Pages

Selasa, 20 Maret 2007

Tidak Berprasangka dan Selalu Berdialog

Selasa, 20 Maret 2007

Beberapa waktu yang lalu saya melihat berita di televisi tentang sekelompok orang yang mendatangi sebuah toko besi di Madura. Sekelompok orang tersebut mendengar kabar bahwa pemilik toko tidak mengijinkan karyawannya melaksanakan sholat jum'at padahal karyawannya adalah laki-laki muslim. Kedatangan mereka untuk meminta penjelasan pemilik toko.

Ada dua hal yang menurut saya sangat menarik dari kejadian tersebut. Pertama, sekelompok orang itu melaksanakan tindakannya tidak hanya berdasarkan kabar (laporan) dan prasangka. Sebelum melaksanakan aksinya, salah seorang dari mereka menyamar menjadi karyawan di toko tersebut. Setalah enam hari bekerja, terbukti pemilik toko memang melarang karyawan laki-laki melaksanakan sholat jum'at.

Kedua, saya tidak melihat ada kekerasan dalam aksi tersebut. Tidak ada barang yang dirusak, tidak ada kaca yang pecah bahkan tidak ada teriakan-teriakan provokatif yang memancing emosi. Meskipun dalam suasana yang tegang kedua belah pihak (pemilik toko dan kelompok orang yang berakasi), saling berdialog. Mereka menjelaskan kepada pemilik toko bahwa menjalankan sholat jum'at adalah wajib bagi laki-laki muslim. Sedangkan pemilik toko mencoba menjelaskan alasannya. Sebenarnya tidak masalah kalau karyawannya meminta ijin untuk menjalankan sholat jum'at, yang menjadi masalah karyawannya tidak meminta ijin terlebih dahulu kepadanya dan tidak segera kembali bekerja setelah sholat, seringnya mereka kembali ke toko setelah jam dua siang.

Dalam kehidupan ini benturan antar kepentingan dan budaya pasti akan terjadi. Apalagi di jaman sekarang ini ketika teknologi informasi berkembang pesat dan transportasi semakin mudah membawa kita kemana saja yang kita inginkan. Yang lebih penting bukan bagaimana menghindari benturan itu terjadi tetapi bagaimana membuat benturan tersebut tidak sampai menimbulkan dampak negatif, kerusakan dan permusuhan. Kalau bisa benturan itu menimbulkan sikap saling pengertian dan saling menghormati.

Alhamdulillah, sampai berita tersebut selesai disiarkan tidak terjadi peristiwa yang meresahkan, damai-damai saja. Semoga keduanya saling mengerti, pemilik toko mengerti bahwa ada kewajiban yang harus dilaksanakan oleh laki-laki muslim pada hari jum'at siang dan memberikan keleluasaan bagi mereka untuk melaksanakannya. Karyawannya juga harus mengerti bahwa ada tanggung jawab untuk menjaga toko sehingga tidak menggunakan kesempatan dan kepercayaan itu untuk kepentingannya pribadi.

Akhirnya semoga terjadi hubungan yang harmonis yang saling menguntungkan. Pemilik toko dapat terbantu untuk menjalankan usahanya dan karyawanpun tertolong dengan mendapatkan pekerjaan.






Rabu, 07 Maret 2007

Paradigma Terhadap Sebuah Buku

Rabu, 07 Maret 2007


Pernahkah teman-teman membeli buku dan setelah membaca beberapa bab awal merasa kecewa karena isinya tidak sesuai dengan yang kita bayangkan ? Saya pernah beberapa kali mengalaminya, bahkan ada buku yang sampai sekarang belum selesai saya baca dan saya tinggal begitu saja.

Sudah menjadi pemahaman bersama bahwa buku adalah jendela ilmu pengetahuan, pembuka wawasan dan sumber pencerahan. Membaca buku sama seperti membuka jendela, memberi kesempatan udara yang segar masuk ke otak kita, membebaskan diri dari ruang berfikir yang pengap dan memperluas pandangan sampai jauh ke luar.

