Orang yang kesepian sering menunjukkan perilaku yang aneh-aneh. Misalnya, orang dewasa yang kesepian bisa bersifat kekanak-kanakan. Sebaliknya anak-anak yang kesepian bertindak layaknya orang dewasa, seperti merokok. Meskipun tidak semua anak yang merokok itu karena kesepian. Atau seperti lirik nakal lagu Iwan Fals berikut :
Tante tante yang kesepian
Bertingkah seperti perawan
Berlomba lomba mencari pasangan
..............
Saya bertemu dengan dua orang bapak. Keduanya mengalami masalah yang sama, yaitu sama-sama menderita kesepian. Bapak yang pertama menangis saat ngobrol dengan saya. Tangisannya mirip seperti anak kecil yang menangis sambil mengadu ke ibunya bahwa mainannya dirusak temannya. Bukan untuk mengejek, tetapi memang benar begitu kenyataannya.
Saya tahu kalau ia sangat kesepian setelah lama ngobrol dengannya. Ia butuh teman untuk mendengar keluhannya. Dan secara tidak sadar ia mengakuinya. Temen ngobrol sangat langka baginya. Orang-orang di kampungnya menganggap ia ketinggian omong karena banyak omongannya yang orang tidak bisa mengerti. Bahkan Pak Lurah pun ogah menampung ide-idenya.
Di rumah, tidak ada yang menganggapnya, termasuk istri dan anak-anaknya. Mereka masih tinggal satu rumah dengan mertuanya (keluarga dari istri). Bukan karena kurang mampu, tapi karena istrinya enggan untuk berumah tangga sendiri. Mertuanya pun enggan untuk berpisah dengan anaknya. Jadilah satu rumah dua keluarga.
Karena ada dua kepala keluarga dalam satu rumah, terjadilah dualisme nilai. Di satu sisi ia ingin menerapkan nilai-nilai yang dianggapnya bagus, sedangkan di sisi yang lain mertuanya menolak nilai itu dan mempunyai nilai sendiri. Misalnya, ia ingin anaknya mengurangi menonton televisi dan lebih banyak menggunakan waktunya untuk belajar. Tetapi ketika ia mencoba menerapkannya dan dengan tegas melarang anaknya menonton televisi di jam-jam belajar, mertuanya malah melindungi cucunya itu. Tentu, bagi anak akan memilih apa yang sesuai dengan kesenangannya. Lama-kelamaan ia merasa menjadi penghuni asing di rumah itu.
Kami mengobrol sampai berjam-jam. Ia sangat bersemangat sekali, seperti menemukan mata air di tengah padang gurun yang kering. Saking semangatnya, sulit bagi saya untuk mencari celah mengakhirinya, bukan apa-apa, saya harus kerja.
Salah satu yang menjadi obrolan kami adalah keinginannya untuk membangun pusat informasi bagi petani di desanya. Ia mempunyai rumah di tempat lain yang tidak ditempati. Di rumah itu ingin dipasangi komputer dengan akses internetnya. Tetapi bagaimana caranya dan berapa biayanya ia masih belum jelas. Selama ini tidak ada yang bisa diajaknya ngobrol. Kebetulan sekali saya baru mendapat penjelasan singkat tentang internet. Dari sedikit yang saya ketahui itu, saya menularkan kepadanya. Tentu yang sedikit sangat berharga bagi orang yang tidak sama sekali.
"Petani-petani itu butuh informasi mas" katanya, "informasi tentang cara bercocok tanam, cara memperoleh bibit yang unggul, bagaimana menghasilkan padi yang berkualitas dan sebagainya. Di internet kan banyak informasi tentang itu, bener nggak mas?"
Iya juga ingin rumahnya itu bisa menjadi tempat belajar. Salah satu ruangannya ingin dijadikan perpustakaan. Banyak anak-anak putus sekolah di situ, mereka bisa belajar gratis dari buku-buku dan akses yang disediakannya. Ia mengatakan, "mereka perlu kesempatan mas. Bukan tidak mungkin, jika ada kesempatan, mereka bisa mencapai cita-citanya."
