Pages

Kamis, 13 September 2007

Free Online Course Materials | MIT OpenCourseWare

Kamis, 13 September 2007

http://ocw.mit.edu/OcwWeb/web/home/home/index.htm
Waktu mengikuti mata kuliah Probabilitas (teori peluang) selalu yang digunakan sebagai alat peraga adalah uang receh (koin) dan dadu 6 sisi. Peragaan itu menunjukkan, setelah pelemparan koin dilakukan berulang-ulang, jumlah angka yang keluar sebanding dengan jumlah gambar, artinya peluang muncul angka sama dengan gambar yaitu 1/2.

Hari ini saya mendapatkan ejekan dari Open Course Ware (OCW), situs milik Massachussetts Institute of Technology (MIT), "Why flip a coin? Try these instead to increase the number of outcomes," sambil menampilkan dadu dengan berbagai macam bentuk.

Kalau dulu sudah ada situs ini dan para pengajar di kampus saya menerapkannya, tentu mata kuliah probabilitas akan sangat menarik, tidak melulu hitung-hitungan angka yang bikin pusing dan membosankan.

OCW adakah situs yang menyediakan seluruh mata kuliah di MIT yang dapat diakses secara cuma-cuma oleh masyarakan di seluruh dunia. Situs ini untuk mendukung komitmen MIT membagikan seluruh pengetahuannya untuk pendidikan di seluruh dunia.

Ada lebih dari 1.700 jenis tema kuliah yang diambil dari kurikulum MIT dapat diunduh. Selain dalam bentuk materi kuliah, juga disediakan video yang menampilkan gambar dosen saat mengajar.

Ini sangat menarik untuk perkembangan pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan di Perguruan Tinggi, tidak menutup kemungkinan juga bagi pendidikan menengah dan menengah atas. Bahan kuliah semakin banyak sumbernya dan semakin beragam. Mahasiswa mempunyai alternatif mendapat materi kuliah yang lebih murah.

Ya tentunya dengan syarat, dosen dan guru pemberi materi, harus terbuka, mahasiswa dibebaskan untuk memilih sumber bahan dari mana saja, tidak terpaku pada satu buku yang direkomendasikan. Dosen dan guru juga harus terus belajar agar suasana dikelas menjadi menarik.

Rambu-rambu Puasa


Gambar ini dikirim salah seorang teman, saya ketawa-ketiwi melihatnya....

Selasa, 11 September 2007

Ramadhan Penuh Cinta

Selasa, 11 September 2007
Sebentar lagi Ramadhan tiba. Alhamdulillah banyak yang mengingatkan saya untuk bersiap-siap menyongsongnya. Ada teman yang menanyakan apa target di bulan puasa besok ? Wah apa ya....

Beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel yang sangat menarik di GusMus.net, "Cinta Tuhan, Cinta Sesama". Ada cerita sufi yang sangat menyentuh hati saya. Ternyata Tuhan sangat mencintai hambanya yang mencintai hambanya yang lain. Cinta Tuhan dapat dicapai dengan cinta sesama, malah mempunyai derajat yang lebih tinggi dibanding cinta untuk-Nya. Inilah ceritanya

Suatu malam, Abu Ben Adhim terbangun dari mimpinya yang indah. Dan ia lihat, di ruangan dalam cahaya terang rembulan, yang gemerlap ceria seperti bunga lili yang sedang merekah, seorang malaikat menulis pada kitab emas.

Ketenteraman jiwa membuatnya berani berkata kepada sang Sosok di kamarnya, "Apa yang sedang kamu tulis?" Bayangan terang itu mengangkat kepalanya dan dengan pandangan yang lembut dan manis ia berkata, "Nama-nama mereka yang mencintai Tuhan."

"Adakah namaku di situ?" kata Abu. "Tidak. Tidak ada," jawab malaikat. Abu berkata dengan suara lebih rendah, tapi tetap ceria, "Kalau begitu aku bermohon, tuliskan aku sebagai orang yang mencintai sesama manusia."

Malaikat menulis dan menghilang. Pada malam berikutnya ia datang lagi dengan cahaya yang menyilaukan dan memperlihatkan nama-nama yang diberkati cinta Tuhan. Aduhai! Nama Abu Ben Adhim diatas semua nama.