Tidak heran jika ada orang yang tergila-gila membaca buku, koleksi bukunya sampai ribuan buah, tertumpuk di semua ruangan di rumahnya sampai-sampai tidak tersedia tempat duduk untuk tamu di ruang tamunya karena penuh dengan tumpukan buku-buku.

Saya pun mempunyai pemahaman seperti itu. Saya suka membaca buku, meskipun termasuk yang terlambat memulainya. Ada alokasi dana untuk membeli buku dalam anggaran bulanan saya, meskipun tidak selalu ada, tergantung kebutuhan, dan jumlahnya tidak terlalu besar. Karena itu saya harus selektif dalam memilih buku, kalau perlu harus membaca beberapa halaman secara acak untuk memastikan buku ini memang saya butuhkan.

Karena memilih-milih itu suatu saat saya kecewa dengan buku yang saya beli, habis plastik pembungkusnya tidak boleh dibuka, jadi tidak bisa membaca sepintas isinya. Ternyata buku yang saya beli tidak sesuai dengan kebutuhan yang saya inginkan. Jadilah buku itu hanya menjadi koleksi saja.

Setelah beberapa lama (lebih dari setahun) saya iseng-iseng membuka buku itu kembali dan membacanya mulai dari awal. Ternyata buku itu berubah menjadi buku yang menarik. Saya senang sekali membacanya. Banyak hal yang saya dapat yang dulu tidak saya temukan.

Pengalaman dan peristiwa yang kita alami membentuk paradigma kita. Paradigma itu berproses, berubah-ubah sesuai dengan bertambahnya pengalaman dan peristiwa yang kita alami. Pun demikian, paradigma terhadap sebuah buku bisa berubah karena bertambahnya pengalaman dan peristiwa yang kita alami. Dulu, saya tidak bisa menangkap pesan yang disampaikan penulis lewat buku itu, tapi setalah beberapa saat membacanya kembali, pesan-pesan itu tampak dan bermunculan.

Pernah juga saya punya ide untuk menulis tentang sebuah tema. Selain mencari-cari sumber inspirasi di internet saya juga mengaduk-aduk rak buku saya, mencari-cari buku yang kira-kira dapat dijadikan sumber bacaan. Saya menemukan sebuah buku yang dulu tidak selesai saya baca. Ternyata saya menemukan sumber yang bagus sekali untuk tema yang akan saya tulis di bab-bab terakhir buku itu.

Jadi memang tidak ada ruginya membeli buku, buku apapun, karena suatu saat akan sangat berguna, jika bukan untuk kita, mungkin untuk anak cucu kita atau orang lain dikemudian hari. Karena itu saya bercita-cita suatu saat mempunyai perpustakaan pribadi dengan koleksi buku yang beragam, syukur-syukur bisa membentuk komunitas membaca untuk tetangga-tetangga saya....




Minggu-minggu Kemarin Saya Jeda Sejenak...


Minggu-minggu terakhir ini saya jarang sekali nengok MP. Saya mendapatkan rahmat dari Allah untuk bisa merasakan sakit. Rahmat karena saya bisa merasakan begitu besarnya nikmat sehat itu.

Awalnya saya menganggap biasa rasa kurang enak di badan ini, saya masih tetap bekerja seperti biasa. Hari itu pas hari Jum'at, sebentar lagi akan pulang ke Malang dan bisa istirahat dua hari di rumah. Seninnya saya tetap masuk kerja meski rasa kurang enak badan masih terasa bahkan bertambah parah. Benar saja, jam 3 sore sudah tidak kuat lagi. Saya minta ijin pulang.

Sampai di rumah (di Surabaya saya tinggal di rumah kakak) saya minum jahe hangat dan makan roti dan langsung tidur. Jam 5 saya bangun, tapi badan kok terasa melayang dan kepala pusing. Wah ini sakit beneran pikirku. Saya langsung berkemas-kemas pulang ke Malang.

