Pages

Senin, 20 Oktober 2008

Tret-tet-tet Pindah ke Jakarta

Senin, 20 Oktober 2008

Akhirnya kami pindah ke Jakarta.

Sebenarnya sih bukan Jakarta, tepatnya di selatan Jakarta. Kami senang, tapi bukan karena Jakartanya, melainkan karena akhirnya kami bisa kumpul bareng. Setiap hari bisa bertemu, bisa merasakan menjadi keluarga yang sebenarnya.

Banyak hal baru yang kami temui yang jauh berbeda dengan lingkungan kami dulu. Seperti suatu saat sepulang kerja, istriku cerita, "Yah, orang-orang di kereta kayak robot semua." Maksudnya, segitu banyak orang di kereta sama semua. Hanya diam, pasang muka tegang dan jarang yang peduli dengan orang-orang di dekatnya. Begitu pintu kereta dibuka, semua bergegas, berebut keluar duluan. Kalo ada yang coba menyapa sudah curiga, jangan-jangan ada maksud tidak baik.

Memang, yang lebih banyak bersinggungan dengan lingkungan Jakarta adalah istriku. Kalau aku, kebetulan tempat kerjaku tidak terlalu jauh, dan tidak perlu naik angkutan umum, hanya 15 sampai 30 menit naik motor.

"Ada yang senyum-senyum Yah," kata istriku suatu hari. "Orang gila ya?" tanyaku meledek. "Yee..bukan!" Kemudian ia cerita. Tadi ia memperhatikan bapak penjualan minuman di kereta. Orang itu begitu menikmati pekerjaannya, meracik dan menata jualannya. Sesekali ngobrol dengan teman sesama penjual yang mengeluh susahnya mencari rejeki. Dengan senyum bapak itu berkata, "namanya juga jualan, kadang untung kadang juga buntung, yang penting usaha." Kalo nggak ada yang ngajak ngobrol mulutnya bersenandung, entah lagu apa yang dia hafal, kedengarannya cuma mendengung.

Dua cerita dalam kereta membuatku berfikir, mengapa bapak itu bisa menikmati hidup. Bahkan bisa membuat senang orang lain di sekitarnya (ya..paling tidak pada istriku yang melihatnya). Padahal, dilihat dari pakaian dan segala aksesoris yang menempel, status sosialnya jauh dibawah para penumpang kereta. Benar juga kata orang, bahagia itu tidak ditentukan oleh pakaian dan status sosial.

Ada juga cerita yang menggelikan. Biasanya, penumpang yang saling ngobrol itu, sudah kenal diantara mereka, entah teman satu kantor atau satu kampung. Ada sekumpulan bapak-bapak lagi ngobrol, "wah enak para istri ya, taunya nrima duit tiap bulan, nggak tau kalo kita jungkir balik, peras keringan dapatkan duit." Bapak yang lain mengiyakan.

Di hari lain, ada ibu-ibu kumpul, "jaman sekarang susah, apa-apa mahal, pusing ngatur pengeluaran, enak para bapak ya, nggak mikirin gimana ngatur belanjaan, kasih duit beres, nggak tau kalau duitnya mepet." Wah kok bisa klop gitu ya, apa mungkin bapak-bapak dan ibu-ibu itu berpasangan, maksudnya suami-istri? Hehehe.

Ada juga sih cerita yang menyedihkan dan menyeramkan, tapi nggak usahlah diceritakan disini. Biar nggak nambah sumpek dan takut.

Kami berusaha menikmati semuanya, susah dan senang sudah menjadi konsekuensi kami. Semoga saja kepindahan kami tidak menambah ruwet Ibu Kota ini.

Gambar ngambil dari http://www.chalet-park.co.uk/

Jumat, 19 September 2008

Masa depan itu?