Saya membenarkan dengan bercerita tentang kisah Laskar Pelangi, novel karya Andrea Hirata itu. Ia sangat tertarik dan ingin membacanya.
"Anak Bapak suka membaca juga?"
"Iya mas."
"Novel ini bisa juga menggugah kesadaran anak untuk semangat belajar Pak. Kalau anak Bapak sempat membacanya bisa jadi ia akan berubah. Tanpa disuruh dan diatur ia akan belajar sendiri." Ia semakin tidak sabar ingin membacanya.
Akhirnya saya punya alasan untuk mengakhiri obrolan kami. Sebelum pergi, ia sempat nitip untuk dibelikan Laskar Pelangi.
Setelah obrolan di pagi itu saya tidak bertemu dengannya lagi. Dua hari kemudian saya harus meninggalkan kotanya. Tapi sebelum hari itu, saya menyempatkan diri ke toko buku, membeli Laskar Pelangi untuk saya berikan kepadanya.
Bersambung ya......
Sebenarnya blog ini tempat menampung tulisan-tulisan saya di blog yang dulu [karena alasan yang masuk akal ditutup oleh yang punya]. Sebenarnya lagi, saya sudah membuat blog berbayar [katanya biar keren] tapi ya karena sayanya yang kurang keren tutup juga. Jadilah blog ini yang jadi kena getahnya. Mengapa 12duadua? Ah, tidak ada yang istimewa dengan nama ini. Hanya penanda saja, blog ini dibuat bertepatan dengan tanggal 22 Desember, itu saja.
Jumat, 13 Juni 2008
Senin, 02 Juni 2008
Pakaian
Senin, 02 Juni 2008
Saya paling tidak suka menunggu tanpa melakukan aktifitas apa-apa. Makanya di dalam tas saya, selalu ada majalah atau buku bacaan. Jika kebetulan lupa membawanya, saya membeli koran. Nah suatu siang saya menunggu waktu tiba pukul satu untuk bertemu seseorang di kantornya. Sengaja, saya datang sebelum jam 12 dan menyempatkan shalat dzuhur di masjid dekat kantornya. Masih ada waktu sekitar 30 menit, saya duduk di serambi dan mengeluarkan buku bacaan.Belum sempat saya membacanya, tiba-tiba seseorang di samping saya menyapa, "mas, boleh lihat judulnya?" Judul buku yang saya pegang dibacanya, "Menerobos Kegelapan".
Tampaknya ia berusaha memahami buku macam apa yang sedang ia lihat. Saya tersenyum ketika ia menebak buku ini semacam buku motivasi seperti buku motivasi kerja dan lain-lain. Karena masih tampak bingung, saya mengatakan bahwa buku ini biografi Karen Amstrong, mantan biarawati dan seorang yang percaya Tuhan tetapi tidak beragama. Ia tersenyum dan manggut-manggut.
Sebentar kemudian, kami ngobrol setengah diskusi. Ia bilang, "orang seperti itu banyak mas, banyak yang mengakui Islam itu baik, Kristen itu baik, tetapi tidak pernah masuk salah satunya. Tidak benar-benar menjalankan ajarannya. Orang seperti itu seperti orang yang belum pakai celana kemudian pergi ke toko, memilih-milih celana yang mau dibelinya. Karena semuanya bagus, ia bingung memilih yang mana, akhirnya tidak jadi beli."
Ia menambahkan, "menurut orang Betawi, agama itu ageman, pakaian". Saya mengerti apa yang ia maksud, dalam bahasa Jawa, ageman juga sama dengan pakaian. Agama itu mempunyai fungsi sebagaimana pakaian yang bisa meninggikan derajat manusia. Orang yang tidak beragama, sama seperti orang tidak berpakaian. "Mengerti kan mas, bagaimana jika orang tidak berpakaian" ia menambahkan.
Saya kagum dengan ulama-ulama terdahulu, mengajarkan agama dengan cara yang mudah dipahami oleh orang kebanyakan. Nilai-nilai agama diselaraskan dengan nilai-nilai yang sudah lama dianut masyarakat.