Setelah dua hari ijin tidak masuk kerja, kamisnya saya balik ke Surabaya. Lumayan badan sudah enakan. Tidak lama setelah sampai di Surabaya, istri saya mengabari kalau anak saya sakit. Waduh...jadi tertular ke anak. Saya merasa bersalah membawa virus ke rumah...Istri saya langsung membawanya ke dokter dan benar kata dokter penyakitnya sama persis dengan saya.

Tapi istri saya kawatir, di Malang sedang mewabah demam berdarah. "Dok apakah ada kemungkina kena demam berdarah ?" tanya istri saya. Dokter masih belum bisa memastikan karena masih hari pertama, demam berdarah bisa diditeksi setelah hari ketiga. "Ok saya pantau sampai sabtu, nanti dicek lagi" kata dokter.

Sabtu, panas anak saya turun, sepertinya sakitnya sudah sembuh. Minggunya anak saya sudah bermain dengan teman-temannya. Saya dan istri sempat mengajaknya ke toko untuk belanja. Tapi senin pagi badannya panas lagi, semakin siang panasnya semakin tinggi, badannya lemas, seharian hanya tidur-tiduran saja. Malamnya saya membawanya ke dokter kembali. Dokter menyarankan untuk cek darah, ia curiga anak saya kena demam berdarah. Di arsip dokter ada tetangga saya yang sudah positif demam berdarah. Saya dan istri langsung lemas...

Besoknya saya bawa anak saya ke laboratorium untuk cek darah. Hasilnya memang positif demam berdarah. Trombositnya di bawah batas normal. Saya dan istri hampir menangis.

Kami dan dokter berunding bagaimana langkah selanjutnya yang harus diambil, apakah harus opname atau tidak. Setelah agak lama akhirnya diputuskan untuk dirawat di rumah saja, tapi dokter wanti-wanti untuk memberinya minum yang banyak, sewaktu-waktu kritis tidak sampai drop karena kehilangan cairan sehingga masih bisa tertolong.

Kami berdua harus mengawasi perkembangan anak saya setiap saat. Setengah jam sekali saya bergantian dengan istri memegang telapak tangan dan kakinya. Kalau terasa dingin sekali harus segera dirujuk ke rumah sakit karena itu tanda-tanda syok dan harus segera dilakukan penanganan di rumah sakit.

Alhamdulillah, malam itu tidak terjadi apa-apa. Paginya saya kembali membawanya ke laboratorium untuk dilakukan cek darah ulang, hasilnya trombositnya naik dan sudah dalam batas normal. Saya mengkonsultasikannya ke dokter, ia menyarankan besok cek darah lagi untuk memastikan perkembangannya.

Saya dan istri berucap syukur, hasil cek yang ketiga ini trombositnya naik lagi, kondisi anaknya sudah kembali normal, ceria seperti semula.






Kamis, 15 Februari 2007

Saat kami berkunjung ke ISCO Pecindilan Surabaya

Kamis, 15 Februari 2007



Merangkai Cita-cita


Dalam keadaan yang sulit, kita tentu bangga melihat anak-anak mampu memiliki cita-cita di masa depan. Tentu kita akan lebih bangga bila mampu memberikan kesempatan bagi mereka untuk mewujudkannya.

Bersama seorang teman, saya berkunjung ke sanggar tempat anak-anak dari keluarga miskin berkumpul setelah pulang sekolah. Mereka sangat senang ketika ada orang baru datang berkunjung, apalagi tahu kalau mereka akan di foto, mereka berebut mengambil tempat paling depan sambil menunjukkan ekspresi wajah masing-masing.

