Pages

Rabu, 01 November 2006

Fenomena Mudik Dan Pemerataan Ekonomi

Rabu, 01 November 2006


Seperti biasa pada lebaran ini saya dan keluarga mudik, pulang ke kampung halaman saya dan juga kampungnya istri. Kebetulan kami berasal dari daerah yang sama, jadi tidak terlalu sulit mengatur waktu kunjungan. Kebanyakan orang Indonesia juga melakukan hal yang sama, mudik menjadi tradisi yang khas masyarakat Indonesia yang mungkin tidak ditemui di negara-negara lain. Memang ada yang mempunyai tradisi mudik seperti itu tetapi tidak sebesar dan sefenomena seperti di Indonesia.

Ada rasa bahagia, senang, gembira ketika bertemu kedua orang tua, kakak, adik, kemenakan dan saudara-saudara lainnya, termasuk teman-teman semasa kecil. Maklum, sudah setahun tidak bertemu, bahkan ada teman yang sudah tidak bertemu bertahun-tahun baru bertemu dan ngobrol lebaran kemarin. Suasana keakraban sangan terasa sekali. Kata ibu saya, lebaran menjadi momen yang sangat membahagiakan karena kembali menjadi ibu yang sebenarnya.

Tapi ada sesuatu yang menggelisahkan hati saya tentang fenomeda mudik dan nasib kampung yang tidak banyak berubah.

Selain segi positif dari mudik yang sudah saya sampaikan di awal tulisan ini, ada beberapa dampak negatif yang timbul karena tradisi mudik. Yang pasti terlihat adalah banyaknya kendaraan yang melintas di jalan khususnya di jalur mudik dalam waktu yang hampir bersamaan. Selain menimbulkan kemacetan yang luar biasa juga menambah jumlah kecelakaan laulintas, apalagi sekarang banyak pemudik yang menggunakan sepeda motor. Dari DKI Jakarta saja diperkirakan ada 1 juta pemudik yang menggunakan transportasi darat dan 300 - 400 ribu pemudik yang menggunakan sepeda motor. Seluruh Indonesia jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor diperkirakan mencapai 3 jutaan. Pihak kepolisian mencatat jumlah kasus kecelakaan lalu-lintas meningkat dibanding tahun lalu. Selama arus mudik dan arus balik lebaran tahun ini terjadi 54 peristiwa kecelakaan lalu-lintas yang mengakibatkan 21 orang meninggal dunia, 44 orang luka berat dan 54 luka ringan.

Secara sosial, pergerakan puluhan juta pemudik menimbulkan banyak kasus kriminal, apalagi di pusat-pusat keramaian seperti terminal, stasiun dan pusat-pusat perbelanjaan. Kasus pencurian dan perampokan juga sering terjadi di rumah-rumah yang kosong ditinggal mudik pemiliknya. Secara ekonomipun, fenomeda mudik ini menimbulkan inefisiensi. Milyaran bahkan triliunan rupiah habis untuk biaya konsumsi jangka pendek yang tidak banyak berpengaruh pada perkembangan ekonomi secara makro. Mungkin akan berbeda jika uang sebesar itu digunakan untuk investasi yang produktif.

Memang tidak bisa kita hanya menyalahkan pemudik saja. Setiap manusia menginginkan kehidupan yang lebih layak yang lebih menjamin masa depannya. Saat ini keinginan tersebut belum bisa dipenuhi oleh kampung-kampung pemudik, kesempatan kerja lebih banyak berada di kota-kota besar. Kesenjangan ekonomi antara kampung dan kota masih besar. Daerah perkotaan yang di dominasi oleh kegiatan ekonomi modern (industri pengolahan, perdagangan, komunikasi, dan jasa keuangan) mengalami pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibandingkan kampung yang didominasi oleh kegiatan ekonomi tradisional.