Malamnya saya merenung, memikirkan kembali obrolan tentang pakaian itu. Benarkah agama itu sama dengan pakaian? Kalau memang benar, saya melihat orang seperti Karen itu sebenarnya bukan tidak memakai pakaian, tetapi ia membuat pakaiannya sendiri karena kecewa dengan pakaian-pakaian yang ada sekarang. Pakaian yang ada sudah berubah fungsinya. Alih-alih meninggikan derajat pemakaianya, malah menjerumuskannya ke dalam sifat-sifat yang berlawanan dengan fungsi pakaian itu. Agama yang sebenarnya untuk menuntun manusia menuju jalan kebaikan, membantu menciptakan kehidupan yang damai dan sejahtera serta memberi pelita saat kegelapan, justru menghasilkan perilaku yang berlawanan dengan semua itu. Tidak salah juga kan, karena kekecewaan itu Karen menganut agamanya sendiri sesuai yang diyakininya.
Pakaian. Saya kembali merenungkannya. Saya merasa saat ini sedang berpakaian, saya meyakini pakaian yang saya kenakan bisa menempatkan diri saya lebih tinggi daripada derajat hewani. Dan pakaian saya masih berfungsi dengan baik, modelnya juga masih sesuai dengan jaman sekarang. Ini keyakinan saya dan tentu saja setiap orang mempunyai keyakinan masing-masing, bisa sama atau berbeda dengan keyakinan saya. Orang juga bisa menilai pakaian yang dikenakannya paling bagus, paling keren paling sesuai dengan tuntutan jaman. Menurut saya itu wajar, sudah menjadi ketentuan dari-Nya, setiap manusia mempunyai keyakinannya masing-masing.
Masih ngobrol tentang pakaian. Esok harinya saya menceritakan diskusi di serambi masjid itu kepada teman saya. Ia langsung bertanya, "kalau agama itu pakaian, berarti kita bisa berganti-ganti agama seperti berganti pakaian. Kalau sudah tidak nyaman dengan pakaian yang kita kenakan sekarang bisa cari-cari pakaian yang baru. Ato tergantung musimnya, musim dingin pakai yang tebal, musim panas pakai yang tipis. Pakaian juga bisa dilepas di tempat yang tersembunyi, atau saat orang lain tidak melihatnya. Benarkah demikian?"
Saya tidak bisa menjawab, cuma bengong saja.
Rabu, 28 Mei 2008
Pekerjaan Paling Mulia
Rabu, 28 Mei 2008
Dulu saya mempunyai anggapan, pekerjaan yang paling mulia adalah menjadi seorang dokter. Saya membayangkan betapa sangat bergunanya menjadi seorang dokter. Bisa menolong sesamanya yang sedang menderita. Membantu manusia yang lain untuk bisa menjalankan kehidupannya dengan baik. Cita-cita menjadi dokter adalah cita-cita tertinggi bagi kemanusiaan. Saya menjadi paham ketika para orang tua banyak yang menganjurkan anaknya untuk menjadi dokter. Tidak pernah saya mendengar orang tua yang ingin anaknya menjadi penulis, kecuali mungkin orang tua yang penulis itu sendiri.
Sekarang, saya mempunyai pandangan yang lain. Ternyata menjadi penulis tidak kalah mulianya dengan menjadi dokter. Penulis juga sangat berguna bagi kemanusiaan. Membaca karya seorang penulis, seseorang bisa terbuka pemikirannya, tergugah kesadarannya dan terbangun pandangan hidupnya sehingga sama seperti orang yang sembuh dari penyakit, bisa menjalankan kehidupannya dengan lebih baik.
Lebih luas lagi, pengaruh pemikiran seorang penulis mampu menggerakkan masyarakat sebuah bangsa untuk bangkit dari ketertindasannya. Juga memberikan arah bagi terbentuknya bangsa. Tengoklah Hatta, pemikirannya yang tertuang dalam "Demokrasi Kita" banyak diakui sebagai peletak dasar-dasar demokrasi yang saat ini menjadi sistem yang dianut Indonesia. Karyanya yang lain, "Dasar Politik Luar Negeri Indonesia" mampu megegaskan prinsip-prinsip kebijakan luar negeri yang sampai sekarang masih dipegang Indonesia yaitu politik bebas aktif.
