Sebenarnya blog ini tempat menampung tulisan-tulisan saya di blog yang dulu [karena alasan yang masuk akal ditutup oleh yang punya]. Sebenarnya lagi, saya sudah membuat blog berbayar [katanya biar keren] tapi ya karena sayanya yang kurang keren tutup juga. Jadilah blog ini yang jadi kena getahnya. Mengapa 12duadua? Ah, tidak ada yang istimewa dengan nama ini. Hanya penanda saja, blog ini dibuat bertepatan dengan tanggal 22 Desember, itu saja.
Selasa, 23 Januari 2007
Tuck Everlasting
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Drama |
Tetapi, bagaimana seandainya kita bisa memilih untuk hidup sesuai dengan kodrat atau hidup yang abadi, kita akan memilih yang mana ?
----------------------------
Di suatu sore saya dan istri melihat film "Tuck Everlasting" dari CD yang kami sewa di rental dekat kontrakan kami. Film tersebut diangkat dari sebuah novel karya Natalie Babbitt dengan judul yang sama, menceritakan kisah seorang gadis, Winifred "Winnie" Foster (Alexis Bledel), yang melarikan diri ke hutan karena kehidupan yang menyesakkan dan penuh aturan di rumahnya.
Karena terlalu jauh masuk ke hutan Winnie tersesat. Tidak disengaja ia bertemu dengan Jesse (Jonathan Jackson), anak bungsu dari keluarga Tuck yang tinggal jauh di pedalaman hutan. Pertemuan itu diketahui oleh kakak Jesse, Miles (Scott Bairstow). Kemudian Miles membawa Winnie ke rumahnya. Miles sangat marah karena Jesse berhubungan dengan orang asing karena dianggap membahayakan keluarga Tuck.
Winnie diperlakukan dengan sangat baik oleh keluarga Tuck. Bahkan Mae (Sissy Spacek), ibu Jesse dan Miles, merasa sangat senang karena ada perempuan lain di rumahnya. Angus (William Hurt) kepala keluarga Tuck juga menunjukkan sikap yang baik.
Karena itulah seluruh keluarga Tuck mengasingkan diri. Mereka takut kalau semua orang tahu rahasia itu sehingga akan terjadi kekacauan karena semua orang akan menginginkannya. Tidak ada seorangpun yang tahu kecuali keluarga Tuck dan menantunya, istri Miles yang saat ini dirawat di rumah sakit jiwa di kota.
Seluruh keluarga Tuck mengetahui hubungan Jesse dan Winnie. Akhirnya Angus mengajak Winnie ke tengah danau. Diatas perahu, Angus menceritakan kisah keluarga dan mata air abadi itu. Angus menceritakan semuanya karena kawatir kejadian Ann berulang. Ann tidak pecaya akan rahasia itu, bahkan menuduh keluarga Tuck menjalankan ajaran setan. Ann meninggalkan keluarga Tuck dan sekarang menjadi gila. Angus tidak ingin Winnie menjadi seperti Ann. Tetapi Angus tidak bisa memaksa untuk meminum atau tidak air itu, semua terserah pada Winnie.
"Semua orang menginginkan hidup abadi, sebenarnya yang lebih penting bukan seberapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita hidup" kata Angus kepada Winnie. "Jangan takut mati, takutlah akan kehampaan hidup" lanjut Angus.
Tanpa diketahui Angus dan Winnie, seorang misterius berbaju kuning (Ben Kingsley) melihat mereka berdua. Orang misterius ini sudah sejak lama berkelana mencari keluarga Tuck untuk memiliki rahasia keabadian itu. Ia mendengar dari Ann yang berteriak-teriak menyebutkannya.
Dengan cerdik, orang misterius itu melaporkan apa yang dilihatnya kepada keluarga Winnie yang sudah kawatir kehilangan putri satu-satunya. Ia bercerita bohong. Winnie berada di tangan penculik yang berbahaya dan jahat, sewaktu-waktu bisa melakukan apa saja terhadap Winnie. Keluarga Winnie meminta bantuannya. Ia menyanggupi tetapi dengan syarat hak kepemilikan hutan yang dimiliki keluarga Winnie di serahkan padanya. Dengan terpaksa permintaan tersebut disetujui.
Dibantu polisi dan anjing pelacak, keluarga Winnie menyusur hutan ke tempat yang ditunjukkan orang misterius berbaju kuning tersebut.
