Kur kur kur....yam makan yam
Azif saat usia 2 tahun. Foto-foto diambil waktu di rumah eyangnya di kampung.
Sebenarnya blog ini tempat menampung tulisan-tulisan saya di blog yang dulu [karena alasan yang masuk akal ditutup oleh yang punya]. Sebenarnya lagi, saya sudah membuat blog berbayar [katanya biar keren] tapi ya karena sayanya yang kurang keren tutup juga. Jadilah blog ini yang jadi kena getahnya. Mengapa 12duadua? Ah, tidak ada yang istimewa dengan nama ini. Hanya penanda saja, blog ini dibuat bertepatan dengan tanggal 22 Desember, itu saja.
Ungkapan diatas teringat kembali setelah saya membaca dialog imajener
Gus Mus (KH Achmad Mustofa Bisri) dengan KH. Hasyim Asy'ari. Keduanya
adalah seorang kyai. Yang satu kyai sekaligus budayawan dan cendikiawan
pengasuh pondok pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, Yang satunya
lagi tokoh pendiri NU dan juga pendiri pondok pesantren Tebu Ireng,
Jombang.
KH. Hasyim Asy'ari yang wafat hampir 60 tahun yang lalu seolah hadir
dihadapan Gus Mus dalam bentuk pemikiran dan cita-citanya. Gus Mus
sangat prihatin dengan kondisi umat (jam'iyah) saat ini. Menurut
Beliau, ummat saat ini tidak saja berbeda pendapat tetapi sudah
mengarah pada perpecahan dan saling benci. Bahkan lebih parah lagi,
sesama saudara, sebangsa, setanah air, seagama, seummat, se-jam'iyah
saling memutuskan hubungan.
Pemikiran dan cita-cita KH. Hasyim Asy'ari untuk menyatukan ummat dan
membangun kehidupan yang baik berbangsa dan bernegara menjadi
penghilang dahaga dan penyejuk hati yang panas. Ingatan akan kewibawaan
dan kesahajaannya kembali hadir meskipun selama hidupnya, Gus Mus belum
pernah bertemu dengan Hadlratussyeikh, sebutan Gus Mus pada KH. Hasyim
Asy'ari. Waktu wafatnya, Gus Mus masih berusia 3 tahun.
Manusia boleh mati, jasadnya boleh lebur dengan tanah, tapi kenangan
akan kebaikan dan buah pemikirannya akan abadi sampai akhir nanti.
Sebagai seorang muslim, tentu saya terkenang usaha Muhammad saw sebagai
seorang warga negara berfikir bagaimana mengeluarkan saudara
sebangsa dan setanah airnya, bahkan saudara sesama umat manusia untuk
keluar dari krisis moral yang sangat parah dan menuju kehancuran. Buah
dari renungan dan pemikirannya itu, Beliau mendapat petunjuk berupa
wahyu Al Qur'an. Sampai saat ini wahyu tersebut menjadi pegangan hidup
bagi seluruh umat muslim sedunia. Dengan diterimanya wahyu itu,
Muhammad saw menjadi nabi sekaligus utusan-Nya.
Lebih dekat lagi, terbebasnya bangsa ini dari cengkraman penjajahan
Belanda, Portugis dan Jepang beratus-ratus tahun lamanya adalah hasil
doa dan perjuangan pendahulu kita. Kita bisa jadi melek ilmu
pengetahuan karena jasa guru-guru kita dan kita bisa tumbuh dan
berkembang sampai sekarang, bersekolah dan berkarya, karena doa dan
perjuangan orang tua kita.
Kematian pasti akan kita alami. Yang menjadi masalah adalah, apa yang
akan kita tinggalkan untuk anak cucu dan generasi penerus setelah kita
? Apa yang akan dikenang mereka dari diri kita, ketika kita sudah tidak
bersama mereka lagi ? Atau, biarlah kita meninggal tanpa dikenang dan kehidupan kita berlalu begitu saja seolah terlahir atau
tidaknya kita, tidak ada bedanya.
Waktu kami berkunjung ke rumah mertua, tiba-tiba Ibu mertua saya
menawari kami mencoba terapi ion. Kebetulan sebulan yang lalu ibu
dibelikan kakak ipar seperangkat alat terapi tersebut. Sebetulnya saya
agak geli menerima tawaran tersebut dan bertanya-tanya benarkah terapi
semacam itu dapat menghilangkan berbagai macam penyakit termasuk
penyakit yang berat. Tapi tidak apa-apa mencobanya sekaligus
menyenyangkan hati ibu mertua.