Kondisi ini disebabkan karena kebijakan ekonomi yang tidak berpihak pada ekonomi tradisional khususnya bidang pertanian, sektor yang dominan di kampung. Pertanian tidak bisa berkembang mengikuti perkembangan ekonomi modern. Bekerja di sektor pertanian dianggap bukan profesi yang membanggakan sehingga banyak yang tidak berminat terjun di sektor pertanian. Di sebuah survey tentang pertanian mengungkapkan bahwa pekerja sektor ini kebanyakan berusia tua bahkan ada yang sudah lanjut usia.

Memang benar pendapat beberapa orang ahli, pemerataan ekonomi akan mengurangi urbanisasi, mengurangi pergerakan orang dari kampung ke kota sehingga mengurangi arus mudik dan balik pada saat lebaran yang akhirnya menekan dampak-dampak negatifnya. Mungkinkah pemerataan bisa tercapai ? Kenapa tidak, sumber daya manusia yang handal di kota-kota kan banyak yang berasal dari kampung. Tinggal membangun komitmen dari sisi manusianya dibarengi usaha pemerintah untuk membangun infrastruktur dan menciptaakan peluang-peluang kerja di kampung.

Referensi :
Ekonomi Mudik (Republika Online 21/10/06)
21 Tewas di Jalur Mudik Pantura Jawa Barat
(Tempointeraktif.com 30/10/06)


Gambar dari:
Otokir Plus












Rabu, 18 Oktober 2006

Misteri Rezeki

Rabu, 18 Oktober 2006

Tadi malam saya bersama istri berbuka puasa di luar. Anak saya sudah mudik duluan, dijemput neneknya kemarin, tanggung mau masak sendiri. Beberapa kali kami berembuk untuk menentukan menu makanan, dan beberapa kali juga kami mlongo karena warung tutup atau sedang ramai. Baiklah, kami memutuskan untuk jalan saja dulu, menu makanan kita pilih sambil jalan. Sampailah kami di depan sebuah warung. Sudah lama kami tidak makan di warung itu, akhirnya kami berhenti dan makan di warung itu.

Sambil makan kami ngobrol. "Memang sudah menjadi rezeki warung ini. Pemberi Rezekilah yang membawa kita sampai di warung ini" kataku. Ya itulah misteri rezeki. Rezeki sudah ada yang menentukan. Manusia hanya berusaha, mencarinya sekuat tenaga, tapi yang menetapkan ya Sang Pemberi Rezeki sendiri.

Suatu saat untuk menghidupi keluarganya, Bibi saya ingin mendirikan warung klontong. Suaminya meninggal beberapa bulan sebelumnya. Ada rasa kawatir di benak Bibi saya. Sudah banyak warung klontong yang berdiri satu jalan dengan rumahnya, malah ada yang sudah terkenal dan besar. Tapi Bibi saya tetap jualan, selain tidak punya keahlian lain, Bibi saya sudah tua, jadi tidak kuat bekerja terlalu berat. Mulanya memang sepi, setelah beberapa bulan mulai ada yang membeli, satu dua orang. Dan sekarang, Bibi saya sudah punya pelanggan. Apakah warung-warung lama berkurang ramainya ? Ternyata tidak, mereka punya pelanggan sendiri-sendiri. Rezeki memang sudah ada yang mengatur.

Kalau rezeki itu sudah ada yang mengatur, mengapa kita masih diwajibkan untuk berusaha mencarinya ?

AA Gym pernah mengatakan, ada rezeki yang diberikan Allah tanpa harus mencarinya, sudah tersedia melimpah di alam, tinggal mengambilnya saja. Udara yang kita hirup dan panas matahari contohnya. Di beberapa tempat, air bersih juga rezeki yang melimpah. Ada juga rezeki yang kita dapatkan setelah kita berusaha mencarinya, jika tidak berusaha mencarinya, rezeki itu tidak akan kita dapatkan.

Lalu, ada orang yang sudah berusaha mati-matian mencari rezeki tetapi tidak didapatkannya atau hanya mendapatkannya sedikit, nah untuk apa berusaha ?