Keluarga Tuck sudah menduga keberadaannya diketahui oleh seseorang. Karena itu, mereka berencana pindah ke tempat yang lain dan mengantarkan Winnie pulang. Sesaat sebelum berangkat datanglah orang yang misterius itu. Orang tersebut meminta rahasia abadi itu dengan menyandera Winnie. Ia ingin menguasainya untuk dirinya dan untuk orang yang meninginkannya, tentu dengan sejumlah imbalan yang besar.
Di tengah ketegangan itu, Mae mengendap-endap dan berhasil memukul kepala orang misterius itu dengan balok kayu. Orang itu roboh dan tewas.
Tak seberapa lama rombongan keluarga Winnie dan polisi tiba di tempat itu. Angus dan Mae ditangkan, sementara Miles dan Jesse berhasil meloloskan diri. Angus dan Mae dimasukkan ke penjara. Mae mendapat hukuman mati karena melakukan pembunuhan.
Sebelum hukuman mati dilaksanakan, pada suatu malam, Miles, Jesse dan Winnie berhasil mengeluarkan Angus dan Mae dari penjara. Mereka tidak ingin hukuman mati dilaksanakan karena Mae tidak bisa mati, semua orang akan mengetahui rahasia abadi itu dan kekacauanpun akan terjadi.
Setelah berhasil mengeluarkan Mae dan Angus, keluarga Tuck berpisah dengan Winnie. Sebelum berpisah, Jesse meminta Winnie untuk meminum air abadi itu ketika suasana sudah aman. Suatu saat nanti Jesse akan menjemputnya.
----------------------------
Bagi saya dan istri, film ini sangat bagus sekali. Sebenarnya kami tidak terlalu suka dengan setting filmnya, setting abad ke-19. Begitu juga bagi penggemar film action, jangan berharap ada adegan-adagan action yang menarik karena memang tidak ada. Kami tertarik dengan filosofi hidup dan kehidupan yang menjadi inti cerita film ini. "Yang terpenting bukan seberapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita menjalaninya. Jangan takut akan kematian, takutlah akan kehampaan hidup".
Kamis, 18 Januari 2007
"Kami tidak butuh rumah. Kami hanya minta rimba kami dijaga"
Kamis, 18 Januari 2007
| Rating: | ★★ |
| Category: | Other |
Rencananya, Bapak Menteri akan memberikan bantuan rumah bagi masyarakat Suku Anak Dalam, tetapi mereka menolaknya, "Kami tidak butuh rumah. Kami hanya minta rimba kami dijaga" kata mereka.
Setelah cari-cari di internet, saya tau bahwa kehidupan mereka memang menyatu dengan hutan, mereka mempunyai peradaban sendiri yang berbeda dengan kita. Hidup berpindah-pindah, rumahnya hanya dari ranting dan dedaunan sekedar tempat berteduh dan ditinggalkan ketika mereka berpindah ke tempat yang lain. Mereka terbiasa tidur beralaskan tanah.
Ya...kalau memang kita menganggap kehidupan mereka tidak layak disebut kehidupan yang baik dan perlu untuk diperbaiki, cara pendekatannya yang harus dipikirkan. Jangan sampai niat baik kita dinilai negatif dan terjadi penolakan.
Yang menarik adalah ungkapan mereka, patut untuk kita renungkan bersama, "Kami hanya minta rimba kami dijaga". Hutan sangat berharga bagi mereka, nyawa bisa menjadi taruhan untuk menjaganya. Bagaimana dengan kita ?
Selasa, 16 Januari 2007
Pertarungan Dua Senjata, Budaya dan Merek Dagang
Selasa, 16 Januari 2007
Ketika
pemilihan umum menggunakan metode langsung, para kontestan berlomba
merebut hati rakyat, berebut corong untuk mengatakan dialah yang paling
dekat dengan rakyat, paling paham kemauannya dan paling tau kunci
segala persoalan yang dihadapi masyarakat. Ujung-ujungnya coblos gambar
saya di bilik suara karena sayalah yang paling pantas untuk menjadi
pemimpinmu.
pemilihan umum menggunakan metode langsung, para kontestan berlomba
merebut hati rakyat, berebut corong untuk mengatakan dialah yang paling
dekat dengan rakyat, paling paham kemauannya dan paling tau kunci
segala persoalan yang dihadapi masyarakat. Ujung-ujungnya coblos gambar
saya di bilik suara karena sayalah yang paling pantas untuk menjadi
pemimpinmu.
