Pages

Kamis, 15 November 2007

Musuh Dalam Diri

Kamis, 15 November 2007
Membaca catatan Dahlan Iskan saat menjalani proses transplantasi hati memang sangat menarik. Selain gaya bahasanya yang ringan, juga ada banyak pelajaran dan pengetahuan yang didapat.

Ada yang mencemooh, mengapa pengalaman yang "biasa" seperti itu dimuat di Jawa Pos sampai berseri-seri. Apa hanya karena ia pemimpin Jawa Pos sehingga tulisan-tulisan itu terus dimuat setiap hari. Coba kalau orang lain yang menulis, tentu banyak pertimbangan untuk dimuat di harian itu sekali terbit saja.

Tapi banyak juga yang sangat senang dengan tulisan itu. Termasuk dari istri almarhum Nurcholis Majid yang sangat berterima kasih karena dalam salah satu serinya menjelaskan ketidakbenaran fitnah yang ditujukan kepada Cak Nur.

Mengetahui banyak yang merespon positif, Jawa Pos menerbitkan 33 seri catatan Dahlan Iskan itu dalam sebuah buku. Judulnya "Ganti Hati". Luar biasa, hanya dalam waktu seminggu 30 ribu cetakan pertama sudah ludes.

Rabu kemarin, Dahlan Iskan menulis kembali di harian yang sama, kini tentang "Kinerja 100 Hari Kabinet Organ setelah Ganti Hati".

Yang menarik, ia mengisahkan banyak teman-temannya yang mengingatkan, bahkan mengancam bos Jawa Pos itu untuk tidak terlalu percaya diri karena merasa sudah sehat seperti orang normal lagi: jangan over convident!, kata teman-temannya

Kemudian ia bertutur, "over convident" adalah musuh tingkat kedua dalam miniti jalan sukses hidupnya. Musuh tingkat dua ini lebih sulit dihadapi dibanding musuh tingkat satu, "rasa takut". Menghadapi musuh tingkat satu sangat mudah katanya, musuh ini tidak sakti. Banyak orang yang sudah sangat mahir mengalahkan rasa takut. Hanya sebagian kecil saja yang gagal.

Ketika sudah bisa mengatasi rasa takut, orang jadi percaya diri. Kesuksesan demi kesuksesan diraihnya. Ketika sudah sukses, banyak orang yang lupa diri dan merasa mampu yang berlebihan sehingga gagal meraih sukses lanjutannya. Percaya diri yang berlebihan menjadi musuh orang yang sukses.

Bagi yang berhasil mengalahkan musuh tingkat kedua, datanglah musuh tingkat ketiga yaitu "kekuasaan". Sebenarnya kekuasaan itu hasil dari kesuksesan yang didapat, tetapi kekuasaan akan menjelma menjadi musuh ketika orang lupa diri dan tidak pandai menggunakan kekuasaan itu. Orang yang gagal mengalahkan kekuasaan akan jatuh, akibatnya lebih sakit dibanding jatuh karena gagal meraih kesuksesan.

Semakin sedikit orang yang berhasil mengalahkan musuh yang ketiga ini. Yang sedikit itu biasanya menjadi orang yang selalu dihormati karena kebijaksanaannya. Kata-katanya menjadi petuah yang selalu dituruti banyak orang. Kebahagiaan menyertai perjalanan hidupnya. Tetapi, sedikit orang inipun akan menghadapi musuh yang sangat sakti, yaitu "umur".

Saking saktinya tidak ada satu orangpun yang bisa melawannya. Umur terus berjalan, mengurangi sedikit demi sedikit jatah hidup kita di dunia. Sampai suatu saat semua orang akan tunduk pada habisnya umur, alias mati. Hanya satu yang bisa dilakukan untuk menghadapinya, bukan melawan, yaitu mempersiapkan sebaik-baiknya menyongsong habisnya umur.

--------------------------------------------
Catatan Dahlan Iskan : "Kinerja 100 Hari Kabinet Organ setelah Ganti Hati" dapat dibaca di sini.

Selasa, 13 November 2007

Animasi, Membaca Tanda Bencana

Selasa, 13 November 2007
Negeri kita adalah negeri bencana. Yang wilayahnya dikelilingi deretan gunung berapi dan tempat pertemuan lempeng bumi. Sungguh, hidup di Indonesia selalu dihantui rasa was-was akan terkena gempa, gunung meletus atau tsunami.
 