"catatan seorang demonstran", sebuah catatan harian yang banyak mengilhami aktifis mahasiswa saat melakukan demonstrasi menentang kekuasaan Orde Baru. Catatan ini menjadi bacaan wajib bagi aktifis mahasiswa. "Habis Gelap Terbitlah Terang", kumpulan surat-surat Kartini tentang kebebasan dan cita-cita, memberikan pandangan yang baru bagaimana seorang perempuan menempatkan diri dan bersama-sama kaum laki-laki berkontribusi dalam menjalankan kehidupan.
Tidak kalah hebatnya, "Laskar Pelangi", menumbuhkan semangat bagi para muda sekarang mengejar cita-cita meski rintangan banyak menghadang. Saya terharu ketika seorang ibu memberi kesaksian bahwa novel Laskar Pelangi mampu menggugah anaknya untuk insaf dari pengaruh narkoba dan berjanji akan bersungguh-sungguh menempuh pendidikan di sekolah.
Wah sangat banyak jika harus saya tuliskan disini, termasuk kitab-kitab agama karangan para ulama kita. Pada akhirnya, saya akan rela ketika suatu saat nanti anak saya bilang, "yah saya ingin menjadi penulis."
Sekarang, saya mempunyai pandangan yang lain. Ternyata menjadi penulis tidak kalah mulianya dengan menjadi dokter. Penulis juga sangat berguna bagi kemanusiaan. Membaca karya seorang penulis, seseorang bisa terbuka pemikirannya, tergugah kesadarannya dan terbangun pandangan hidupnya sehingga sama seperti orang yang sembuh dari penyakit, bisa menjalankan kehidupannya dengan lebih baik.
Lebih luas lagi, pengaruh pemikiran seorang penulis mampu menggerakkan masyarakat sebuah bangsa untuk bangkit dari ketertindasannya. Juga memberikan arah bagi terbentuknya bangsa. Tengoklah Hatta, pemikirannya yang tertuang dalam "Demokrasi Kita" banyak diakui sebagai peletak dasar-dasar demokrasi yang saat ini menjadi sistem yang dianut Indonesia. Karyanya yang lain, "Dasar Politik Luar Negeri Indonesia" mampu megegaskan prinsip-prinsip kebijakan luar negeri yang sampai sekarang masih dipegang Indonesia yaitu politik bebas aktif.
"catatan seorang demonstran", sebuah catatan harian yang banyak mengilhami aktifis mahasiswa saat melakukan demonstrasi menentang kekuasaan Orde Baru. Catatan ini menjadi bacaan wajib bagi aktifis mahasiswa. "Habis Gelap Terbitlah Terang", kumpulan surat-surat Kartini tentang kebebasan dan cita-cita, memberikan pandangan yang baru bagaimana seorang perempuan menempatkan diri dan bersama-sama kaum laki-laki berkontribusi dalam menjalankan kehidupan.
Tidak kalah hebatnya, "Laskar Pelangi", menumbuhkan semangat bagi para muda sekarang mengejar cita-cita meski rintangan banyak menghadang. Saya terharu ketika seorang ibu memberi kesaksian bahwa novel Laskar Pelangi mampu menggugah anaknya untuk insaf dari pengaruh narkoba dan berjanji akan bersungguh-sungguh menempuh pendidikan di sekolah.
Wah sangat banyak jika harus saya tuliskan disini, termasuk kitab-kitab agama karangan para ulama kita. Pada akhirnya, saya akan rela ketika suatu saat nanti anak saya bilang, "yah saya ingin menjadi penulis."
Selasa, 29 April 2008
Menulis untuk Belajar
Selasa, 29 April 2008
Nah, saya termasuk kelompok yang kedua. Saya menulis untuk belajar tentang apa yang saya tulis. Menulis filsafat agar saya lebih mengerti tentangya. Begitu juga menulis tentang ilmu agama, saya ingin lebih mengerti bagaimana agama saya.
Saya percaya dengan membaca saja suatu saat saya akan lupa. Kalaupun ingat, saya tidak bisa menjelaskannya dengan sempurna. Tetapi dengan menulis otak mempunyai rangsangan untuk ingat lebih lama. Apalagi apa yang ditulis hasil dari permenungan setelah membaca, akan lebih mengerti sampai ke akar-akarnya.