Sayangnya, dunia ini tidak disusun berdasarkan konsep hitam dan putih, tetapi tersusun berdasarkan konsep probabilistik. Banyak ketidakpastian yang terjadi di dunia ini. Kita belajar dengan sungguh-sungguh karena besok akan ujian. Apakah dengan belajar sungguh-sungguh itu, kita pasti bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan besok dengan benar ? Tidak bukan. Belajar itu memperbesar kemungkinan kita bisa mengerjakan soal ujian dengan benar. Katakanlah, dengan belajar sungguh-sungguh, 99% kita bisa mengerjakan soal ujian itu dengan benar.

Begitu juga misalnya kita berdagang di pasar. Kita berjalan mengelilingi pasar dan berteriak-teriak menawarkan barang dagangan kita. Tentu, usaha itu akan memperbesar kemungkinan dagangan kita habis terjual. Bandingkan jika kita berdiam diri di rumah, siapa yang mau beli dagangan kita ? Mungkin ada, tapi kecil sekali kemungkinannya bukan ?.

Nah....terakhir saya ingin berbagi cerita dari keluarga Ali bin Abi Tholib dan Fatimah binti Rosulullah yang patut kita tauladani tentang bagaimana mereka menyikapi rezeki yang diberikan Allah kepada mereka.

----------------------------------------

Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah binti Rasulullah menyabut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.

Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun."Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta'ala."

"Terima kasih," jawab Ali. Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat berjama'ah. Sepulang dari sembahyang, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?" Áli menjawab heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?''

Orang tua itu merogoh kantungnya seraya menjawab, "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya."Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.Ali pun bergegas berangkat ke pasar.

Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, "Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan."

Tanpa pikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya.Fatimah, masih dalam senyum, berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita."

----------------------------------------

Gambar diambil dari : galerikeadilan.net






Selasa, 10 Oktober 2006

Kebahagiaan Ketika Berbagi

Selasa, 10 Oktober 2006

Catatan kopdar MPers Jawa Timur di Panti Asuhan Sunan Giri Malang

Ungkapan bahagia saya sampaikan berkaitan dengan acara buka puasa bersama hari Minggu (08/10/06) di panti asuhan Sunan Giri kemarin. Teman-teman yang ikut dalam kegiatan tersebut juga mengungkapkan hal yang sama. Intinya, kami merasa senang dan bahagia berbagi dengan teman-teman di panti asuhan. Sebuah pengalaman yang mungkin tidak akan terlupakan selama hidup. Membuat mereka tertawa, melupakan sejenak kesedihan dan kepenatan hidup yang selalu mereka hadapi sehari-hari meninggalkan goresan dalam benak kami semua.

Pengalaman yang sama pasti juga dialami teman-teman ketika ikut andil dalam kegiatan-kegiatan sosial, membantu saudara-saudara yang mengalami kesusahan untuk sedikit mengurangi beban hidup yang dipikulnya sehari-hari. Inilah menurut saya yang disebut kebahagiaan sejati, kebahagiaan saat kita berarti bagi orang lain.

Mengapa sesuatu yang kecil menjadikan luapan emosi kebahagiaan yang begitu dasyat ?

Sebuah percobaan dilakukan oleh Martin Seligman (penggagas psikologi positif) kepada mahasiswa yang diasuhnya. Sebagian mahasiswa diberikan uang untuk dibelanjakan sesuai dengan keinginannya, sebagian yang lain diikutkan dalam kegiatan-kegiatan sosial. Dalam waktu yang telah ditentukannya, dilakukan pengujian terhadap kedua kelompok mahasiswa tersebut mengenai kepuasan hidupnya. Dan hasilnya sangat mengejutkannya.

"Saya menemukan sesuatu yang mengejutkan; bahwa pengejaran terhadap kesenangan tampaknya tidak banyak menyumbang bagi kepuasan hidup, Namun keterlibatan dalam kegiatan hidup dan menemukan arti dalam hidup sangat banyak menyumbang bagi tercapainya kepuasan".