Mencermati
pemilihan Gubernur Jawa Timur yang akan dilaksanakan tahun depan, ada
pertempuran yang menarik antara dua bakal calon. Keduanya sama-sama
pejabat penting Pemerintah Propinsi Jawa Timur dan sama-sama mempunyai
senjata yang ampuh untuk bertempur yang bisa menyerang tanpa disadari
musuhnya. Karena itu, meski pertempuran resmi belum dibuka, keduanya
sudah menabuh genderang duluan.
pemilihan Gubernur Jawa Timur yang akan dilaksanakan tahun depan, ada
pertempuran yang menarik antara dua bakal calon. Keduanya sama-sama
pejabat penting Pemerintah Propinsi Jawa Timur dan sama-sama mempunyai
senjata yang ampuh untuk bertempur yang bisa menyerang tanpa disadari
musuhnya. Karena itu, meski pertempuran resmi belum dibuka, keduanya
sudah menabuh genderang duluan.
satu menggunakan senjata budaya, wayang kulit. Dia adalah salah satu
dalang ternama di Jawa Timur, ketrampilan memainkan boneka gepeng dan
keahliannya memainkan karakter memang sudah diakui banyak orang.
Berbagai even penting daerah dengan pagelaran wayang kulit sebagai
hiburannya, hampir pasti menunjuk dia sebagai dalangnya. Rupanya,
potensi ini yang membuat dia yakin dan mantap untuk terjun ke arena
pertempuran, tentusaja keahlian mendalang menjadi senjata utamanya.
lagi menggunakan slogan "Pak De". Ceritanya, sewaktu dia menjadi orang
penting di Jawa Timur, banyak wartawan yang memanggilnya Pak De.
Tampangnya memang pantas disebut demikian, terutama kumisnya yang khas.
Di masyarakat Jawa, Pak De adalah sebutan untuk kakak dari Ibu atau
Bapak. Dalam keluarga besar Jawa, Pak De merupakan sesepuh pengganti
orang tua yang sudah meninggal, menjadi panutan dan rujukan semua
masalah keluarga adik-adiknya. "Pak De" inilah yang kemudian menjadi
senjatanya untuk memposisikan diri sebagai sesepuh, panutan dan rujukan
sekaligus yang paling dekat dengan rakyat. Menariknya, "Pak De" yang
semula hanya terkenal di kalangan wartawan saja, diperkenalkan kepada
masyarakat luas melalui marketing effort. "Pak De menjadi brand, merek
dagang, sebuah produk kacang. Masyarakat Jawa Timur mungkin tau kacang
dengan merek "Pak De" ini. Promosi kacang ini masuk di berbagai media,
baik media cetak maupun elektronik. Bahkan sempat menjadi sponsor
turnamen (liga) sepak bola dengan nama "Kacang Pak De Open".
Nanti akan kita saksikan bersama bagaimana kedua senjata itu berhasil
atau gagal mengantarkan empunya mencapai tujuan. Mana senjata yang
paling ampuh, senjata dengan amunisi budaya atau merek dagang. Atau
kedua-duanya kalah dengan senjata konvensional, jaringan politik dan
kekuasaan. Jangan-jangan kalah telak dengan ilmu hitam money politic.
Diluar itu semua, sebenarnya kita membutuhkan pemimpin yang benar-benar
paham berbagai masalah yang dihadapi masyarakat. Membutuhkan manager
yang sanggup mengelola seluruh jajaran pemerintahan di bawahnya, bukan
untuk menebar pesona, tapi benar-benar bekerja mencari jalan keluar
dari kubangan penderitaan ini. Semoga rakyat Jawa Timur menemukan
pemimpin itu......
Kamis, 11 Januari 2007
Kisah Jari Yang Terpotong
Kamis, 11 Januari 2007
jari ini terpotong, saya sangat bersyukur mas" Ungkap Pak Fajar, orang
asli Sumenep, daerah diujung timur pulau Madura, dalam sebuah obrolan
santai di kantornya. Iya, saya sendiri juga heran, mengapa kehilangan
satu ruas jari kok santai saja, malah sangat bersyukur ? Pak Fajar
paham keheranan saya, lalu bercerita sejarah hilangnya ujung jarinya
itu.