Jumat, 19 September 2008
Menakutkan! Sama seperti memasuki lorong gelap yang semakin kita masuk, keadaan tambah gelap. Tidak tahu apa yang ada di kanan, kiri juga depan. Mungkin ada ular, lintah, kelelawar, semak berduri, atau justru buah-buahan yang enak untuk dimakan. Tidak jelas juga, seperti apa ujung lorong itu. Yang pasti, jika terus maju, menyusurinya, kita akan sampai kesana. Kapan? Nah itu yang tidak tahu. Karena menakutkan, kita mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di ujung sana. Bersusah-susah sekarang tidak apa-apa, yang penting di ujung nanti kita bahagia karena sudah siap dengan apa yang terjadi.

Atau seperti pemandangan yang indah yang bisa kita rasakan dari tempat kita berdiri. Meski tempat itu jauh, tapi gelombangnya bisa dirasakan dihati tanpa perlu kita pergi kesana. Kita hanya perlu menyiapkan hati untuk menerimanya. Menyelaraskan frekuensinya, agar bisa membentuk harmoni. Tak perlu kesana? Iya. Justru, saat kita berada disana, tidak ada yang bisa kita nikmati. Sama seperti memandang bulan. Dari bumi, ia begitu indah dan menawan. Tapi, apa jadinya setelah tau seperti apa rupa ia sebenarnya? Jauh dari kesan yang indah.

Atau, justru tidak kedua-duanya. Hampa. Seperti gelembung sabun yang menarik untuk dikejar. Semakin dikejar, ia semakin menjauh. Tapi setelah bisa diraih. Plup.. Meletus dan hilang. Kemudian cari lagi gelembung yang lain. Terus demikian, sampai tidak ada yang bisa mencipta gelembung itu lagi.

Ada yang bisa kasih saran?

Kamis, 18 September 2008

Homo Ayanugello

Kamis, 18 September 2008
Aku dapat kisah menarik dari blognya Dewi Lestari. Setelah digosipkan pindah ke agama Budha biar mudah untuk cerai dengan Marcell ia pun menjawab:

faktanya: Setelah bercerai, Dewi dan Marcell kini berpikir-pikir untuk menjadi penyembah Dewa Tapir. Sebuah aliran berhala zaman baru. Para penyembah Dewa Tapir ini percaya akan datangnya hari kiamat bernama The Armagedillo, di mana semua makhluk akan musnah kecuali hewan tapir dan para manusia penyembah Dewa Tapir.

Kelak, tapir dan manusia akan kawin silang dan menghasilkan spesies baru bernama Homo Ayanugello. Spesies baru ini akan menggantikan Homo Sapiens sebagai penguasa Bumi. Di bawah dominasi spesies Homo Ayanugello, kehidupan di Bumi akan berubah total. Dijamin akan ada kemudahan untuk segalanya. Baik itu kawin, cerai, tidak kawin, bikin KTP, bikin SIM, bayar pajak, dsb.

Aku yakin, ini fakta karangannya dia aja. Tapi, aku kagum pada imajinasinya yang luar biasa itu. Buku-bukunya juga suka, banyak hal yang sebelumnya tidak pernah aku banyangnya.

Bagaimana ya caranya biar bisa punya segudang imajinasi itu? Sering meditasi kayak dia kali.

Selasa, 16 September 2008

Apa yang bisa kita buat?

Selasa, 16 September 2008
Sumbangan kecil ini hanya akan berarti jika anda menanam dan merawatnya
(tag pada souvenir itu)

Sudah kali kedua, aku menerima souvenir berupa tanaman hidup. Yang pertama saat temenku menikah, dan kali ini aku terima saat acara Eagle Award, Gala Premiere.

Ada temen media yang heran, "Ini tamanam sungguhan," katanya. Wajar saja, saat pertama kali menerima souvenir semacam ini, aku juga surprise banget. Secara tujuan, souvenir ini sangat mengena. Souvenir kan tujuannya agar selalu dikenang. Kalau benda mati, mungkin setelah diterima langsung ditaruh, lalau dibiarkan. Yang ini, harus ditanam dan dirawat. Masih ada interaksi secara rutin. Pas kebetulan yang ngasih berkunjung, bisa dilihat sama-sama bagaimana perkembangannya.