Yang lebih baik lagi, setelah membaca, merenungkan dan menuliskannya, kemudian mengamalkannya. Dengan mengamalkannya itu, ilmu tidak saja dimengerti, tetapi akan lebih mudah untuk dipahami.
Senin, 14 April 2008
Asumsi
Senin, 14 April 2008
Saya menemukan buku dari pedagang buku bekas di Jalan Dewi Sartika, Bandung. Buku yang saya beli dengan harga 10 ribu rupiah ini dicetak tahun 2006 dan sudah cetakan yang keenambelas, cetakan pertamanya tertulis tahun 1978. Jujun S. Suriasumantri, penyusun buku ini memberi Judul "Ilmu dalam Perspektif, Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu".
Dalam Pengantar Redaksi yang cukup panjang (40 halaman), Jujun menuliskan bahwa ilmu pengetahuan memerlukan asumsi. Alam yang diamati oleh ilmu pengetahuan sangatlah kompleks. Hampir tidak mungkin ilmu melakukan prosesnya tanpa asumsi-asumsi. Asumsi memberi arah dan landasan bagi ilmu pengetahuan untuk menelaah alam dan segala hal yang terjadi di dalamnya.
Ilmu pengetahuan dalam prosesnya menelaah alam semesta bertujuan untuk menemukan kebenaran. Kebenaran ini sangat berguna untuk membantu manusia dalam menjalankan kehidupannya. Dalam proses itu, ilmu pengetahuan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan. Benar atau tidaknya kesimpulan itu tergantung dari diterima atau tidaknya asumsi yang diberikan. Jika asumsi dapat diterima, kita anggap kesimpulan yang dihasilkan adalah benar. Sebaliknya, jika asumsi tidak dapat kita terima maka kesimpulan kita anggap tidak benar.
Dua sudut pandang yang berbeda dari fakta penduduk yang tidak beralas kaki, diakibatkan karena asumsi yang mendasarinya berbeda. Sudut pandang pertama mempunyai asumsi bahwa kenyataan itu tidak bisa dirubah. Apapun usaha yang dilakukan tetap tidak akan merubah perilaku penduduk daerah itu. Sedangkan sudut pandang kedua mempunyai asumsi bahwa kenyataan itu bisa dirubah. Dengan pendekatan yang tepat, penduduk bisa diajari bagaimana menggunakan alas kaki dan dijelaskan apa manfaatnya.
Mana yang benar? Relatif, tergantung asumsi mana yang bisa kita terima. Jika asumsi pertama diterima, tentu sudut pandang yang pertamalah yang kita anggap benar. Sebaliknya, jika asumsi kedua yang bisa kita terima maka sudut pandang yang kedualah yang kita anggap benar. Lalu mana yang benar secara hakiki? Kita bisa menjawabnya jika sudah ada yang membuktikannya. Kebenaran hakiki tidak kita peroleh sampai ada yang membangun pabrik di daerah itu, kalau rugi berarti sudut pandang yang pertama yang benar. Jika sebaliknya maka sudut pandang yang kedua yang benar.
Kalau demikian, perlu biaya dan resiko yang sangat besar? Bisa iya, bisa tidak. Ya kalau kita benar-benar membangun pabrik. Tidak jika digunakan ilmu statistik. Dengan ilmu statistik kita bisa melakukan eksperimen dari sampel yang mewakili seluruh penduduk. Dari eksperimen itu bisa diperoleh kesimpulan, perilaku penduduk itu bisa dirubah atau tidak. Metode statistik memberi kemampuan untuk mengambil kesimpulan secara keseluruhan dari sampel (contoh) yang sebagian atau biasa disebut generalisasi.