Tahun lalu Pak Fajar berkesempatan menunaikan rukun Islam yang kelima,
haji, yang sudah menjadi cita-citanya sejak dulu, bahkan sejak Ia masih
muda, saat belum mempunyai pekerjaan dan masih bujang. Seperti
pandangan orang-orang Madura pada umumnya, haji adalah cita-cita yang
mulia dan harus diperjuangkan. Orang paling miskin di Madura pun
bercita-cita dan berharap bisa pergi haji. Pernah saya dengar ada orang
Madura pergi haji dari uang penjualan rumahnya.
Budaya masyarakat Madura menganggap pergi haji adalah perjuangan.
Seperti orang yang akan berperang, kepergiannya diantar oleh saudara
dan tetangga-tetangganya. Banyak sekali yang mengantar, apalagi kalau
yang pergi seorang tokoh masyarakat, bisa satu alun-alun penuh ikut
mengantarkannya. Setiap malam, selama hampir satu bulan, doa
dipanjatkan untuk kelancaran ibadah dan keselelamatannya. Setelah
kembali sampai di rumah, banyak saudara dan tetangga-tetangga yang
datang untuk menyampaikan turut berbahagia atas kembalinya dengan
selamat sampai di rumah dan yang lebih penting selamat atas tambahan
kata "Haji" di depan namanya sebagai tanda kehormatannya. Dan biasanya
siapapun namanya, orang akan memanggilnya "Ji".
Nah, setelah saudara dan tetangga-tetangga Pak Fajar semuanya sudah
berkunjung, ada seseorang yang tidak dikenal berkunjung ke rumahnya.
Perawakannya seperti seorang kiai, memakai surban dan baju putih,
bawahnya memakai sarung. Pak Fajar tidak berani menanyakan siapa dia,
tidak sopan katanya. Pak Fajar juga terpesona dengan tindak-tanduknya
yang begitu santun, tutur katanya halus, lebih halus dibanding orang
Sumenep kebanyakan, sampai-sampai Ia hanya mengangguk, mengiyakan
setiap apa yang diucapkannya. Selain mengucapkan selamat, orang tidak
dikenal itu mengingatkan bahwa Pak Fajar harus berhati-hati karena
dalam satu tahun kedepan ada salah satu yang disayanginya akan hilang.
Pak Fajar sangat kaget. Langsung, pikirannya tertuju pada tiga anaknya.
Apakah mereka yang dimaksud orang itu ? Benarkah ia akan kehilangan
salah satu dari mereka ?
Setelah kejadian itu, perasaan takut, bingung, kawatir campur aduk
menjadi satu. Keceriaan yang semula selalu tampak di wajahnya hilang,
berubah menjadi wajah yang kusut dan suntuk. Pak Fajar yang dulunya
penyabar dan suka bercanda sekarang berubah menjadi pemarah. Pernah
suatu ketika Ia memarahi istrinya habis-habisan karena sepulang kerja,
anak sulungnya mengeluh pusing-pusing dan mual, padahal setelah
badannya di oles minyak kayu putih sembuh, ternyata anaknya terkena
masuk angin.
Konsentrasi kerjanya juga hilang. Yang dipikirkan hanyalah ketakutan
kehilangan anaknya. "Saya ingat mas" katanya "Dulu paman saya yang di
Semarang kehilangan semua anaknya setelah pulang haji, meninggal mas,
ada yang sakit ada yang kecelakaan". Sebenarnya Ia sudah berusaha
pasrah, semua adalah milik Allah dan apapun yang akan terjadi adalah
hak Dia. Allah berhak atas semua kehendak-Nya. Tapi, kepasrahan itu
hanya membuatnya tenang sebentar. Ketika malam tiba, rasa takut
menguasai pikirannya kembali. Sering sekali Ia tidak bisa tidur.
Rasa takut dan cemas ditanggungnya sendiri. Pak Fajar sengaja tidak
bercerita kepada siapa-siapa, termasuk istri dan anaknya. Takut mereka
menjadi bingung dan stres seperti dirinya. Kebanyakan orang Madura
masih percaya hal-hal yang mistis, apalagi cerita-cerita tentang haji.