Jika tidak belajar dari bencana yang telah terjadi, korban akan banyak berjatuhan lagi. Banyak lagi yang akan kehilangan sanak-saudara, tetangga dan teman-teman dekat. Kehilangan mata pencaharian. Dan yang lebih parah lagi, kehilangan semangat untuk hidup.
 
Peran pemerintah melalui badan-badannya (BMG,PVMBG dan lain-lain) sangat diperlukan disini. Karena badan-badan tersebut mempunyai keahlian untuk membaca tanda-tanda bencana. Dari tanda-tanda itu bisa diambil langkah-langkah untuk menekan sekecil mungkin korban bencana. Langkah-langkah itu bisa berupa peringatan ataupun anjuran untuk melakukan pengungsian.
 
Namun, jika hanya mengandalkan pemerintah saja rasanya masih kurang. Mayarakat di sekitar potensi bencana sendiri perlu melakukan antisipasi secara mandiri untuk mempercepat upaya penyelamatan. Berarti masyarakat perlu juga mempelajari tanda-tanda bencana itu.
 
Bagaimana masyarakat harus belajar ? Ada sebuah animasi dari AFP tentang proses dari awal bagaimana kekuatan angin bisa menyebabkan kerusakan dan juga menimbulkan gelombang laut yang sangat besar. Animasi ini sangat menarik karena dilengkapi dengan data yang lengkap dan foto-foto bencana serupa yang pernah terjadi. Tanda-tanda bencana juga dapat dilihat dengan jelas seperti perubahan arah asap yang keluar dari cerobong, langit yang semakin lama semakin gelap dan angin yang bertiup semakin kencang.
 
Saya yakin siapapun, dengan tingkat pendidikan apapun dan yang berstatus sosial kelas manaapun jika melihat animasi ini pasti bisa mengerti. Bahkan anak taman kanak-kanan pun dengan tambahan sedikit penjelasan mungkin juga bisa mengerti.
 
Kemudian saya berfikir bagaimana jika dibuat animasi untuk bencana yang berpotensi terjadi di Indonesia seperti tsunami, gempa bumi dan gunung meletus. Foto-foto bencana yang pernah terjadi sudah ada, videonya pun juga ada. Tentu aimasi ini akan sangat membantu sekali memberi pengetahuan akan tanda-tanda bencana ke semua lapisan masyarakat.
 
Dengan tanda-tanda yang sudah dimengerti, masyarakat akan selalu siap jika sewaktu-waktu bencana benar-benar terjadi. Anjuran untuk mengungsi tentu juga lebih mudah untuk disampaikan dan dimengerti masyarakat.
 
Ketika saya menginformasikan ini kepada teman yang biasa membuat animasi, teman saya bilang, "sebenarnya membuat animasi seperti itu sangat mudah, yang sulit bagaimana memperoleh data-data yang akurat mengenai tanda-tanda bencana itu."
 
Kalau masalah data, saya yakin pemerintah mempunyai data yang lengkap. Buktinya saat gunung Kelud meletus kepala PVMBG begitu gamblang menjelaskan bagaimana prosesnya dengan data-data pengukuran yang sangat lengkap disertai sekenario-skenario letusan yang mungkin akan terjadi.
 
Nah, data akurat sudah tersedia. Berarti pembuatan animasi tidak ada kendala lagi. Selain teman saya itu, tentu masih banyak ahli-ahli animasi lain yang tidak kalah jagonya di Indonesia. Bagaimana, animasi membaca tanda bencana bisa dibuat kan ?


Click di sini untuk melihat animasinya


Senin, 12 November 2007

Mobil Muslim

Senin, 12 November 2007
Proton, produsen mobil dari Malaysia, berencana mengeluarkan mobil khusus untuk umat Islam di seluruh dunia. Ide pembuatan mobil ini diperoleh setelah para pejabat dan politisi Malaysia mengadakan serangkaian kunjungan ke Timur Tengah. Saat kunjungan ke Iran, para pejabat iran mengeluarkan gagasan untuk membuat mobil yang khusus untuk pengendara muslim.

Akhirnya Malaysia mendapat kesepakatan kerjasama untuk membuat "Mobil Muslim" tersebut. Menurut Managing Director Proton Zyed Zaenal Abidin Zyed Mohammed Tahir, produksi akan dilakukan di Malaysia, Iran dan Turki (AFP, 11 Nov 2007).

Melakukan differentiation adalah salah satu strategi untuk memasarkan produk. Tujuannya agar produk mempunyai ciri dan image khusus di benak konsumen yang menjadi target pasarnya. Secara ideal defferentiation dilakukan untuk memberikan kepuasan kepada penggunanya. Dengan begitu produsen berharap produknya dapat terserap oleh pasar.