Mencintai sesama, ingin sekali saya menjadikannya sebagai target untuk bisa saya laksanakan di bulan Ramadhan mendatang. Banyak sekali perilaku saya, di waktu-waktu lalu, yang kurang pas untuk disebut mencintai sesama. Masih banyak orang yang tidak enak, tersinggung dan marah karena perilaku saya. Saya ingin itu semua bisa saya perbaiki.

Kamis, 06 September 2007

Kehidupan

Kamis, 06 September 2007
Saya salah satu pembaca yang menikmati kisah bos Jawa Pos menjalankan transplantasi livernya. Setiap pagi saya selalu menunggu apa yang diceritakan di korannya. Semoga cerita itu berakhir bahagia.
 
Salah satu yang menarik bagi saya adalah bagaimana dunia kedokteran sudah begitu majunya sehingga saat organ yang ada di tubuh kita ini rusak dapat diganti dengan organ lain yang lebih bagus. Tentu jika kita bisa mengganti biaya untuk melakukan proses itu. Dengan kemampuan ilmu kedokteran nyawa manusia seolah bisa disambung dan diperpanjang.
 
Tentu kita semua sudah tahu, ilmu kedokteran berkembang untuk memperjuangkan kehidupan, dan salah besar jika ada beberapa oknum yang menyelewengkan ilmu itu untuk merenggutnya.
 
Setelah membaca beberapa kali kisah penggantian liver Dahlah Iskan, muncul khayalan saya. Suatu saat seseorang dapat dengan mudah mengganti organ-oragan rusak dalam tubuhnya dengan resiko kematian yang sangat kecil. Kemudian tersiarlah ada orang yang kaya raya berhasil mengganti 90 % organ dalam tubuhnya.
 
Sampai disitu khayalan saya berhenti dan kembali mundur jauh kebelakang, saat saya dilahirkan. Alhamdulillah, Saya lahir dalam kondisi yang lengkap, semua organ penunjang kehidupan ada pada saya, tanpa kurang satu sel pun.
 
Bersamaan dengan perjalanan waktu, saya berkembang, tangan dan kaki saya berkembang, kepala dan isinya berkembang, organ-organ dalam tubuh pun juga berkembang. Tiga puluh satu tahun kemudian, bayi yang dilahirkan ibu saya menjadi saya saat ini.
 
Nah seandainya, orang yang kaya raya itu saya. Dengan sebagian besar organ penunjang hidup saya diganti milik orang lain, saya bisa melanjutkan hidup sampai 30 atau bahkan 60 tahun lagi. Lalu siapa saya saat itu ?

Selasa, 04 September 2007

Jauh-Dekat itu Relatif

Selasa, 04 September 2007
Dulu, waktu sering melakukan penjelajahan bersama teman-teman pencinta alam di SMA, ada gurauan, jangan terlalu percaya dengan kata penduduk setempat tentang jarak suatu tempat. Sebab seringkali apa yang dibilang penduduk "dekat" ternyata masih satu dua jam lagi jalan sampai disana.

Ukuran jauh-dekat kami berbeda dengan ukurannya penduduk. Apa yang dikatakan dekat, ternyata masih jauh sekali bagi kami. Jauh dan dekat itu relatif, tergantung persepsi masing-masing orang. Sama juga seperti jarak Surabaya-Ponorogo, dulu terasa jauh sekali sehingga kalau kami sekeluarga akan pergi ke Surabaya, banyak sekali yang perlu disiapkan termasuk perbekalan di jalan.

Tapi sekarang, jarak itu terasa dekat. Apalagi saat ini saya sering balak-balik Surabaya-Ponorogo. Karena keseringan itu, saya tidak perlu ribet-ribet lagi mempersiapkannya. Untuk pergi Surabaya-Ponorogo atau sebaliknya, cukup membawa uang ongkos bus dan angkutan. Jarak terasa semakin dekat kalau saya bisa tidur pulas di bus. Setelah bayar karcis langsung molor, tau-tau sudah hampir sampai, rasanya cuma sekejap saja. Pernah juga, saking pulasnya tidur, tidak terasa sudah nyampai, terbawalah saya sampai ke parkiran bus dan dibangunkan kernet bus yang melakukan cheking.