Dalam teori tingkat kebutuhan manusia (Hierarchy of Needs) yang diperkenalkan oleh Maslow, tingkat teratas kebutuhan manusia adalah kebutuhan untuk dapat mengaktualisasikan diri. Pada akhirnya, setelah manusia tercukupi kebutuhan fisiknya (Physiological/biological needs), sudah merasa aman dalam lingkungannya (Safety), mempunyai keluarga dan komunitas yang baik (Love/belonging) dan menjadi manusia yang diperhitungkan dalam keluarga dan komunitasnya (Status/esteem), manusia membutuhkan pemaknaan hidupnya (Actualization). Dalam hubungan bermasyarakat, manusia butuh untuk menjadi bagian dan memberikan kontribusi yang berarti untuk menciptakan kehidupan yang baik. Dalam hubungannya dengan Penciptanya (terkait dengan agama dan etika moral), manusia butuh pengakuan bahwa segala yang dilakukannya mempunyai nilai yang baik dihadapan Penciptanya atau paling tidak memberikan citra yang baik sebagai manusia yang beretika dan bermoral.

Namun demikian, apa yang kami rasakan kemarin memberikan pemahaman yang sedikit berbeda, bahwa untuk mencapai tingkatan teratas teori kebutuhannya Maslow tidak harus sesuai dengan tahapan seperti kalau kita naik tangga. Tetapi, setiap anak tangga memberikan kemungkinan kita mencapai kebutuhan teratas. Untuk berbagi dengan orang lain, mensedekahkan sebagian harta kita kepada orang lain yang membutuhkan tidak perlu menunggu kita menjadi kaya, sedikitpun asal iklas pasti akan bermanfaat bagi orang lain dan berefek positif bagi jiwa kita. Untuk berbagi-bagi ilmu tidak harus menunggu kita menjadi orang yang paling pandai, apa yang kita ketahui meskipun sedikit sudah cukup untuk kita bagi-bagikan kepada orang lain.

Mungkin inilah yang dimaksudkan bahwa kita tidak akan kehilangan harta/ilmu yang kita sedekahkan, malah akan dilipatgandakan besarnya. Tentu pelipatgandaan itu bisa dalam bentuk yang sama berupa datangnya rejeki dari tempat yang tidak kita sangka-sangka atau berupa perasaan bahagia yang tidak ternilai harganya, atau bangkitnya suatu bangsa dari keterpurukan. Meminjam ungkapan Ustad Yusuf Mansur "bangsa ini akan bangkit dari keterpurukan jika kita bisa saling berbagi".



Kamis, 21 September 2006

Dan Ketika Mimpi Itu Pergi. Semua Kau Akhiri

Kamis, 21 September 2006

Sudah berkali-kali aku memahami fikiranmu. Masuk kedalam lekuk liku paling rumit dalam dirimu. Menyusuri lorong gelap dan pengap. Bahkan hampir saja aku tersesat tak bisa keluar lagi. Tapi, tetap saja tak mengerti caramu itu.

Beberapa tahun yang lalu kau membawa bangga. Namamu dan keluargamu harum semerbak menyebar ke seluruh pelosok desa. Meskipun ada saja orang yang tidak percaya, dan mengatakan hanya keberuntunganlah yang membawamu sampai disini. Tapi riak itu hilang karna kerasnya sanjungan dan pujaan padamu.

Tidakkah kau ingat itu kawan ?

Tongkat itu kau yang pegang. Semua rela. Semua lega. Berharap kau bawa tongkat itu ke puncak, menghunjamkannya keras-keras. Hingga batangnya hilang ditelan bumi. Dan pesta diadakan. Gendang dan tambur dibunyikan. Tembang-tembang riang dinyanyikan. Makanan dihidangkan. Lonceng berdentang sepanjang pekan. Tanda kemenangan telah datang.

Tidakkah kau ingat itu kawan ?