Proton melakukan differentiation dari sisi feature-nya. "Mobil Muslim" tersebut direncanakan mempunyai beberapa featur untuk kebutuhan umat Islam seperti ada kompas penunjuk arah kiblat serta tempat khusus untuk menyimpan Al-Qur'an dan jilbab.

Kondisi Proton saat ini sedang mengalami masa-masa sulit. Pangsa pasar Proton di Malaysia mengalami penurunan yang sangat tajam karena pemerintah mengijinkan lebih banyak mobil asing masuk ke Malaysia. Proton juga mendapat serangan dari produsen-produsen lokal lain yang menjadi pesaingnya.

Karena itu "Mobil Muslim" bisa dilihat sebagai salah satu strategi mendongkrak pangsa pasar Proton yang sedang lesu. Proton juga sedang gencar membidik pasar di Indonesia dan di Thailan.

Tetapi melihat feature yang ditawarkan "Mobil Muslim", apakah umat Islam memerlukan kompas penunjuk arah kiblat di dalam mobilnya, bukankan di dalam perjalanan (darurat) bisa sholat menghadap arah mana saja ? Kalau memang perlu kompas, harga kompas kan murah jadi mobil manapun bisa dilengkapi kompas.

Kemudian tempat Al-Qur'an dan jilbab. Bukankan di mobil lain juga tersedia tempat, meskipun tidak khusus, yang bisa juga untuk menyimpan Al-Qur'an maupun jilbab ? Jadi apa bedanya tempat khusus itu dengan tempat di mobil-mobil lainnya ?

Menurut saya, strategi Proton dengan feature differentiation yang seperti itu tidak akan efektif. Lain lagi misalnya Proton dengan teknologi GPS menambahkan fetature untuk menunjukkan lokasi masjid terdekat, sehingga umat Islam tau harus berhenti dimana untuk melaksanakan sholat. Mungkin featur ini akan lebih menarik dibanding kompas dan tempat khusus menyimpan Al-Qur'an maupun jilbab.


Gambar pinjam dari AFP

Lukisan Jalanan Surabaya




Karena tertarik dengan graffiti, hari Jum'at kemarin saya berkeliling mencari lukisan jalanan itu di beberapa tempat di Surabaya. Berbekal kamera digital pinjaman, saya ditemani Teguh meluncur ke Jalan Tunjungan.

Di deretan toko yang tidak pernah buka, kami menemukan beberapa lukisan di rolling door dan di dinding bagian atas. Lukisan-lukisan di situ kebanyakan sudah rusak, ada bekas sobekan poster iklan sehingga gambarnya terkesan jelek. Graffiti yang di tembok atas hanya tagging saja, jadi sangat jelek dam terkesan kotor.

Setelah puas memotret langsung meluncur ke Jembatan Mayangkara, dekat Darmo Trade Center (DTC), Wonokromo. Saya ingat di kolong jembatan ada lukisan-lukisannya. Cukup menarik, lukisan yang bergaya mural itu menggambarkan kota Surabaya dengan icon-iconnya. Ada Tugu Pahlawan, Bambu Runcing, Patung Jales Veva Jayamahe dan beberapa lukisan gedung. Sayang mural ini dibuat karena dukungan salah satu produsen rokok, jadi ya ada logo perusahaan yang besar tertempel.

Kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung. Di dekat situ ada tembok memanjang yang banyak graffiti-nya. Meski ada tagging disana-sini, sebenarnya banyak juga lukisan-lukisan yang bagus, tapi catnya sudah usang. Yang menyedihkan ada iklan terselubung. Maksudnya sepertinya graffiti tetapi gambarnya iklan persewaan mobil.

Yang saya senang, saat kami sampai di perempatan Ngagel, BAT (be a te). Di dinding gedung mangkarak ada lukisan yang bergaya mural. Dilihat dari isi tulisannya, mural ini dibuat untuk memperingati HUT RI yang ke-62. Mural ini dikerjakan oleh Fakultas Seni dan Desain UK Petra, DKV Petra dan warga kecamatan Wonokromo. Tentu didukung oleh Camat dan Pemerintah Kota Surabaya.