Mbak Novi, koordinator sanggar mendampingi kami dan menjelaskan kegiatan-kegiatan untuk anak-anak di sanggar. "Semua keigiatan disini bertujuan untuk memperluas pandangan anak-anak tentang masa depan, jangan hanya terpaku pada lingkungan sekitar, kami berharap mereka punya cita-cita yang beragam, tidak hanya ingin menjadi tukang becak, pemulung atau pedagang seperti orang tuanya" Mbak Novi menjelaskan visi dan misi sanggar.

Sanggar ini melakukan pendampingan kepada anak-anak sejak usia sebelum sekolah (pra-sekolah) sampai mereka lulus Sekolah Menengah Atas. Pendampingan itu untuk mencegah anak-anak menjadi anak jalanan atau buruh anak, memberi mereka kesempatan pendidikan yang lebih baik sehingga dapat merasakan manfaat pendidikan bagi dirinya maupun keluarganya.

"Mereka mempunyai hak untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam bercita-cita dan mewujudkannya" lanjut Mbak Novi. Memang anak-anak di sanggar itu sebagian besar berasal dari keluarga yang secara ekonomi kurang mampu sehingga terpaksa harus bekerja di jalan atau melakukan pekerjaan yang berbahaya dan beresiko pada kesehatannya. Karena kondisi itu hak mereka untuk mendapatkan pendidikan dikorbankannya.

Saya sangat senang berada di tengah-tengah mereka, dalam himpitan ekonomi keluarganya mereka masih dapat bermain dengan riang gembira dan bersemangat mengikuti semua kegiatan di sanggar. Saya pun berkeliling melihat-lihat ruangan-ruangan belajar anak-anak. Di dinding ruang depan terpasang absen yang unik, nama-nama anak di tulis di kertas yang berbentuk buah. Anak yang masuk buahnya berwarna, sedangkan yang tidak masuk buah kertas dipasang terbalik sehingga hanya nama dan warna putih yang terlihat. Selain itu berbagai lukisan dan berbagai kerajinan hasil karya anak-anak sanggar dipamerkan di ruang ini.

Saya pun melihat anak-anak bermain ular tangga di ruang tengah. Salah satu kotak ular tangga berisi perintah bercerita kegiatan dari pagi sampai sore ini. Salah satu dari mereka mendapat giliran bercerita. Dengan suara khas anak-anak iapun bercerita "Pagi saya bangun tidur lalu mandi pakai sabun, ondol dan sam-pooo. Setelah berpakaian saya berabgkat ke sekolah........" Saya tersenyum karena ia menyebut ondol untuk odol.

Di sela kegembiraan saya, ada kegetiran yang terasa ketika Mbak Novi bercerita bagaimana sulitnya berkoordinasi dengan sekolah tempat akan-anak belajar, terutama masalah pendanaan. Banyak pungutan liar yang peruntukannya tidak jelas, "Setiap pengeluaran kami, harus kami laporkan ke donatur Mas, jadi kami tidak bisa memenuhi berbagai pungutan atau iuran di luar kegiatan belajar mengajar, itupun harus jelas dan ada buktinya. Terkadang kalau diminta bukti pembayaran, sekolah tidak mau memberikannya. Di situlah kami sering uring-uringan dengan sekolah" cerita Mbak Novi.

"Ada satu lagi Mas" tambahnya, "Buku-buku penunjuang yang diberikan pada anak-anak sering kami beli dari luar, soalnya kalau beli di sekolah mahal dan lagi, bukti pembayarannya tidak bisa diminta, kan repot, bagaimana kami membuat laporan jika tidak ada buktinya"

Kegetiran itu segera terlupakan ketika melihat Sugik, salah satu anak sanggar menerima suapan vitamin dari kakak mentornya, kami semua tertawa melihat ekspresinya. "Semoga vitamin itu bisa membuat kamu sehat, bisa bersemangat untuk sekolah dan bisa merangkai cita-citamu" doa saya.