Puncak kian dekat. Rumput hijau diatasnya terlihat jelas. Hutan kau tinggalkan. Hanya ilalang saja yang tersisa. Kau bisa pilih jalan mana saja yang kau suka. Tidak ada yang mendua. Semua berujung kesana.

Tapi apa yang kaulakukan kawan. Tidaklah lekas bergegas. Berlari melupakan perih. Berdiri meninggalkan tindih. Tendang meninggalkan kenang.

Kau terlalu menepi. Terlena keindahan puri. Meskipun itu hanya mimpi.

Dan ketika mimpi itu pergi. Semua Kau akhiri



Selasa, 19 September 2006

Aku Memilih Untuk Berhenti Kuliah

Selasa, 19 September 2006

Sebuah catatan tersendiri bagi saya untuk Hendy
Setiono, salah satu nominator dari Indonesia dalam pemilihan Asia's Best Entrepreneurs Under 25.
Karena pertama, Ia memutuskan berhenti kuliah untuk memulai usahanya.
Kedua Ia berhenti kuliah dari Perguruan Tinggi yang pernah meluluskan saya.



Berhenti kuliah, sebuah keputusan yang aneh bagi kebanyakan orang. Tapi
itulah yang dipilih Hendy yang saat itu masih berusia 20 tahun. "Dengan
berhenti kuliah, saya tidak punya ijazah untuk melamar kerja. Dengan
begitu saya dikondisikan untuk memiliki bisnis sendiri," inilah alasan
yang diungkapkan Hendy kepada Business Week Indonesia yang mewawancarainya.

Sejak
saat itu Hendy memulai bisnisnya menjual Kebab Turki dengan nama Baba Rafi. Sebenarnya Ia
tidak mempunyai darah wirausaha. Ayahnya bekerja di sebuah perusahaan
minyak di Timur Tengah sedangkan ibunya seorang guru. Motivasi
bisnisnya Ia peroleh dari seminar-seminar bisnis yang puluhan kali Ia
ikuti. Ide munjual Kebab Turki Ia peroleh setelah Ia berkesempatan
jalan-jalan ke Timur Tengah. Kebab, salah satu makanan yang sangat populer di Timur Tengah. Sedangkan di
Indonesia waktu itu masih belum banyak yang mengenalnya.



Sekarang Kebab Turki Baba Rafi sudah mempunyai 70 gerai yang tersebar
di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Malang, Yogyakarta, Pekan Baru dan
Medan. Secara total, omzet Baba Rafi mencapai 900 juta sampai 1 miliar
per bulan. Jumlah yang sangat besar bukan ? Karena usahanya itu Hendy
pernah menerima The Indonesian Small & Medium Business Entrepreneur Award (ISMBEA) dari pemerintah Indonesia.



Tetapi jangan diartikan harus berhenti kuliah untuk menjadi sukses.
Tidak semua orang yang berhenti kuliah (diberhentikan), menjadi orang
yang sukses dalam usaha. Pun sebaliknya, tidak semua orang yang sukses, berhenti kuliah. Terus untuk apa kuliah ? Tau
ah..., cari sendiri jawabanya.











Kamis, 14 September 2006

Jangan-jangan Darwin Benar

Kamis, 14 September 2006


Bukan, saya bukan pendukung teori evolusi Darwin, tidak bermaksud pula mengkoreksi Harun Yahya yang menentang teori evolusi itu.
Saya hanya pembaca dan penikmat teori kedua tokoh tersebut. Pernyataan yang kurang berdasar itu tercetus ketika saya naik bus
dari Surabaya ke Malang. Sopir bus mengendarainya dengan ugal-ugalan,
meliuk-liuk kekanan dan kekiri, padahal waktu itu lalulintas sedang
padat. Sering bus melewati batas tengah jalan meskipun terlihat jelas diarah yang
berlawanan ada kendaraan yang akan lewat. Apa boleh buat, daripada tertabrak bus dan mati konyol, kendaraan yang berlawanan
arah mengalah dan turun dari badan jalan. Memang jalan seperti sudah menjadi
milik sopir bus.