Asumsi, menurut pengertian diatas hanya berlaku di wilayah ilmu pengetahuan, tidak berlaku di wilayah agama dan keyakinan. Kita memeluk agama bukan berdasarkan asumsi, tetapi keyakinan kita terhadap kebenarannya. Benarkah ada kehidupan setelah mati? Kita hanya bisa meyakininya, tidak bisa dibuktikan secara empiris. Karena tidak pernah ada manusia yang mati kemudian hidup lagi dan bercerita keadaan di alam sana. Begitu juga dengan keberadaan dan wujud Tuhan, tidak bisa dibuktikan dengan asumsi. Asumsi bergerak sebatas panca indra manusia. Sedangkan Tuhan, diluar jangkauan panca indra.
-----------------------------------
Gambar pinjam dari sini
Selasa, 04 Maret 2008
Jalan Langit dan Jalan Bumi
Selasa, 04 Maret 2008
Karena kepandaiannya memprediksi itu, Ia menjadi terkenal sebagai ahli nujum dan dimasukkan ke dalam tujuh orang bijak (sage) dalam hikayat Yunani. Sebenarnya prediksi itu adalah hasil ketekunannya belajar astronomi, bukanlah prediksi yang didasarkan pada tahayul. Pada saat itu tahayul menjadi hal yang biasa dan menjadi kepercayaan di masyarakat Militus. Ia menemukan perhitungan gerhana matahari berikutnya akan terjadi setelah 18 tahun, 10 hari dan 7,7 jam.
Selain menguasai ilmu astronomi, Ia sangat mahir di bidang matematika terutama geometri. Kedua ilmu itu dipelajarinya disela-sela aktifitas berdagang. Ia adalah seorang saudagar yang sering mengadakan perjalanan dagang ke berbagai kota. Saat sampai di Mesir dan Babilonia, Thales tertarik untuk mempelajari geometri dan astronomi. Prestasinya di bidang geometri melahirkan sebuah teorema yang disebut sesuai namanya, "Teorema Thales".
Thales juga terkenal sebagai bapak filsafat, Ia orang yang pertama kali yang memikirkan : Apa asal alam ini? Apa yang menjadi sebab penghabisan dari segala yang ada? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawabnya melalui tahayul, melainkan menggunakan akal berdasarkan pengalaman yang dilihatnya sehari-hari.
Ia takjub melihat lautan yang menjadi sumber penghidupan bagi banyak makluk hidup di darat maupun di lautan. Bibit-bibit tanaman dan buah-buahan yang hanyut terbawa gelombang diantar ke pesisir pantai daerah lain. Tanaman dan buah-buahan akhirnya bisa tersebar ke berbagai wilayah di bumi. Di Mesir ia juga melihat betapa tergantungnya rakyat Mesir pada Sungai Nil. Daerah-daerah sekitar aliran Sungai Nil adalah daerah yang subur sehingga dapat dihuni manusia.
Tetapi semuanya bisa musnah. Ia membayangkan bagaimana jika Sungai Nil tidak mengalirkan air lagi, bisa jadi daerah yang semula subur menjadi padang pasir yang tandus, tidak bisa dihuni lagi. Air laut yang bergulung-gulung menghantam tepian pantai sewaktu-waktu bisa menjadi ombak yang sangat besar (tsunami) yang dapat memusnahkan semua kehidupan di daratan. Disitulah kehidupan akan berkahir.
Dari pemikirannya itu ia mengambil kesimpulan bahwa air adalah pokok dan prinsip dari segala-galanya.
Diantara kisah hidupnya ada kejadian yang lucu. Suatu saat ia berjalan-jalan memandangi keindahan bintang gemintang di langit malam hari. Pandangannya yang selalu keatas membuatnya tidak melihat lubang di depannya. Terjatuhlah Ia ke lubang itu. Seorang watnita tua yang sedang melintas berkata, "hai Thales, jalanmu yang ada dilangit kamu ketahui, tetapi jalanmu yang ada di bumi tidak."
Seorang genius seperti Thales bisa terperosok ke dalam lubang karena terlalu asyik dengan apa yang dipikirkannya dan lupa memperhatikan jalan yang dilewatinya. Kitapun akan bernasib sama jika terlalu hanyut pada suatu hal dan melupakan yang lain, padahal keduanya sangat penting dalam hidup kita.