Kamis, 08 November 2007

[Graffiti] Keindahan atau Sampah Visual Kota

Kamis, 08 November 2007
Sebuah Dokumentasi Urban Art di Yogyakarta
(Diambil dari Tembokbomber Forum)

Memandang graffiti tergantung dari cara apa memandangnya. Bila terlanjur selalu mencap negatif, maka graffiti yang bagus dan berestetika tinggi pun akan selamanya buruk. Namun bila selalu berpikir pada sisi positifnya, maka graffiti bisa berpotensi sebagai pemandangan kota. --Pinky Saptandari--

Perdebatan mengenai graffiti sebagai karya seni yang memperindah atau hanya coretan yang mengotori kota akan lebih menarik jika mengetahui apa sebenarnya yang menjadi memotivasi seorang bomber melakukan aksinya.
 
Obed Bima Wicandra dan Sophia Novita Angkadjaja, dosen jurusan Desain Komunikasi Visual, Universitas Kresten (UK) Petra, melakukan penelitian untuk menemukan secara ilmiah motivasi bomber dalam melakukan aktifitasnya membuat graffiti. Penelitian difokuskan pada graffiti yang ada di Surabaya dan terbatas pada graffity artistik saja.
 
Dari wawancara terhadap bomber dari Surabaya dan sebagian Jakarta terungkap bahwa motivasi utama ngebom adalah untuk memperindah kota selain juga untuk menunjukkan jati diri mereka. Mereka juga menganggap kegiatan ngebom adalah kegitan yang positif dibanding mabuk-mabukan atau mengkonsumsi narkoba.
 
"Daripada mabuk-mabukan maupun beli narkoba mendingan uangnya dipakai buat beli cat aerosol," kata salah seorang bomber yang menjadi informan.
 
Mereka juga mengungkapkan bahwa ngebom jauh dari vandalisme. Dalam graffiti tidak ada aktifitas merusak, menggempur maupun membongkar tembok, ngebom justru memberi kesan indah dengan sentuhan artistik untuk pada tembok. Lokasi ngebom pun tidak sembarangan, tidak asal ngebom.
 
Sasaran utama ngebom adalah tembok yang tidak terawat. Definisi tembok yang tidak terawat menurut mereka adalah tembok yang dibiarkan kumuh dan banyak tempelan poster dan iklannya. Tembok yang warna catnya sudah memudar dan banyak ditumbuhi lumut. Tembok yang dibiarkan rusak. Dan tembok di tempat-tempat strategis yang dibiarkan apa adanya sehingga menjadi sasaran empuk poster iklan dan pamflet.

Musuh mereka adalah poster iklan dan pamflet yang ditempel sembarangan dan semrawut. Juga bomber yang hanya meninggalkan coretan (tagging) yang memperburuk citra graffiti di masyarakat.

Menurut Pinky Saptandari, seorang antropolog dan Sekretaris Jendral Dewan Kota Surabaya, kegiatan ngebom sebenarnya tidak perlu dilarang sepanjang tidak dilakukan di tempat-tempat yang tidak semestinya misalnya cagar budaya seperti candi, tempat bersejarah dan monumen perjuangan kemerdekaan. Pinky juga berpendapat, bentuk-bentuk iklan yang terlalu bebas tertempel di dinding-dinding kota itulah yang justru lebih buruk pemandangannya daripada graffiti.
 
Semangat memperindah wajah kota dan melindungi tempat umum dari serangan poster iklan dan pamflet inilah yang berpotensi menjadikan graffiti bukan sebagai sampah visual yang mengotori kota. Akan lebih bagus lagi bila graffiti mampu berinteraksi dengan lingkungan, peka terhadap kondisi sosial dan mampu menunjukkan karakter budaya setempat.

Rabu, 07 November 2007

[Graffiti] Seni Jalanan Pendobrak Kekuasaan

Rabu, 07 November 2007

Bayangkan ketika graffiti tidak ilegal, sebuah kota dimana setiap orang dapat menggambar apa yang mereka suka. Dimana setiap jalan berisi jutaan warna dan frasa-frasa yang bermakna. Mengantri bus menjadi tidak membosankan lagi. Sebuah kota yang terasa memberi nafas bagi semua orang, tidak hanya pada agen real estat dan iklan-iklan perusahaan raksasa. Bayangkan sebuah kota seperti itu, dan berhentilah bersandar di dinding-dinding yang basah --- Banksy ---

Itulah mimpi seorang Banksy, pelukis graffiti (bomber) terkenal dari Inggris yang baru saja menjadi perbincangan karena indentitasnya mulai terkuak. Beberapa foto yang diduga fotonya diekspos di media masa.
 