Tentang persepsi jauh-dekat ini saya pernah mendapat pengalaman yang kurang menyenangkan. Sewaktu mahasiswa, saya bersama teman-teman berkunjung ke rumah salah dari kami. Rumahnya di Ujung Pangkah, Gresik.

Teman yang punya rumah sudah berangkat duluan kemarinnya. Kami yang berangkat belakangan belum tahu dimana Ujung Pangkah itu. Kami berangkat hanya berbekal peta yang digambar teman yang punya rumah. Karena masih wilayah Gresik, kami mengira jaraknya tidak terlalu jauh. Kami sepakat berangkat pagi jam 05.30 dan berharap sampai di tempat tujuan tidak lebih dari jam tujuh sehingga bisa sarapan disana.

Sampai di perbatasan Surabaya-Gresik jam enam lewat sedikit. Kami semua bergurau menebak kira-kira menu apa yang disiapkan untuk sarapan nanti. Langsung saja saya menjawab "rawon", sambil membayangkan pagi-pagi yang dingin makan rawon sedikit panas, wah nikmat sekali.

Ternyata, Ujung Pangkah itu wilayah di ujung utara Gresik yang masih satu sampai dua jam lagi sampai disana. Ditambah muter-muter dan tanya-tanya, kami baru sampai di rumah teman saya sudah lewat jam sepuluh. Kami semua cengar-cengir, rasa lapar kami sudah hilang, tapi berganti "senep", sakit.


Tulisan ini saya tulis di terminal Selo Aji Ponorogo, dinihari, saat menjadi orang aneh.

Senin, 03 September 2007

Kagum dan Terharu

Senin, 03 September 2007
Tadi pagi saya kagum sekaligus terharu pada warga korban lumpur di Sidoarjo karena bersedia mengembalikan kelebihan pembayaran ganti rugi lahan miliknya. Di saat-saat yang sulit ternyata mereka masih mempunyai hati nurani, tidak menggunakan yang bukan hak mereka.

Saya mencoba mencari-cari berita tentang pengembalian ini. Ternyata, sebelumnya sudah ada beberapa warga yang melakukan hal serupa. Salah satunya adalah Waras, warga Desa Siring. Uang yang dikembalikan terbilang besar Rp 429,4 juta.

Setelah Waras kemudian menyusul Lestari dan Yayuk, keduanya warga Perum TAS. Lestari mengembalikan Rp 32 juta, sedangkan Yayuk sebesar Rp 25,2 juta.

Sikap yang ditunjukkan korban lumpur Sidoarjo seolah membuktikan gurauan yang sering saya dengar, sebenarnya korupsi itu dilakukan bukan oleh orang-orang yang kekurangan, tetapi oleh orang-orang yang bergelimang harta.


Gambar pinjam dari Antara

Minggu, 02 September 2007

Jadi Orang Aneh

Minggu, 02 September 2007
Menjadi pusat perhatian karena menjadi artis mungkin menyenangkan sekaligus membanggakan. Tetapi dilihat banyak orang karena dirasa aneh, sangat tidak enak, kikuk dan serba salah.

Ceritanya, ketika saya pulang ke Ponorogo, tiba di terminal sekitar jam satu malam. Sementara bus yang akan saya tumpangi lagi, baru berangkat jam setengah dua. Jadi nunggu agak lama.

Rasanya tidak enak kalau hanya bengong saja, saya keliling mencari kios yang jual koran atau majalah, atau apa sajalah yang penting bisa untuk baca-baca. Tapi semua kios yang buka dini hari itu tidak ada yang menjual bahan bacaan. Akhirnya saya mengeluarkan buku tulis dan pena, dan mulailah saya menulis.

Di tengah-tengah saya menulis ada orang yang memanggil saya dengan keras, "Mas, sedang bikin laporan apa ?"

Ha..., saya sedikit kaget. Apalagi mendengar kata laporan. Mungkin saya ini dikira intel yang sedang observasi mencari target. "Eh...emmm, endak kok Pak, cuma nulis-nulis aja."

"Ooo...bikin catatan pribadi ya Mas."

Langsung saja saya iyakan. Meski agak sedikit kikuk karena banyak yang melihat, tapi rasanya lega tidak dikira macam-macam. Saya tetap melanjutkan menulis, biarlah dikira orang aneh asal tidak dikira orang jahat.
12duadua © 2014