Oh ya. Kedua souvenir hidup yang aku terima sama adalah bibit Adenium. Dilihat dari bentuk dan daunnya, kayaknya satu jenis (kayaknya? soalnya nggak ngerti dunia tanaman).

Tas, wadah souvenir itu juga punya semangat yang sama, USE ecofriendly bags. Kalau tas semacam ini, banyak disebar, akan menghemat tas plastik, atau, bahkan bisa menghapus tas pencemar lingkungan itu, dari peradaran (ah teori, hehehe...).

Aku terharu melihat lima film dokumenter yang menjadi finalis kompetisi itu. Semuanya bercerita tentang inisiatif seseorang untuk melestarikan lingkungan. Dan semuanya berawal dari bencana yang mereka alami. Prahara Tsunami Bertabur Bakau, cerita Baba Akong yang gigih menanam bakau setelah daerah tempat tinggalnya terkubur akibat tsunami.

Buah Yang Menunggu Mati, cerita jerih payah petani apel di Batu yang tidak ingin apelnya punah. Ya, punah karena tanahnya banyak kehilangan unsur hara akibat penggunaan bahan kimia yang berlebihan. Rusaknya tanah itu menyebabkan produksi apel Batu terus-menerus turun. Yang mengejutkan, ada pengakuan petani apel, "Apel sekarang sudah tidak layak dikonsumsi lagi, sudah terlalu banyak bahan kimia yang terkandung didalamnya. Habis gimana, kalau nggak gitu tidak bisa panen." Ini yang menyebabkan Chamim resah. Bersama kelompoknya, ia membuat gerakan rehabilitasi tanah.

Pulau Bangka Menangis, film ini bercerita tentang rusaknya Pulau Bangka akibat penambangan timah. Ada salah seorang warganya yang prihatin. Lalu ia menanam sengon sebanyak-banyaknya. Selain untuk mempersempit lahan tambang, ia berharap dapat menghijaukan Pulau Bangka.

Tanah Terakhir, kalau yang ini bercerita kearifan suku Dayak untuk melestarikan hutan. Tetapi sayang, hutan yang mereka lestarikan adalah hutan yang terakhir. Yang lainnya sudah habis ditebang dan kayunya dijual murah kepada penadah.

Hampir sama dengan Tanah Terakhir, Menjual Mimpi Di Sambak, bercerita pelestarian hutan di desa Sambak, Magelang. Penduduk desa giat menanam kembali hutan yang sudah rusak. Mereka sudah merasakan bagaimana hidup tanpa hutan. Air sulit, kalau tidak itu ya kebanyakan air, banjir.

Saya angkat topi pada mereka semua. Di pinggiran Jakarta juga ada Kampung 99, yang hijau dan sejuk. Di Surabaya ada ibu-ibu PKK yang mengelola sendiri sampah rumah tangga di lingkunganya. Nah, apa yang bisa kita buat?

Senin, 11 Agustus 2008

Telpun Aku Kalau Mau Dipindah

Senin, 11 Agustus 2008
Di gerobak kaki lima itu tertulis

Telpun aku kalau mau Di pindah 98272529
Sholikin koramil
JL Semanggi

Mau nggak ya petugas penggusuran menelpon pemiliknya??

Sabtu, 28 Juni 2008

[cerpen] Teman Sang Gagak

Sabtu, 28 Juni 2008

Aku duduk, termenung, mempertanyakan benarkah Dia selalu mencipta tanpa kesia-siaan? Benarkah semua terlahir karena suatu tugas tertentu? Punya maksud dan punya cita-cita? Kalau memang benar, lalu apa tugasku? untuk apa aku terlahir? Dan masihkah aku bisa bercita-cita? Sedangkan aku hanyalah seekor burung dengan sayap yang patah sebelah. Hidup sendiri tanpa teman. Burung gagak sepertiku yang bersayap lengkap pun hanya pembawa berita buruk, terbang berkeliling menyiarkan kematian.