Graffiti menjadi kontroversial dikalangan masyarakat termasuk masyarakat di Indonesia. Ada sebagian yang menganggap graffiti merupakan karya seni yang mengandung nilai estetika yang tinggi. Bahkan ada yang menganggap pelukis graffiti adalah seorang seniman yang genius dan pemberani.
 
Sebagian yang lain menyebut graffiti adalah visual sampah yang mengganggu keindahan dan mengotori kota. Karenaya melukis graffiti termasuk perbuatan kriminal. Banyak sudah kelompok-kelompok pelukis graffiti yang digrebek polisi saat menjalankan aksinya.
 
Graffiti sendiri termasuk dalam seni publik (public art). Dalam dunia seni rupa dalam lingkup yang lebih khusus, seni publik diartikan sebagai seni yang dibuat secara individu maupun kelompok yang menggunakan prinsip tertentu dalam menggulirkan wacana untuk disampaikan kepada publik atau masyarakat luas.
 
Selain graffiti contoh lain yang juga termasuk lingkup seni publik antara lain performance art, seni instalasi, happening art, stencil, mural dan poster. Dibandingkan dengan yang lain, graffiti kurang mendapat tempat atau sedikit mendapat apresiasi karena sifatnya yang vandalisme, merusak milik orang lain atau milik umum.
 
Sebagai gambaran aksi vandalisme kita simak karya Banksy yang dipasang di Galeri 49 British Museum. "Early Man Goes to Market", sebuah batu bergambar manusia purba yang sedang berburu membawa keranjang belanja. Tentu pemasangan itu tanpa sepengetahuan pengelola museum. Pengelola museum baru mengetahui ada tambahan koleksi setelah Banksy mengumumkan di situs pribadinya.
 
Yang menarik, setelah pengelola museum mengetahui ada karya Banksy terpampang di salah satu galerinya, pengelola bukan mehilangkannya malah mempertahankan menjadi salah satu koleksi tetapnya.
 
Mungkin pihak museum menilai karya Banksy termasuk dalam karya yang mempunyai nilai seni yang tinggi. Mungkin juga karya itu mempunyai nilai komersial yang dapat menarik orang berkunjung ke museum. Bandingkan dengan poster-poster iklan produk atau foto-foto calon peserta pilkada yang banyak dipasang di tembok-tembok kota, halte dan tempat-tempat umum lainnya yang semakin semarak apalagi saat kampanye tiba.
 
Inilah yang coba dilakukan oleh Banksy dan bomber-bomber yang lain, termasuk di Indonesia, membebaskan masyarakat dari serangan iklan komersial dan intrik-interik politik yang tidak mendidik dan kurang atau tidak ada sama sekali unsur seninya.

Menarik sekali jika kita simak gugatan mereka, para bomber, "Sama-sama mengotori tempat umum, mengapa mereka tidak ditangkap ? Justru kami yang membuat tembok tak terawat menjadi indah, harus digrebek ?"

Gambar : Early Man Goes to Market karya Banksy di British Museum

Senin, 05 November 2007

[cerpen] Di Dasar Jurang Pringgitan

Senin, 05 November 2007
Berjalan dalam gelap membuat mata seperti buta. Tidak ada yang bisa kulihat melainkan pekatnya malam. Justru karena itu aku berjalan seenaknya tanpa memperhitungkan ada jurang menganga di hadapanku. Meski Pringgitan bukan bukit yang cukup tinggi, tapi di lerengnya ada jurang yang dalam dengan dinding yang curam. Pemberani tidak selamanya orang yang tangguh, ada juga orang menjadi pemberani karena kebodohan dan ketidaktahuannya.
 
Sama sekali aku tidak mempersiapkan pendakian ini. Ini pelarianku dari semua masalah yang terus menerus datang. Bertubi-tubi menghantam setiap gerak dan langkah hidupku. Rasanya tak kuat aku menanggungnya. Kemudian aku teringat Pringgitan, sebuah bukit di selatan kota. Dari puncaknya aku bisa melihat cakrawala yang begitu luas. Dari sana pula aku bisa melihat kotaku seperti miniatur yang dipajang dalam kotak kaca.
 
Tak terhitung sudah beberapa kali aku sampai puncak Pringgitan. Dulu, tak kan pernah kubiarkan malam purnama terlewat tanpa menyusur lereng dan merebah diatas batu puncak Pringgitan. Sudah menjadi ritual kami, pelajar pecinta alam di SMA, bermalam di Pringgitan setiap bulan purnama. Adik dan kakakku pernah juga kuajak mencicipi keindahan kota dari puncak Pringgitan. Karena seringnya, sampai aku kenal Mbah Seto, penjaga warung kopi di kampung terakhir rute perjalanan. Warung ini menjadi tempat kami menanti kawan yang datang belakangan untuk kemudian naik bersama-sama menuju puncak.
 