Mereka sangat yakin, selain perjalanan fisik, haji juga merupakan
perjalan mistis, perjalanan jiwa. Apapun yang dialami di Tanah Suci
adalah pertanda bagi perjalanyan hidup dan keluarganya nanti. Makanya
setelah kembali pulang, orang yang pergi haji disambut dan diharapkan
berkahnya. Kata-katanya menjadi tuah.
Bulan puasa kemarin, hampir satu tahun sejak pulang haji, di suatu sore
menjelang beduk maghrib terdengar, Pak Fajar mengupas kelapa muda untuk
berbuka keluarganya. Di ayunan yang terakhir, pisau pengupas melenceng,
nyasar ke telunjuk kirinya. Satu ruas di ujung jari terpisah dari ruas
yang lain. Spontan Pak Fajar mengucap syukur, "Rupanya ini yang
dimaksud, bukan anakku, alhamdulillah satu yang saya sayangi sudah
hilang".
Saya katakan, pasti rasa sakitnya lebih dari yang pernah saya rasakan.
Tapi Pak Fajar menyanggahnya "Saya sendiri juga heran mas, saya tidak
menjerit waktu itu, lawong tidak ada rasa sakitnya sama sekali kok"
katanya.
Sejak saat itu Pak Fajar kembali seperti semula, Pak Fajar yang ceria,
suka bercanda, seorang pegawai yang rajin dan pandai. "Begitulah mas"
Pak Fajar mengakhiri ceritanya. Ya saya mengerti mengapa syukur itu
spontan terucap ketika jarinya terpotong. Yang saya pikirkan cuma satu,
bagaimana Pak Fajar menjalani hidup dalam tekanan pikirannya sendiri
selama hampir satu tahun ?
Senin, 08 Januari 2007
Reparasi dan Charge
Senin, 08 Januari 2007
Sepeda motor yang biasa saya gunakan terasa tidak nyaman, berat dan jalannya kurang sempurnya, akselerasi berkurang. Saya memutuskan untuk membawa ke bengkel untuk di reparasi. Memang menurut hitungan waktu sepeda itu sudah waktunya di reparasi dan olie harus diganti. Dan ternyata, rantai kampradnya sudah aus, waktunya diganti yang baru, maklum sudah tujuh tahun lebih berputar. Alhamdulillan setelah di reparasi, sepeda motor kembali nyaman dipakai, tarikannya kembali normal dan mesinnya halus.
Sampai di rumah, saya ingat harus mengirim SMS kepada teman. Eh ternyata baterainya hampir habis, tinggal satu strip. Segera saya mengisinya kembali. Pernah suatu saat saya lupa membawa charger sehingga tidak bisa mengisi ulang bateri dalam waktu yang lama dan setelah berhasil meminjam charger, baterei sudah tidak bisa terisi kembali. Kata teman di servis HP, baterei jenis ini tidak boleh kosong, kalau sudah terlanjur kosong harus di treatmen khusus agar bisa diisi kembali.
Terkadang saya merasa badan ini lemah sekali, bawaannya malas terus. Otak sulit sekali diajak berfikir, selalu mentok menabrak dinding. Hati pun terasa tidak tenang, gamang, seperti kapal yang terombang-ambing badai di laut. Apakah badan perlu di reparasi atau di-charge juga ? Mungkin iya, saya mencobanya. Dalam kondisi seperti itu saya beristirahat, mengembalikan tenaga melemaskan otot-otot yang tegang. Kalau sudah parah, saat badan terasa sakit semua, saya pergi ke Mas Ridwan, tukang pijat langganan saya. Untuk otak ternyata tidak bisa beristirahat, artinya tidak bisa berhenti berfikir sama-sekali. Apa boleh buat, digunakan mikir yang ringan-ringan saja, membaca koran, majalah atau buku dengan tema yang ringan, bisa juga membaca novel, atau bermain dengan anak. Untuk mengembalikan kondisi hati agar tenang, saya mengikuti anjuran ustad dan khotib, berdzikir, mengingat Allah. Dengan berdzikir, hati bisa kembali tenang.
Alhamdulillah, setelah semua saya lakukan, kondisi kembali normal, ada semangat untuk bekerja kembali. Tapi kok masih malas balik ke Surabaya ya...enakan bermain dengan anak di Malang...Lha terus yang cari uang agar dapur bisa mengepul siapa ??? hehehehe...
Gambar diambil dari Kompas.