Untuk sebuah cinta? Ah itu hanya bualan penyair yang mabuk kepayang. Aku menjadi seperti ini karena aku percaya bualannya. Katanya, cinta itu membawa hidup lebih bermakna. Saking percayanya aku bertaruh nyawa, berbaku hantam dengan si elang yang kurang ajar menggoda dan merayunya. Oh kekasihku dimanakah sekarang kamu berada?.

Menyesal juga rasanya, mengapa kugunakan sayap sebelah ini untuk menangkis serangannya. Lebih baik kuserahkan saja kepalaku pada cakarnya. Atau kuberikan leher ini biar dipatuknya sampai putus. Ah, seandainya kemarin aku mati.

Dulu, bila aku boleh memilih, ingin rasanya menjadi manusia. Meski ada kemungkinan menjadi mahklukNya yang paling hina, tetapi, bagaimanapun mereka masih punya harapan menjadi mahkluk yang paling tinggi dan bahagia di surga nanti. Mahkluk sepertiku ini tidak ada tempat di akhirat. Satu-satunya surga untukku hanyalah kesenangan di dunia ini. Ah, bodohnya mereka yang tidak berharap, yang tertipu dan terseret kesenangan semu.

"Dasar mahkluk yang selalu mengeluh."

Busyet, siapa yang bersuara itu. Sekelilingku hanya sepi. Tidak mungkin ada yang lain, selain diriku.

"Hei, turunlah dari punggungku."

Seketika aku melompat dari batu tempat dudukku. Benarkah batu ini yang berbicara? Perlahan aku mendekat kembali.

"Ya benar, ini aku."

"Bukankah engkau batu, mengapa bisa bicara?"

"Bener-benar mahkluk yang tak berguna, sudah pandai mengeluh, dungu lagi. Itulah akibatnya kalau kau selalu memikirkan kepentinganmu sendiri dan abai pada lingkungan sekitarmu."

"Maksudmu"

"Cobalah perhatikan semua yang ada di sekelilingmu, pohon-pohon, rumput, air, awan, gunung, bukit, semuanya bisa bicara. Terkadang mereka malah berteriak-teriak mengingatkan siapa saja yang ceroboh. Hanya saja banyak yang tidak mendengar. Yang tidak menggunakan hatinya untuk mendengar. Sebenarnya isyarat-isyarat dari mereka sangat jelas, jika orang-orang itu tidak hanya menggunakan mata yang dikepala, tetapi juga mata yang di dalam dadanya. Coba berputarlah, lihatlah mereka!"

Aku kembali memandang sekelilingku, menggunakan semua indra sesuai sarannya. Aku sangat terkejut. Semuanya menatap kearahku. Pohon-pohon melambaikan daunnya memberi salam. Angin bergerak memeluk tubuhku. Bahkan gunung dan bukit pun seolah berbicara dengan lekuk-lekuk kontur dan tonjolan bebatuan yang membentuknya.

Sejak saat itu, semuanya menjadi temanku, sahabatku. Setiap kali aku berjalan, menyusuri setapak masuk ke hutan, selalu saja bertemu mereka. Bebatuan, pohon, air, angin, gunung dan bukit menyambutku. Kadang bercanda dan tertawa, tetapi yang lebih sering mereka mencurahkan suara hatinya. Mereka sedih, mengapa mereka diperlakukan semena-mena tanpa sedikitpun berfikir bahwa mereka pun sebenarnya juga mahkluk ciptaanNya yang butuh perlindungan dan kasih sayang.

Sejak saat itu pula hidupku berubah, dari kesia-siaan menjadi penuh makna. Aku sudah melupakan bahwa aku ini seekor burung gagak yang patah sebelah sayapnya. Kini, hidup bagiku adalah sebuah pertemanan, saling membutuhkan dan kasih sayang. Inilah surgaku.

"Bukan!" kata batu tempatku berbaring.

"Mengapa bukan?"