Tapi malam ini tidak ada seorang kawanpun yang menyertaiku. Malam pun gelap gulita, selain bukan malam purnama, cahaya bintang tertutup mendung. Jarak terjauh yang bisa kulihat hanya dua atau tiga langkah kedepan. Suasana sepi, bahkan suara jangkrik pun tidak terdengar. Mbah Seto sudah menutup warungnya, berarti sudah lewat tengah malam.

Terus saja aku berjalan tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Semakin lama langkah semakin cepat. Aku sedikit berlari ketika kaki ini tidak menemukan pijakan yang kuat. Seperti berjalan di awang-awang. Ya aku menginjak bibir jurang dengan semak-semak yang menutupinya. Seketika itu badanku meluncur tanpa bisa kukendalikan. Masih untung aku tidak terantuk batu. Di musim hujan seperti sekarang ini, semak dan rumput tumbuh lebat. Jadilah aku seperti meluncur di perosotan mainan anak taman kanak-kanak.
 
Percuma saja aku berusaha naik lagi. Dinding sangat licin. Tidak mungkin pula berpegangan pada rumput dan semak. Akarnya tertanam di tanah basah sehingga tidak kuat menahan berat tubuhku. Dinding yang lain memang lebih keras, tapi sangat terjal dengan kemiringan yang susah untuk dinaiki tanpa menggunakan tali. Keinginan mencapai puncak tanpa perhitungan dan persiapan yang matang hanya membuat keinginan itu seperti bulan yang dirindukan pungguk. Bahkan keinginan itu hanyalah impian yang menghempaskan kita ke dasar jurang yang paling dalam.
 
Aku mencari tempat yang nyaman untuk berebahan. Udara dingin dan basah menyejukkan kepalaku yang pening sejak dari rumah. Dalam kesejukan itu aku tertidur dan bermimpi melihat anak kecil yang berlarian di padang rumput. Menendang bola plastik kesana kemari. Anehnya tidak jauh dari situ ada singa jantan mondar-mandir. Sesekali melihat anak kecil itu dengan tatapan yang tajam. Lidahnya menjulur keluar. Air liurnya menetes dari sela-sela taringnya yang tajam. Sepertinya singa itu menahan lapar yang sangat.
 
Ketika singa itu mendekat hendak menerkam anak kecil itu, muncul anak singa dari semak di belakangnya. Anak singa berlari menuju sasaran mendahuluinya. Singa jantan yang lapar itu menhentikan langkahnya saat melihat anaknya bermain bola dengan anak kecil itu. Ia berbalik dan masuk kembali ke hutan. Tak tega membunuh teman sepermainan anaknya.
 
Ternyata hewan buas itu mempunyai hati yang lebih jernih dibanding aku. Memang Ia harus memperoleh makanan untuk disantap bersama keluarganya, tapi menyantap anak kecil itu sama saja membunuh keceriaan anaknya. Ia rela mencari mangsa yang lain. Aku ini apa, lari dari masalah dan membiarkan anak dan istriku kelaparan di rumah.
 
Aku terbangun saat sinar matahari menerpa tubuhku. Kehangatan pelan-pelan mulai menyebar. Aku berada pada puncak kesadaran. Setiap mahkluk yang hidup pasti mempunyai masalah. Lari dari masalah akan menambah masalah yang baru. Justru karena masalah itu menandakan kalau aku ini masih hidup. Aku ingat, saat pengajian di kampung ustad bilang "dibalik masalah itu pasti ada penyelesaiannya, dan percayalah bahwa Tuhan tidak akan membebani masalah pada mahkluknya di luar batas kemampuannya".
 
Aku berdiri dengan semangat yang baru. Dengan kekuatan seperti Gatot Kaca yang baru keluar dari Kawah Candradimuka. Siap mengerahkan sekuat tenaga untuk menghadapi masalah yang datang, berapapun banyaknya. Tapi masalahnya bagaimana aku bisa naik keatas sana ? Hoooooiiiiiiii......... Aku berteriak sekencang-kencangnya berharap ada pencari rumput yang mendengarkannya.

Catatan :
  • Pringgitan adalah bukit di daerah Slahung Ponorogo, biasa digunakan anak pecinta alam melatih pendakitan.
  • Gambar nyomot dari sini
12duadua © 2014