
Sudah sekian lama aku tidak merasakan sejuk dan segarnya air hujan. Sebenarnya, menurut hitungan jaman dulu, bulan ini sudah masuk musim penghujan, puncaknya di bulan Desember. Kata orang-orang tua bulan Desember diartikan sebagai
Gedhe-gedhene Sumber (sumber yang paling besar), maksudnya di bulan Desember air di sumur-sumur penduduk paling banyak. Tapi entahlah, Desember akan tiba, hujanpun belum juga turun.
Untuk mengobati kerinduanku akan hujan, aku googling (berselancar di Google), mencari puisi-puisi tentang hujan. Dan menemukan satu puisi dari Sapardi Djoko Damono, " Hujan Bulan Juni"
tak ada yang lebih tabahdari hujan bulan junidirahasiakannya rintik rindunyakepada pohon berbunga itutak ada yang lebih bijakdari hujan bulan junidihapusnya jejak-jejak kakinyayang ragu-ragu di jalan itutak ada yang lebih arifdari hujan bulan junidibiarkannya yang tak terucapkandiserap akar pohon bunga ituTeringat pula masa kecil di kampung ketika penghujan tak kunjung tiba, setiap habis adzan magrib, kami berpujian bersama di mushola dekat rumah memohon pada Yang Mengatur Musim untuk mendatangkan hujan.
Duh Gusti AllahKulo nyuwun jawahJawah ingkang deresSarto nylametakenYa Allah / Kami mohon turunkan hujan / Hujan yang deras / Dan hujan menyelamatkan. Begitulah doa kami waktu itu yang sekarang menjadi doaku. Semoga Allah mendengarkan dan mengabulkan permintaanku.