"Percayalah padaku, ini bukan surgamu. Berjalanlah sana ke punggung bukit. Naiklah sampai keatasnya, di tepi jurangnya. Kamu akan menemukan dimana sebenarnya surgamu."

Aku menuruti sarannya. Aku melihat kearah bukit, ia memanggil-manggilku. Perlahan, dengan kebingunguan yang sangat aku melangkah setapak demi setapak naik sampai jurang yang ditunjuk batu itu.

"Terjunlah" kata bukit yang berjurang.

"Terjun, bagaimana aku bisa terjun. Aku sudah tidak bisa terbang lagi."

"Percayalah."

"Tapi."

"Yakinlah."

Ya, benar, yakin. Aku menjadi tahu bahwa yakin itu berbeda dengan percaya. Percaya itu dengan kepala, sedangkan yakin dengan hati. Mukjizat seorang nabi yang tidak masuk dikepala bisa tidak dipercayai, tetapi kalau melihatnya dengan hati bisa menjadi keyakinan, apa sih yang tidak bisa bagi Sang Pembuat Kejadian. Dengan keyakinan itulah aku melakukannya.

Aku melayang dari ketinggian sambil memejamkan mata. Buat apa melihat ke bawah sana, tempat yang akan membuatku remuk. Tidak hanya itu, aku menutup telinga dan memutus syaraf perasa, sehingga seolah aku mati duluan sebelum terbentur tanah. Aku tersadar kembali ketika sesuatu menahan tubuhkan sehingga tidak remuk membentur tanah. Aku tersangkut jaring perangkap burung. Apakah ini pertanda baik?

Di bawah, orang ramai bersorak-sorak. Jaring diturunkan. Salah satu dari mereka menangkapku. Kemudian menciumku, mengelus-elus lalu mengangkatku keatas. Orang-orang bersorak semakin keras. Aku dibawa beramai-ramai, beriringan sambil menyanyikan lagu kemenangan, lagu kebanggaan prajurit yang kembali dari medan perang membawa kemenangan. Ternyata memang benar, mereka para prajurit kerajaan. Orang-orang menyambut iring-iringan dengan sorakan yang tak kalah ramai.

Sampailah kami di depan istana yang megah. Penjaga dengan segera membuka pintunya. Semua berhenti, hanya dua orang saja yang membawaku masuk dan bertemu seorang perempuan yang sangat cantik, bergaun putih yang melambai. Sepertinya ia seorang permaisuri. Lagu kemenangan masih ramai terdengar diluar. Permaisuri itu menerimaku dengan senyumnya yang manis. Lesung di kedua pipinya menambah keanggunan wajahnya. Dengan sedikit berlari ia membawaku masuk ke dalam sebuah kamar.

"Paduka, ini yang dicari sudah kita dapatkan, semoga paduka berbahagia."

Permaisuri kemudian mengelus-elusku, merapikan bulu-buluku, mendekapku di dadanya yang hangat. Terbayang apa yang akan terjadi. Aku menjadi burung peliharaan seorang raja. Menjadi maskot kerajaan yang dipuja dan dihormati. Dilayani bak seorang pangeran calon penerus tahta. Mungkin inilah yang disebut-sebut teman-teman di hutan sebagai surgaku yang sebenarnya. Aku berucap syukur, "Tuhan, terima kasih. Kau tempatkan aku di tempat yang semulia ini."

Pesta diadakan. Tujuh hari tujuh malam. Di malam yang terakhir aku didandani. Kain sutera putih dibelitkan melingkar di leher menjuntai sampai ke ekorku. Kembali, aku dibawa ke kamar. Kali ini kelambu penutup tempat tidur dibuka. Tampaklah seseorang berbaring lemah diatas ranjang. Wajahnya pucat, matanya terpejam, tubuhnya lemas seperti kain basah terbujur. Tapi masih terlihat bekas-bekas kekekarannya. Meski pucat, ia tampak sangat tampan dan berwibawa. Ialah sang raja.