Semua tahu kalau bus itu sudah mondar-mandir Surabaya-Malang
berkali-kali bahkan mungkin sudah ratusan kali. Semuapun tahu kalau
sopir bus itu mempunyai jam kendara (menyamakan dengan jam terbang
untuk pilot) yang tinggi, sangat mahir mengendalikan kendaraan yang
berbadan besar itu. Tapi, apakah pada tempatnya mengendalikan bus
sesuka hatinya, tidak memberi kesempatan pengguna jalan yang lain untuk
melewatinya dengan nyaman.



Gila. Sebutan itu mungkin pantas diberikan untuknya. Jangankan sepeda
motor, truk besarpun dilawan. Tidak merasa bersalah, malah tertawa
dengan bangga. Benar-benar sopir yang kurang waras.



Kemudian, saya ingat, saya pernah melihat tayangan di TV tentang
sekolompok kera yang hidup di hutan. Dalam hidup berkelompok,
kera-kera menandai batas-batas daerah yang dianggap wilayah
kekuasaannya. Jika ada kera dari kelompok lain masuk daerah itu,
pasti akan dilawan. Tidak perduli, kera pendatang itu bermaksud baik
atau jahat. Semua makanan di daerah kekuasaan itu juga menjadi milik
kelompok itu.



Darwin mendasarkan teorinya pada garis keturunan yang sama (common descent), keanekaragamaan makhluk hidup di alam ini terjadi karena penyesuaian diri dengan habitat hidupnya. Karena
kesamaan sifat antara sopir bus dan kera, mungkin Darwin benar. Jika
dirunut jauh ke belakang, sopir bus itu mempunyai nenek moyang yang
sama dengan kera-kera yang ada di hutan.



Ya... semoga hanya sopir bus itu saja yang bernenek moyang kera.














Kamis, 07 September 2006

Menang, sangat menyenangkan. Kalah, ah tidak masalah.

Kamis, 07 September 2006
Sejak kecil saya sangat suka sekali bermain olahraga. Banyak permainan
olahraga yang pernah saya mainkan, sepak bola, bola voli, basket,
pingpong, bulu tangkis, kasti, balap sepeda, lari, catur. Waktu itu
saya belum tau apa yang bisa didapat dari melakukan permainan olahraga
tersebut, senang saja bisa beradu ketrampilan dengan lawan tanding.



Lambat laun, seiring dengan bertambahnya usia dan semakin banyak
berinteraksi dengan orang, saya bisa memahami, ternyata ada satu
pelajaran yang dapat kita ambil dari bermain olahraga itu. Ada kalanya
kita memenangkan permainan itu, tetapi tidak jarang berakhir dengan
kekalahan. Dalam permainan olahraga, kalah dan menang tidak menjadi
masalah karena pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Saya jadi
terbiasa merasa senang dan bahagia menjadi pemenang, dan terbiasa juga,
bahkan lebih sering, merasa terpuruk dan sedih menyesali kekalahan.
Saking seringnya kedua kondisi itu saya alami akhirnya menimbulkan
sikap yang tidak arogan ketika mendapatkan kemenangan karena lain hari
kekalahan pasti saya dapatkan juga. Sebaliknya, tidak terlalu kecewa
dan larut dalam kesedihan ketika kalah karena masih ada waktu untuk
memperbaiki diri untuk mendapatkan kemenangan esok hari. Pengalaman
saya ini pasti juga akan dialami oleh setiap orang yang dimasa kecilnya
juga sering bermain olah raga.



Mungkin banyak orang yang tidak sepakat dengan apa yang saya tulis
diatas. Kalau olahraga mengajari kita tidak arogan ketika menang dan
tidak kecewa ketika kalah, mengapa banyak kerusuhan yang terjadi
akhibat permainan olah raga ?. Yang menang jadi sombong dan yang kalah
tidak bisa menerima kekalahannya dan akhirnya brutal seperti kasus
bonek beberapa hari kemarin.







12duadua © 2014