Memang, akhir-akhir ini banyak saya lihat spanduk dan brosur yang
mengiklankan pengobatan alternatif dengan terapi ion. Katanya, terapi
ini dapat menghilangkan racun-racun yang ada dalam tubuh dan juga dapat
mengobati berbagai gejala tidak enak badan seperti susah tidur, badan
pegel linu, rematik dan daya tahan tubuh yang lemah. Bahkan dapat juga
menghilangkan (mengurangi) keluhan penyakit-penyakit dalam seperti
ginjal, lever, asam urat dan aliran darah yang kurang lancar.
Terapi ini cukup mudah dan murah. Pasien hanya merendamkan kedua kaki
dengan air garam bersama dengan alat terapi diantara kedua telapak
kakinya. Penyakit yang diderita pasien di diteksi dengan melihat warna
air rendaman, misalnya kalau air rendaman berwarna kuning kehijauan
berarti pasien menderita penyakit ginjal dan saluran kencing lainnya,
kalau coklat kehitaman berarti liver atau gangguan akibat merokok,
warna hijau tua berarti gangguan pada empedu dan sebagainya. Untuk satu
kali terapi biaya yang dikenakan pasien antara 5 sampai 10 ribu. Terapi
akan efektif jika diulang sebanyak 6 kali.
Menjamurnya terapi ion tersebut menggelitik seorang profesor dari salah
satu universitas negri di Surabaya untuk membuktikannya dalam
serangkaian penelitian. Setelah meneliti kandungan air rendaman di
laboratorium, ternyata tidak ada racun didalamnya, air rendaman itu
hanya mengandung leburan logam yang bersal dari elektroda yang
digunakan. Jadi terapi ion itu sama sekali tidak dapat menghilangkan
racun dalam tubuhr
Tapi mengapa penelitian itu berbeda dengan testimoni para pasien yang
pernah menggunakannya ? Berikut tertimoni pasien yang dimuat dalam
salah satu surat kabar nasional.
| Marlina (48 tahun), karyawati sebuah penerbitan di Jakarta, sudah lama susah tidur.Berbagai terapi sudah diikuti, tetapi belum juga terlihat hasilnya. Akibatnya, ia terlihat kurang segar. Untunglah, lewat terapi ion detoks , Marlina bisa tidur nyenyak. Badan pun lebih segar. Katanya, saat didetoks, air rendaman kakinya berwarna cokelat tua. | ||||
| Perasaan dikungkung stres menimpa Rini (40), karyawati sebuah perusahaan asuransi. Seperti halnya Marlina, terapi penghilang stres telah dijalaninya. Sayangnya, semua pengobatan itu tak juga menunjukkan hasil signifikan. Nah, setelah menjalani detoksifikasi sebanyak 3 kali, Rini mampu berpikir jernih. Selain itu, berat badan turun, semula 70 kg menjadi 67 kg. Saat diterapi, warna air berubah menjadi kehitaman dan timbul genangan minyak. | ||||
| Subianto (27) didiagnosis mengalami gangguan hati. Ia merasa nyeri luar biasa bila perut sebelah kanan ditekan dengan jari. Setelah menjalani terapi ion detoks , Subianto tidak merasa sakit lagi. Warna air hasil rendaman kaki Subianto hitam pekat dan terdapat endapan seperti lumut. |
Lebih aman, untuk menghilangkan racun dalam tubuh, banyak-banyak minum
air putih. Racun dan zat-zat lain yang tidak dibutuhkan dalam tubuh
akan dibuang melalui keringat.
Sudah aku bilang. Aku butuh melompat dan berlari. Lompatan-lompatan itu
membangkitkan energiku. Jalan menjadi terang karena energi itu. Kamu
sudah merasakan kan ? Satu dua kali lompatan kemarin membuat jalan kita
terang, tujuan kita semakin nampak. Aku perlu berlari untuk sampai ke
tujuan itu dan membawamu kesana.
Kamu bisa merasakan kan ? begitu nikmatnya melompat dan berlari. Dengan
jalan yang terang dan tujuan yang jelas. Sudah lama kita berjalan dalam
kegelapan, berjalan tanpa arah dan tujuan. Mengejar sesuatu yang tidak
tampak.
Kamu bisa merasakan kan ? Kemarin kita bisa bernafas lega, menghirup
angin yang berhembus, merasakan udara kebebasan yang sejuk. Energi yang
melimpah ruah.
Tapi sekarang. Lompatan-lompatan tidak bisa kulakukan. Bola besi itu
terlalu berat, rantai itu terlalu pendek untuk melompat tinggi.
Jangankan untuk berlari, melangkah saja rasanya sulit sekali. Aku hanya
bisa bergeser, menyeret kaki.
Jalan redup kembali, energi itu tidak muncul lagi. Kembali kita berjalan dalam kegelapan. Tujuan tak terlihat lagi.
Apa sebenarnya maumu dengan memasang pemberat itu. Yang membuatku tidak
bisa bergerak, melompat dan berlari. Atau memang ini tujuanmu.
Menciptakan belenggu-belenggu.