Saat tengah malam, keramaian pesta berhenti. Orang-orang yang berkumpul dialun-alun duduk bersimpuh mengelilingi panggung di tengah-tengahnya. Suasana hening dan hikmat. Permaisuri menyerahkanku pada seorang tua berkumis dan berjambang putih panjang, serasi dengan jubah dan ikat kepalanya. Dibawanya aku naik keatas panggung, lalu aku dibaringkan diatas sebuah papan kayu. Tidak lama kemudian, tangan kanannya diangkat keatas. Salah satu punggawa kerajaan berlari mendekat. Astaga, ia menyerahkan pisau. Seketika tubuhku gemetar, jantungku berdetak keras. Bayangan kesenangan berubah menjadi ketakutan. Orang tua itu berkomat-kamit, kemudian mengayunkan pisau ke arahku. Tamatlah riwayatku.

Di suatu pagi yang cerah, aku duduk diatas singgasana, dihadapan para punggawa. Aku memang sudah mati, tetapi jiwaku masih hidup, menyatu dengan jiwa sang raja. Ternyata saat itu raja sedang sakit parah. Seorang bijak mengatakan, raja akan sembuh jika memakan daging burung gagak yang patah sebelah sayapnya. Semua orang bingung, bagaimana mendapatkan obat bagi rajanya. Burung yang patah sayapnya tidak mungkin bisa terbang sangat sulit mencarinya kalau tidak menemukan sarangnya. Dimanakah sarang burung gagak?

Raja itu seorang yang bijaksana, sangat dipuja rakyatnya karena bisa mengusahakan kemakmuran bagi mereka. Semua petuahnya mendatangkan manfaat, termasuk petuah yang menganjurkan untuk baik-baik pada lingkungan. Pada alam yang menjadi gantungan hidup bagi semua. Tak heran jika seluruh wilayah kerajaan adalah tempat yang asri, indah dan nyaman. Peraturan dibuat agar semua rakyat tidak semena-mena memanfaatkan pohon, air dan batuan. Bahkan bercocok tanam pun diatur agar tidak membuat kerusakan lingkungan.

Tentu, semua rakyat bersedih karena sakitnya. Berbulan-bulan mereka mencari gagak yang patah sayapnya. Sampai pada puncak keputusasaan, mereka menaruh begitu saja jaring di bawah tebing bukit, tanpa berharap mendapatkan burung yang dimaksud. Beberapa kali ada burung yang tersangkut, tapi jelas bukan burung yang patah sayapnya karena jaring itu perangkap bagi burung yang bisa terbang. Sampai mukjizat itu terjadi, aku tersangkut jaring. Pantas saja mereka bersorak girang saat melihat sayapku.

Kini, aku mendapat teman yang baru. Jiwa raja yang bijak, jiwa yang hidup karena hatinya yang selalu mendengar dan melihat. Ketika bersamanya aku berkeliling menyusuri seluruh wilayah kerajaan, kami sampai di hutan, tempat teman-temanku dulu berada. Kami duduk diatas batu, kemudian batu itu berbicara, "berbahagialah kalian, karena pertemanan sejati adalah penyatuan jiwa."

 

Pada tengah malam yang sunyi, Sukabumi 2008

Selasa, 17 Juni 2008

Kagum Pada Orang Indonesia

Selasa, 17 Juni 2008
Rating:★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:Emha Ainun Najib
Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yaitu ngelu-elu yang berarti mengatakan sesuatu tetapi mengharapkan efek yang berlawanan. Misalnya ketika seorang ibu mengatakan kepada anaknya: "Kono, dolano terus, rausah mulih", sana main terus jangan pulang sekalian, ibu itu bukan berarti menyuruh beneran agar anaknya tidak pulang, tetapi mengharap sebaliknya, anaknya tidak melulu main.