Jalan langit bisa dimaknai sebagai kehidupan religius, alam pemikiran atau dunia ide. Sedangkan jalan bumi adalah realitas hidup kita sehari-hari. Idealnya jalan langit dan jalan bumi itu bisa selaras. Orang yang khusuk ibadahnya, mempunyai perilaku yang menyejukkan, tidak malah membuat onar. Orang yang pandai, banyak memberikan sumbang sih bagi lingkungannya, tidak malah merusaknya. Dan, orang yang banyak idenya, juga banyak berbuat.
Catatan : Gambar pinjam dari sini
Selasa, 19 Februari 2008
Yang Modern dan Tradisional
Selasa, 19 Februari 2008
Tidak saya sangka, pemilik depot menyambut saya dengan gembira, layaknya saudara yang lama tidak berjumpa. Senyumnya sapanya yang khas dan keramah-tamahannya sangat menyejukkan. Saya memesan dorang goreng, nasi putih dan teh panas.
Sambil makan, saya ngobrol dengannya. Meski harus melayani pelanggan yang banyak, perhatiannya tidak berkurang pada saya, tentu bergantian dengan pelanggan-pelanggannya yang lain. Saya tanya kabar keluarganya, begitu juga Ia. Sekarang Ia tidak perlu mengontrak rumah lagi, Ia membeli rumah meskipun kecil, "Saya tidak bisa membeli rumah yang jauh mas, soalnya kalau jualan seperti ini ribet, banyak barang kecil-kecil, kalau ketinggalan bisa cepet ngambilnya. Jadinya ya dapatnya rumah yang kecil, lha wong disini rumah sudah mahal."
Sapanya lewat sms (kadang juga telpon), keramahannya di depot dan suasana kekeluragaan saat makan membuat saya seperti makan di rumah saudara saya sendiri. Perlakuan itu tidak hanya pada saya, pelanggan yang lain juga terlihat akrab dengannya. Kadang Ia berkomentar, "wah saya pangling ke sampeyan, habis penampilannya baru sih," kepada saya Ia bilang, "mas sampeyan kelihatan lebih muda". "Hahahaha...." saya terbahak, "sampeyan bisa aja cak."
Saya pikir inilah management pelanggan. Meski hanya dengan bantuan telepon genggam, pemilik Depot Icha, sudah bisa mengelola pelanggannya. Ia tahu mana pelanggan yang sering dan jarang berkunjung. Ia juga tahu, walau mengandalkan ingatannya, latar belakang keluarga, usia dan pekerjaan pelanggannya.
Saya kagum dengannya, darimana ia punya gagasan seperti itu. Apakah Ia pernah mengikuti training Customer Relationship Management (CRM)? Depot pinggir jalan itu dikelola seperti restoran modern.
Selesai makan, saya berpamitan. Dengan keramahan pula Ia menyampaikan ucapan terima kasih dan berharap saya datang berkunjung kembali di lain waktu.
Dari Depot Icha saya pergi ke minimarket. Saya kaget sekali saat membuka pintu. Ada salam selamat datang, tapi saya cari-cari siapa yang mengatakan tidak ada yang menoleh pada saya. Saya pergi ke rak yang berjajar rapi, mecari barang yang saya butuhkan. Terdengar lagi ucapan selamat datang disertai dengan yel-yel promosi, "mau sepeda motor? belanja saja disini!"
Setelah beberapa saat saya amati akhirnya saya tau, yang mengatakan selamat datang itu kasir yang ada di depan dan yang menyahut dengan yel-yel itu para karyawan di dalam toko.
Tapi saya tidak terkesan sama sekali dengan sapaan itu. Cara mengucapkannya asal-asalan, juga tidak jelas ditujukan ke siapa. Karyawan di dalam toko pun seperti robot yang kalau dipencet tombolnya akan berbunyi. Masih mending robot yang suaranya keras, karyawan-karyawan ini loyo, yel-yel itu diucapkan seperti bergumam.
Saya yakin, karyawan minimarket ini pernah mendapat training, setidaknya mendapat arahan dari atasannya. Pernah saya mengetahui minimarket semacam itu, manager toko setiap pagi memberi arahan kepada karyawan yang bertugas hari itu. Tapi, kenapa rasanya hambar ya?