Suapan vitamin itu tanda kalau kegiatan sore ini berakhir, anak-anak pulang. Kami pun berpamitan dan mengucapkan banyak terima kasih karena diperbolehkan berkunjung ke sanggar ini. Mbak Novi sempat meminjamkan CD foto-foto kegiatan outbond, "tapi dikembalikan ya Mas" katanya sambil tersenyum.




Selasa, 13 Februari 2007

DPRD, mewakili siapa ???

Selasa, 13 Februari 2007


Ironi sekitar Peraturan Pemerintah Nomer 37 Tahun 2006 dan perjalanan demokrasi di Indonesia.


Dalam struktur pemerintahan yang demokratis, rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Rakyatlah yang sebenarnya memegang kendali pemerintahan. Dalam konsep demokrasi yang ideal, rakyat yang langsung mengontrol jalannya pemerintahan, melakukan koreksi terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Karena konsep ideal tersebut tidak mungkink dilaksanakan, maka di Indonesia dibentuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai perwujudan kekuasaan rakyat tersebut. DPR adalah wakil rakyat yang meneruskan suara dan aspirasi rakyat kepada pemerintah. Sedangkan pelaksanaan fungsi DPR di kabupaten/kota dilaksanakan oleh DPRD

Namun demikian apa yang kita saksikan disekitar kontrofersi Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2006 (PP 37/2006) mengenai Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD yang sedang ramai dibicarakan ?

Banyak elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, akademisi dan para tokoh masyarakat, menolak pelaksanaan PP 37/2006. Peraturan ini dinilai kurang memahami kondisi rakyat yang belum mentas dari kondisi krisis, ditambah lagi dengan banyak terjadinya bencana alam di berbagai wilayah Indonesia.

Karena mendapat banyak protes akhirnya Pemerintah mencabut peraturan tersebut. Pencabutan itu disampaikan oleh juru bicara kepresidenan Andi Malarangeng bulan Januari kemarin. Penolakan terhadap PP 37/2006 juga disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan yang melakukan review terhadap pelaksanaan peraturan tersebut.

Reaksi yang berbeda ditunjukkan oleh wakil rakyat di daerah, Senin pagi (12 Februari 2007) 500 orang delegasi anggota DPRD provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (Adkasi), Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia (Adeksi), serta Badan Kerjasama Pimpinan DPRD Provinsi Seluruh Indonesia (BKPDPSI) datang ke gedung DPR di Senayan, Jakarta. Kedatangan delegasi tersebut bertujuan untuk menuntut pemerintah melaksanaan PP 37/2006 secara konsisten tanpa takut pada tekanan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), akademisi dan elemen masyarakat yang lain.

Tidak hanya menyampaikan tuntutan, mereka juga akan menempuh jalur hukum jika tuntutan tersebut tidak dilaksanakan pemerintah. Menurut mereka pencabutan harus melalui penerbitan PP yang baru atau atas dasar putusan MA melalui upaya judicial review.

Sangat ironi, DPR yang seharusnya menyuarakan aspirasi rakyat justru memberikan suara berbeda yang bertentangan dengan aspirasi rakyat. Memang tidak semua anggota DPRD menuntuk pelakasanaan PP 37/2006, bahkan ada yang secara tegas menolak dan bersedia mengembalikan uang rapelan yang diterimanya. Tetapi secara institusi, Adkasi, Adeksi dan BKPDPSI melalui perwakilannya masing-masing menuntut pelaksanaannya.

Pertanyaan yang muncul kemudian, DPRD itu mewakili siapa ? Rakyat kah ? atau siapa ?









Rabu, 07 Februari 2007

BPS-Statistics Indonesia

Rabu, 07 Februari 2007

http://www.bps.go.id/index.shtml
Setiap hari saya selalu bekerja dengan data-data, termasuk data-data statistik Indonesia. Ini salah satu sumber yang sering saya pakai. Data dan publikasi BPS bisa di download. Meski tidak lengkap banget tapi lumayan membantu.

Semoga bermanfaat.
12duadua © 2014