Membaca "Kagum Pada Orang Indonesia", buku kumpulan tulisan Emha Ainun Najib di Suara Merdeka antara tahun 2003 sampai 2007 dan satu transkrip ceramahnya di berbagai tempat, terasa bahwa Cak Nun sedang ngelu-elu kita sebagai orang Indonesia. Dalam buku ini, ia banyak memuji sikap dan perilaku orang Indonesia, entah sebagai rakyat, pemimpin atau sebagai komunitas berbangsa.

Misalnya, ketika Indonesia dipandang masyarakat dunia sebagai negara miskin karena krisis yang berkepanjangan tetapi perilakunya tidak menunjukkan kekrisisannya, ia menulis: Para pakar dunia di bidang ilmu sosial, ilmu ekonomi, politik dan kebudayaan, sudah terbukti terjebak dalam mempersepsikan apa yang sesungguhnya terjadi pada bangsa kita. Penduduk seluruh dunia membayangkan Indonesia adalah kampung-kampung setengah hutan yang kumuh, banyak orang terduduk di tepi jalan karena busung lapar, mayat-mayat bergeletakan, perampok di sana sini, orang berbunuhan kareba berbagai sebab. Negeri yang penuh duka dan kegelapan.

Padahal di muka bumi tak ada orang yang bersukaria melebihi orang Indonesia. Tak ada orang berjoget siang malam melebihi bangsa Indonesia. Tak ada masyarakat berpesta, tertawa-tawa, ngeses baass buuss baass buuss, jagongan, kenduri, serta segala macam bentuk kehangatan hidup melebihi masyarakat kita....(hal 14)

Tentang jagongan itu, ia benar, sudah sering saya lihat di warung-warung kopi, banyak orang nongkrong disitu, anak-anak muda sampai orang tua berkumpul ngopi bareng. Kalau tidak percaya, coba sekali-sekali berkunjung ke kampung saya, pasti pemandangan seperti itu mudah didapat. Malah sekarang, warung kopi di emperan-emperan toko menjamur dan tidak pernah sepi pengunjung.

Siapa bilang Indonesia itu krisis, "tentang berita krisis negara kita itu hanyalah sebagai ungkapan kerendahan hati", katanya. Kalau kita bilang "Negara kita sedang krisis", itu semacam tawadhu' sosial, suatu sikap yang menghindarkan diri dari sikap sombong. Kalau pemerintah kita terus berhutang trilyunan dolar, itu strategi agar kita disangka miskin. Itu taktik agar dunia meremehkan kita. Karena kita punya prinsip religius bahwa semakin kita direndahkan oleh manusia, semakin tinggi derajat kita di hadapan Allah. Semakin kita diperhinakan oleh manusia di bumi, semakin mulia posisi kita di langit... (hal 15)

Mungkin Cak Nun sudah geregetan, seperti ibu yang geregetan pada anaknya yang sukanya main terus, dengan cara apa lagi mengingatkan orang-orang Indonesia. Ia sudah ngomong berbusa-busa di berbagai tempat, ada pengajian padang bulan, ada kenduri cinta dan lain-lain, tetapi tidak ada hasilnya. Sebelumnya, Mochtar Lubis sudah mengingatkan kita dengan mengidentifikasi lebih dari sepuluh sifat orang Indonesia yang kebanyakan bernada negatif. Taufik Ismail pada 1998 yang lalu juga menyindir kita dengan menulis sebuah puisi yang berjudul "Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia". Dengan ngelu-ngelu, kagum pada orang Indonesia, Cak Nun berharap orang Indonesia menjadi sadar.

Memang, terkadang kita perlu diolok-olok, dihina dan direndahkan, agar kita bangkit. Kalau olok-olok dan hinaan itu terasa menyakitkan, sebenarnya ngelu-elu itu lebih menyakitkan lagi. Boleh kita sakit hati, menggerutu atau sedih, tetapi apababila tidak merubah sikap kita, selamanya akan seperti itu.

Detail Buku :
Judul : Kagum Pada Orang Indonesia
Penerbit : Progres
Cetakan Pertama, Januari 2008
Tebal : 56 halaman
Harga : Saya belinya Rp 10.000,-
12duadua © 2014