu, dari peradaran (ah teori, hehehe...).

Aku terharu melihat lima film dokumenter yang menjadi finalis kompetisi itu. Semuanya bercerita tentang inisiatif seseorang untuk melestarikan lingkungan. Dan semuanya berawal dari bencana yang mereka alami. Prahara Tsunami Bertabur Bakau, cerita Baba Akong yang gigih menanam bakau setelah daerah tempat tinggalnya terkubur akibat tsunami.

Buah Yang Menunggu Mati, cerita jerih payah petani apel di Batu yang tidak ingin apelnya punah. Ya, punah karena tanahnya banyak kehilangan unsur hara akibat penggunaan bahan kimia yang berlebihan. Rusaknya tanah itu menyebabkan produksi apel Batu terus-menerus turun. Yang mengejutkan, ada pengakuan petani apel, "Apel sekarang sudah tidak layak dikonsumsi lagi, sudah terlalu banyak bahan kimia yang terkandung didalamnya. Habis gimana, kalau nggak gitu tidak bisa panen." Ini yang menyebabkan Chamim resah. Bersama kelompoknya, ia membuat gerakan rehabilitasi tanah.

Pulau Bangka Menangis, film ini bercerita tentang rusaknya Pulau Bangka akibat penambangan timah. Ada salah seorang warganya yang prihatin. Lalu ia menanam sengon sebanyak-banyaknya. Selain untuk mempersempit lahan tambang, ia berharap dapat menghijaukan Pulau Bangka.

Tanah Terakhir, kalau yang ini bercerita kearifan suku Dayak untuk melestarikan hutan. Tetapi sayang, hutan yang mereka lestarikan adalah hutan yang terakhir. Yang lainnya sudah habis ditebang dan kayunya dijual murah kepada penadah.

Hampir sama dengan Tanah Terakhir, Menjual Mimpi Di Sambak, bercerita pelestarian hutan di desa Sambak, Magelang. Penduduk desa giat menanam kembali hutan yang sudah rusak. Mereka sudah merasakan bagaimana hidup tanpa hutan. Air sulit, kalau tidak itu ya kebanyakan air, banjir.

Saya angkat topi pada mereka semua. Di pinggiran Jakarta juga ada Kampung 99, yang hijau dan sejuk. Di Surabaya ada ibu-ibu PKK yang mengelola sendiri sampah rumah tangga di lingkunganya. Nah, apa yang bisa kita buat?
12duadua © 2014